Skip to main content

Penulis: Wahyu Rizki Inandi

Senja turun perlahan di Pantai Sejuk, seolah seseorang tengah menumpahkan warna keemasan ke atas hamparan laut di pesisir barat Sira. Sejuk—bukan sekadar kata yang menyiratkan kesejukan, melainkan nama sebuah pantai berpasir putih yang teduh dan rindang. Pohon-pohon menaungi garis pantainya, sementara ombak datang silih berganti, memecah sunyi dengan irama yang akrab. Banyak orang memilih menghabiskan akhir pekan di sana, bersama keluarga, sahabat, bahkan pujaan hati, menunggu matahari tenggelam sambil membiarkan waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.

Sore itu, Sabtu, 20 Juni 2026, langit tampak cerah. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, membawa aroma asin laut dan suara debur ombak yang tak pernah lelah mengulang dirinya sendiri. Aku duduk di kursi registrasi, menuliskan namaku dalam daftar hadir Beyoung Art Camp 2026 “Baru Jari”. Tinta polpen perlahan mengalir di atas kertas putih. Setelah meletakkan barang bawaan, aku mulai berbincang dengan beberapa kawan yang telah lama tak bersua. Kami menunggu pembukaan dimulai sambil menambal jeda-jeda waktu dengan cerita sederhana.

Beyoung Art Camp tahun ini merupakan penyelenggaraan ketujuh. Dalam sambutannya, Siba, Direktur Program Pasirputih, mengingatkan kembali jejak perjalanan kegiatan tersebut.

“Awalnya kami turun ke sekolah-sekolah menengah dan melakukan diskusi, lalu akhirnya muncul Beyoung Art Camp pada tahun 2013,” ujarnya.

Peserta Beyoung kali ini datang dari beragam latar belakang. Ada pemuda dari STKIP Hamzar, Remaja Masjid, Karang Taruna, hingga kelompok-kelompok pemuda lainnya. Mereka berkumpul atas satu nama: Beyoung—tunas muda yang sedang merajut masa depan Lombok Utara.

Diskusi kepemudaan menjadi pembuka perjumpaan. Mansur Zikri, seorang kritikus seni asal Yogyakarta yang kini menetap di Lombok Utara, memantik percakapan tidak dengan teori-teori yang berat dan berjarak, melainkan melalui sesuatu yang dekat dengan keseharian: lagu kesukaan.

Pertanyaan sederhana itu segera memecah kecanggungan. Para peserta menyebutkan dua lagu favorit mereka, mulai dari karya musisi Sasak hingga musisi nasional dan mancanegara. Zarkawi, seorang pemuda asal Kerujuk, memilih “Sarjana Muda” karya Iwan Fals dan “Paleq Maling” karya Ruhul Jihad.

Ia mengatakan bahwa lagu-lagu tersebut merepresentasikan apa yang ia rasakan dalam kehidupan sosial masyarakat hari ini, terutama di Lombok Utara. “Selain relate dengan konteks hari ini, lagu Paleq Maling ciptaan Ruhul Jihad selalu membawa imajinasi kita untuk bernostalgia dalam setiap aransemen musik,” katanya.

Ketika cahaya matahari benar-benar tenggelam, lampu-lampu kecil mulai menyala. Bintang-bintang bermunculan di sudut-sudut langit Pantai Sejuk. Kami, sekelompok pemuda yang malam itu mengatasnamakan Beyoung, berdiri dan bergerak maju sambil mengeluarkan suara desisan panjang.

“Sssssssssssssssssssssssssshhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.”

Serentak kami berjalan melewati tenda, bambu, dan perahu rusak yang tergeletak di depan. Aku sempat bergumam dalam hati, tidak jelas sekali instruksi Zikri ini. Untuk apa berdesis sepanjang napas sambil berjalan tanpa arah yang pasti? Namun, ada kesenangan yang sulit dijelaskan. Aku tidak melakukannya sendirian. Kami melakukannya bersama-sama.

Tak lama kemudian, sebuah papan plastik berbentuk persegi menyala. Gambar bergerak dan suara mulai memenuhi ruang malam. Semua mata tertuju ke sana. Senyap menggantung tanpa kata.

Film Mama Amamapare karya Yonri Revolt yang dibuat pada tahun 2016 mengendap lama dalam pikiranku. Karya itu menghadirkan ketimpangan dan ketidakadilan yang dialami saudara-saudara kita di ujung timur Indonesia. Aku merasakan kemarahan yang samar namun nyata terhadap rezim yang membiarkan tangan-tangan kapitalis dan para penjilat hanya memetik manisnya hasil, sementara luka yang dirasakan manusia dan makhluk di sekitarnya diabaikan begitu saja. Ironi itu terasa begitu dekat, begitu telanjang.

Malam semakin larut. Dari Berugaq Sekepat, suara penjaga malam terdengar lebih keras dari biasanya. Juanda Ali Syahbana, yang akrab disapa Jho, berbicara lantang mengenai kondisi Lombok Utara hari ini.

Pemuda bertubuh tegap dengan rambut sedikit gondrong itu kerap menginisiasi berbagai aksi bersama kawan-kawannya. Ia mengkritik pemerintah ketika kebijakan yang lahir tidak berpihak kepada rakyat. Salah satu yang ia soroti adalah krisis air bersih di Gili Meno yang telah lama disuarakan kepada para penguasa, namun hingga kini belum juga mendapat langkah strategis.

Jho menekankan bahwa pemuda dan mahasiswa harus terus bergerak, melakukan aksi-aksi yang konsisten dan berisik.

Entah mengapa, malam yang dingin itu perlahan berubah panas. Udara terasa gerah. Kata-kata Jho mengendap menjadi kegelisahan tersendiri dalam diriku.

Pagi datang dengan wajah yang berbeda. Aku terbangun oleh suara ombak dan hembusan angin dari pesisir pantai. Ada keinginan untuk menambah waktu tidur beberapa menit lagi, tetapi aku tak ingin kehilangan satu pun rangkaian acara Beyoung kali ini.

Musik senam tari rudat diputar. Aku mulai menggerakkan tubuh mengikuti instruktur di depan. Gerakanku masih kaku, tetapi aku tetap mengikuti irama, berharap keringat dapat mengusir sisa kantuk yang masih tertinggal.

Setelah senam tari rudah bersama peserta, kami sarapan, lalu melanjutkan diskusi dengan Siba (Direktur Program Pasirputih) dengan mengetengahkan materi tentang performativitas media. Ia menjelaskan perkembangan media sebelum dan sesudah Orde Baru. Dahulu, kata Siba, media banyak dikuasai elit politik dan digunakan untuk melayani kepentingan kelompok tertentu.

Keterbatasan media pada masa itu membuat nama Presiden Soeharto dikenal luas hanya melalui sisi-sisi baik yang dipertontonkan kepada masyarakat, tanpa ruang bagi kegagalan dan keburukan selama rezim tersebut berkuasa.

Kini, sejak Orde Baru berakhir hingga hari ini, produksi informasi bergerak begitu cepat. Berbagai informasi berseliweran tanpa jeda dan harus dipilah serta diuji kebenarannya.

“Bukan hanya memproduksi informasi, namun ia bisa merubah perilaku hidup kita seperti handphone. Ini adalah benda mati namun kadang kita tidak bisa terlepas darinya,” ujar Siba. Aku membayangkan bahwa sebagai apresiator, kita dituntut memiliki bagasi pengetahuan yang cukup untuk membaca video, berita, dan berbagai medium informasi lainnya. Ada video yang mampu menginspirasi, tetapi ada pula yang diam-diam menumbuhkan kemalasan atau memperkuat keyakinan tanpa pertimbangan kritis.

Matahari semakin tinggi. Cahayanya memantul tajam di permukaan laut. Zikri tampak serius mencari beberapa video di YouTube. Huruf-huruf yang muncul di layar monitor kubaca perlahan: J-O-U-R-N-A-L F-O-O-T-A-G-E.

Video pertama memperlihatkan sebuah bajaj yang melaju di tengah kemacetan Jakarta dengan suara mesinnya yang khas dan bising. Di bagian tertentu, audio dan visual dipercepat sehingga menghasilkan bunyi yang keras dan berisik, membuat siapa pun hampir tak tahan menyaksikannya.

Video kedua merekam perjalanan di atas Transjakarta saat hujan turun. Sementara video ketiga adalah sebuah pertunjukan yang menampilkan dua perempuan menyanyikan lagu Kopral Jono dengan gerakan-gerakan tertentu. Di tengah pertunjukan, muncul banyak orang berpakaian hitam. Yang paling menarik bagiku adalah visual di belakang para performer itu: bayangan yang berlapis-lapis dengan gerak tunda yang berbeda-beda.

Dari tiga video tersebut, aku justru semakin banyak bertanya. Ternyata sesuatu yang tampak sederhana dapat menyimpan begitu banyak kemungkinan makna.

Ini adalah kali kedua aku mengikuti Beyoung Art Camp. Pada tahun 2024, kegiatan ini mengusung tema Bebas dalam Batas dan diselenggarakan di Mungkuq Rangsot, Desa Sigar Penjalin. Saat itu kegiatan berlangsung selama lima hari. Tahun ini hanya satu hari. Terlalu cepat, pikirku. Ada perasaan belum puas merayakan perjumpaan dalam waktu sesingkat itu. Meski demikian, rangkaian kegiatannya tetap menghadirkan denyut yang sama: kelas, diskusi kepemudaan, pertunjukan, dan berbagai peristiwa kecil yang membuat kami kembali percaya bahwa menjadi muda bukan sekadar perkara usia, melainkan keberanian untuk terus bertanya dan tidak berhenti bergerak.

***

Angin kembali bertiup kencang, menghapus jejak-jejak semalam. Lagu-lagu mulai dinyanyikan, pertanda Beyoung Art Camp segera usai. Kami menyanyikan beberapa lagu Tree O Amphibi: Durussira dan Gawah Balenta. Setelah itu, kami pun perlahan berkemas. Barangkali, seperti ombak yang tak pernah benar-benar selesai menyentuh pantai, perjumpaan-perjumpaan semacam ini juga tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya mundur sejenak, menyimpan gema percakapan, kegelisahan, dan harapan, lalu menunggu saat yang tepat untuk kembali datang sebagai gelombang berikutnya.

Jejak Waktu di Museum Desa GenggelangReportase

Jejak Waktu di Museum Desa Genggelang

Mashur KhalidMashur KhalidAugust 11, 2025
Online forums and social media platforms can present insightsUncategorized

Online forums and social media platforms can present insights

Hujjatul IslamHujjatul IslamFebruary 19, 2026
Residensi Seniman; Menyusuri Aliran Tiu RotonReportase

Residensi Seniman; Menyusuri Aliran Tiu Roton

Ahmad IjtihadAhmad IjtihadJune 4, 2024