Cerita Ibu An Memenuhi Kebutuhan Di Pengungsian

/, pasirputih/Cerita Ibu An Memenuhi Kebutuhan Di Pengungsian

Hari ke-2, Sabtu 6 oktober 2018, kami menyusuri jalan kampung sembari mengantarkan logistik kepada lansia yang sudah terdaftar di dinas social yang disalurkan melalui pasir putih. Saya, Ifa dan Anna mengarah ke lokasi pengungsian Bu An untuk mengantarkan logistik berupa sembako kepada orang tuanya. Setiba disana, kami tidak menemukan Bu An di rumah, karena sedang keluar mengantarkan ibunya ke Puskemas untuk berobat. Sembari menunggu kepulangan bu An, kami melihat posko pengungsian warga di depan rumah bu An.

Kami bertemu dengan ibu ummu kultsum yang akrab disapa ibu sum, yang saat itu sedang duduk di bawah berugak untuk berteduh dari panas terik matahari setelah masak untuk keluarganya yang sedang membangun huntara yang akan ditempati oleh mertuanya. Ibu Sum tinggaI di Karang Subagan, satu dusun dengan Anna. Kami dengan mudah memulai obrolan tentang kejadian sewaktu gempa terjadi tanggal 5 Agustus 2018 kemarin.

Kami memulai obrolan dari pertanyaan bagaimana reaksi ibu Sum saat bencana Gempa Bumi..?

Ibu Sum mulai bercerita dari keadaan keluarganya saat itu yang sedang berada di ruang keluarga bersama suami dan anaknya. Tiba-tiba gempa bumi datang menyapa warga lombok tanpa permisi, Bu Sum dan keluarganya kaget dan panik berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri agar terhindar dari bangunan rumah yang runtuh. Tiba-tiba keluarga Bu Sum kepikiran anaknya yang paling besar belum pulang ke rumah. Selepas Maghrib, anaknya berpamitan kepada bu Sum untuk menemani temannya membeli sepatu bola di perempatan Pemenang.

Di tengah kepanikan itu, Bu Sum dan suaminya memanggil-manggil anaknya, mencari kesana kemari dan akhirnya bertemu di depan gang masuk rumahya, dibawa oleh adik iparnya yang kebetulan melihat anak bu Sum. Bu Sum bersyukur menemukan anaknya yang dikira tertimbun oleh reruntuhan rumah akibat gempa yang mengguncang Lombok malam itu.

Anaknya bercerita kepada Ibu Sum dan suaminya bagaimana ia menyelamatkan diri ketika gempa. Dia keluar dari ruangan dan sembunyi dibawah reruntuhan rumah. Bu Sum tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur karena anaknya masih dilindungi serta diberikan keselamatan oleh Tuhan.

Setelah berkumpul dengan anggota keluarnya, Ibu Sum mendengar ada isu air pantai naik atau tsunami dengan ketinggian gelombang kurang lebih 2 sampai 4 meter, keluarga bu sum dan warga setempat sangat panik. Semua warga pemenang berhamburan berlarian kesana kemari mencari dataran tinggi untuk mereka naiki sehingga tsunami tidak mengancam kehidupan mereka, warga berlarian menuju bukit di belakang polsek Pemenang padahal saat itu gempa masih berlangsung. Karena terlalu panik warga saling sikut, banyak yang terjatuh dan mengakibatkan yang luka tambah luka, yang tidak luka menjadi luka.

Setelah di atas bukit, warga mulai merasa aman dari ancaman tsunami yang akan datang menghampiri mereka. Tetapi gempa bumi masih terus berlangsung sampai terbit fajar sehingga warga tidak bisa tidur dalam kondisi itu. Selain itu, bu Sum dan warga pemenang tidak membawa perlengkapan untuk tidur atau alas buat tidur.

Malam itu, warga Pemenang mengharapkan fajar terbit lebih awal agar mereka bisa pulang untuk mengambil bekal dan membawa perlengkapan tidur meskipun sudah tertimbun reruntuhan rumah. Saat itu, warga mencari apa yang bisa dipakai dan bisa dimanfaatkan untuk dibawa  ke bukit pengungsian.

Warga juga berinisiatif mencari bekal untuk memenuhi kebutuhan makanan selama  di bukit pengungsian sebelum bantuan datang dari orang orang atau pemerintah. Warga mencari makanan, perlengkapan, p3k dan apa saja yang bisa dibawa, sampai membobol  warung, toko dan  supermarket untuk mencari pasokan makanan. Pembobolan ini dilakukan setelah mendapat izin dari pemilik warung atau supermarket. Semua bahan makanan itu dibawa ke pengungsian dan dapat memenuhi kebutuhan makanan satu hari setelah gempa.

Malam datang kembali menyelimuti ketakutan warga. Drama gempa pada malam kemarin, seolah-olah terulang lagi menghantui warga. Tak seorang pun yang berani turun untuk memeriksa atau mencari sesuatu dibekas reruntuhan rumahnya. Warga ketakutan, trauma dan tidak berani lagi untuk sekedar turun pulang ke rumah mengambil sesuatu, sampai-sampai setiap malam warga tidak pernah tidur karena ketakutan akan datangnya gempa dan tsunami. Waktu itu juga bu Sum dan keluarganya jarang tidur dan ketakutan masih menghantuinya. Bu Sum selalu terbayang akan kejadian gempa itu dan meminta kepada Tuhan agar bencana gempa bumi tak terulang lagi di Lombok.

Matahari terbit di ufuk timur. Warga memberanikan diri bergegas turun untuk membuat tenda tempat tidur yang akan mereka tinggali, karena jika terus berada di atas bukit maka bantuan kemanusiaan yang akan datang dan kebutuhan logistik yang diperlukan akan sulit didapatkan. Para kepala keluarga atau suami mencari terpal, bambu dan bahan-bahan pembuatan tenda, sedangkan para ibu-ibu rumah tangga membagi tugas secara bergiliran untuk memasak makanan yang akan dimakan bersama setelah selesai membuat tenda pengungsian.

Ada pula sebagian warga yang mengambil sisa-sisa barang bekas reruntuhan untuk dibawa ke tenda, dan banyak juga warga yang membawa harta bendanya ke pengungsian. Hal ini dilakukan warga untuk mengantisipasi kehilangan barang berharga karena banyaknya isu penjarahan dan maling.

Selain Ibu Sum bercerita tentang bagaimana kondisi gempa yang membuat warga panik, ibu Sum juga bercerita tentang kudanya mati yang tertimpa reruntuhan bangunan rumahnya. Selama ini, keluarga bu Sum bergantung dari kudanya, karena pundi-pundi penghasilan suami bu Sum berasal profesi suaminya sebagai penarik cidomo. Oleh karena itu, perekonomian bu Sum sampai saat ini belum stabil. Selain suaminya yang bekerja. Bu Sum juga membantu perekonomian keluarga dengan membuka pencucian baju atau laundry. Namun, sampai sekarang usaha bu Sum belum kembali normal.

Untuk kebutuhan saat ini, seperti belanja atau sekedar uang jajan anaknya, bu Sum memenuhinya dari hasil penjualan cikar yang telah dijualnya seharga 700ribu. Menurut saya, harga jual cikar itu masih terlalu murah dibandingkan harga normal yang berkisar 3juta-an.

Ketika kami asik bercerita dengan bu Sum, datanglah seseorang yang mendekati kami lalu duduk bersama di berugak dimana kami dan bu Sum bercerita. Lalu dia memperkenalkan dirinya kepada kami, namanya ibu Hayati, tinggal di Karang Sundar dan dia berprofesi sebagai kader Puskesmas. Bu Hayati sebelumnya mengikuti banyak pelatihan bercocok tanam dan memanfaatkan tumbuhan obat melalui pertemuan-pertemuan yang diikutinya.

Bu Hayati begitu antusias menceritakan pengalamannya saat gempa, sontak kami menanyakan apa yang ia lakukan saat kejadian tersebut. Bu Hayati menceritakan dirinya dan keluarganya, waktu itu bu Hayati sedang menyiapkan hidangan makan malam bersama keluarganya lalu gempa datang dan bu Hayati mengira bahwa gempa tersebut kekuatannya tidak besar, bu Hayati dan keluarganya hanya terdiam di dalam ruangan untuk bersiap-siap menyantap makan malam bersama keluarganya. Namun, ternyata gempa semakin besar dan bu Hayati beserta keluarganya berlari keluar untuk menghindari plafon rumah yang mau terjatuh, tembok rumahnya mulai retak dan dinding rumah hampir ambruk akibat gempa yang semakin besar.

Tiba-tiba warga berteriak tsunami, bu Hayati  yang mendengar teriakan warga, seketika panik lalu berlari tanpa kenal lelah dan tidak sadarkan diri, bu Hayati beserta  keluarganya mencari dataran tinggi untuk  menyelamatkan diri dari tsunami. Sesampainya di dataran tinggi, bu Hayati merasakan kakinya perih dan mengeluarkan darah, ketika bu Hayati melihat kakinya, bu Hayati tersadar kalau kakinya tergores sebilah batang pohon jagung, bekas goresan di kakinya cukup besar. Bu Hayati berusaha menahan kesakitan karena luka di kakinya itu.

Saat itu, gempa terus berlangsung sampai pagi dan bu Hayati beserta keluarganya berharap matahari terbit lebih pagi, sehingga bu Hayati dan keluarganya bisa turun dari bukit untuk mencari obat buat penanganan luka yang dialami bu Hayati.

Akhirnya fajar menjelang, suami bu Hayati mulai mencari perlengkapan dan simpanan logistic yang tertimbun reruntuhan rumahnya untuk memenuhi kebutuhan bu Hayati dan keluarganya yang sedang berada di atas bukit.

Namun, bu Hayati tidak menemukan P3K untuk mengobati lukanya, akhirnya bu Hayati berinisiatif untuk mengobati lukanya menggunakan obat-obatan herbal yang diketahuinya. Bu Hayati mencari daun PKI dan daun bidara untuk diolah menjadi obat penambal luka dan mengurangi rasa sakit.

Setelah bu Hayati meracik obat untuk lukanya, dan suaminya berhasil mengumpulkan kebutuhan yang akan dibawa ke atas bukit, mereka segera bergegas pergi meninggalkan rumah dan kembali ke pengungsian diatas bukit.

Matahari mulai tenggelam dan malam menghampiri. Bu Hayati, keluarganya dan warga kembali panik dan ketakutan. Bu Hayati dan warga masih teringat kejadian gempa yang telah meluluh lantakkan rumah-rumah mereka. Saat malam di atas bukit, warga bersama-sama mengagungkan serta melantunkan kalimat-kalimat yang meng-Esakan Tuhan, dan berdoa agar terhindar dari bahaya-bahaya yang menghampiri mereka.

Malam kembali terlewati. Bu Hayati, keluarganya dan warga turun dari bukit untuk mencari kebutuhan pembuatan tenda di lapangan, untuk menghindari cuaca dingin, binatang-binatang melata yang berkeliaran, kesehatan yang mulai menurun dan untuk mendapatkan bantuan logistic dengan cepat.

Setelah warga turun dari bukit dan mendapatkan sumbangan dari keluarga terdekat, berupa terpal dan sedikit logistik, bapak-bapak mulai membuat tenda pengungsian yan diisi oleh puluhan orang. Saat itu, pasokan bantuan dari relawan atau penyumbang masih belum terkoordinir, warga hanya menunggu bantuan dari para keluarga yang di luar daerah Pemenang saja. Apalagi warga sangat membutuhkan terpal dan logistik dengan jumlah yang banyak karena banyaknya pengungsi di lapangan.

Selang beberapa jam, tenda pengungsian selesai. Bu Hayati bersama ibu-ibu memasak dan berinisiatif memanfaatkan tumbuh-tumbuhan disekitar yang bisa dimakan seperti daun kelor, dan daun sager (daun katuk). Bu Hayati dan ibu-ibu lainnya juga memanfaatkan buah mangga untuk dijadikan rujak sehingga menambah lauk pauk warga, dan bisa jadi menambah nutrisi dan vitamin untuk bapak-bapak, karena tak mungkin juga ibu-ibu hanya memasak nasi, mie instan dan telur untuk dijadikan lauk.

Pasca gempa bumi, ternyata tumbuhan dan sayuran banyak diminati warga, terlihat juga ketika harga sayuran dan tumbuhan di pasar naik hingga 30% dari harga normalnya, yang biasa seharga 1000 perikat. Sekarang naik menjadi 5000 kita dan hanya mendapatkan 3 ikat sayuran.

Dari kejadian tersebut bu Hayati tersadar bahwa pentingnya tumbuh-tumbuhan saat berada di pengungsian. Sekarang bu Hayati dan bu Sum akan kami ajak untuk kembali menanam dan menjalankan program yang kami bawa. Kegiatan ini juga bisa menjadi alternatif pemulihan akibat trauma yang dialami setelah gempa. Bu Hayati dan bu Sum antusias mendengar kabar dari kami tentang program yang akan dilaksanakan.

Kami terlalu lama menunggu kepulangan bu An yang pergi mengantarkan orang tuanya ke Puskesmas, kami pun lupa waktu, ternyata terik panas mulai menyengat dan alunan adzan sudah terdengar menandakan sudah jam 12 siang, watunya kami harus balik ke huntara pasirputih.

Setelah kami berpamitan kepada bu Sum, bu Hayati serta orang-orang disana kami langsung beranjak pulang. Kami akan kembali kesana lagi untuk menemui bu An sore hari. Sesampainya di huntara pasir putih, kami makan bersama dan istirahat sejenak untuk melepas penat sembari menunggu waktu adzan sore.

Tibalah sore, sesudah Saya Ifa, Ana, Hanani dan Onyong selesai solat, kami bersiap-siap untuk pergi ke rumah bu An dengan membawa logistik berupa sembako yang sudah terdata dinas sosial khusus untuk orang tua atau sudah lansia yang di salurkan melaui pasirputih.

Setelah itu, kami berangkat menuju rumah kedua bu An untuk menemuinya sambil mengantarkan logistik khusus lansia. Setiba kami di rumah bu An, kami langsung dipersilahkan untuk duduk di depan rumah bu An yang baru jadi beberapa minggu belakangan. Bu An langsung menyuruh anaknya membelikan kami minuman untuk menemani kami berdiskusi.

Obrolan dimulai. Kami menanyakan bagaimana tanggapan bu An tentang gempa dan bagaimana keberlangsungan hidup bu An ketika di pengungsian..?

Bu An langsung memulai ceritanya. Waktu kejadian gempa pada malam Senin tanggal 5 agustus 2018, bu An berada di desa Midang menemui orang tuanya, jadi bu An tidak merasakan bagaimana guncangan dan kehisterisan warga Pemenang waktu itu, karena di Midang tidak begitu besar guncangan gempanya ketimbang di Pemenang Lombok Utara dan sekitarnya.

Saat itu, bu An langsung mengabarkan keluarga serta tetangga di Pemenang tentang gempa yang terjadi waktu itu, bu An amat panik karena bu An tahu kalau ibu mertuanya yang sudah tua renta (lansia) sendirian di kamar dan mengunci pintu. Bu An langsung menghubungi nomor telepon keluarganya di Pemenang untuk menanyakan kondisi mertuanya.

Setelah mengetahui kondisi mertuanya melalui keluarga dan tetangga, kekhawatiran dan ketakutan bu An sedikit berkurang. Keluarga bu An menceritakan apa yang terjadi pada mertuanya. Keluarga bu An bilang, jika mertua bu An memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidurnya meskipun kondisi fisik mertua bu An sangat lemah, mertua bu An turun dari tempat tidurnya dengan cara merangkak untuk mencari jalan keluar, meskipun dalam kondisi itu mati lampu. Mertua bu An sangat histeris dan panik dalam keadaan seperti itu. Untungnya ada keluarga dan tetangga bu An yang melihat keadaan mertuanya. Keluarga bu An langsung meminta bantuan kepada tetangga untuk membantu membawa mertua bu An ke pengungsian.

Setelah gempa malam itu, bu An tidak berani untuk pulang ke Pemenang karena akses jalan di Pusuk longsor yang diakibatkan oleh gempa bumi. Bu An, orang tua beserta keluraganya yang di midang juga pergi mengungsi ke tanah lapang sehingga terhindar dari reruntuhan rumah. Gempa bumi malam itu juga menyebabkan rumah-rumah warga disana retak. Saat mengungsi, bu An dan warga Midang tidak membawa apa-apa, karena panik dan warga tidak berani bersiap siap membawa alas untuk tidur dibawa ke tempat pengungsian.  Beberapa jam setelah gempa ada keluarga bu An yang memberanikan diri untuk pulang mengambil alas tidur dan selimut untuk dibawa ke pengungsian.

Malam itu begitu mencekam karena situasi yang mengerikan dan bu An juga memikirkan mertuanya di Pemenang yang sendirian. Bu An tidak tidur semalaman, ditambah lagi dengan gempa bumi yang terus-terusan berlangsung. Bu An memikirkan kapan matahari terbit, sehingga bu An bisa pergi ke pemenang dan menemui mertuanya.

Matahari memancarkan sinarnya kepada warga pengungsian, memberi tanda pagi telah datang. Bu An terbangun dan segera melaksanakan solat subuh, bu An dan anaknya bergegas untuk pulang ke Pemenang dan melihat kondisi keluarganya.

Selama di perjalanan, bu An melihat kondisi rumah-rumah warga di Wadon dan di Kekait  setelah gempa tadi malam, rumah warga hancur lebur berkeping keeping. bu An muelai khawatir lagi dengan kondisi rumah dan keluarganya di Pemenang. Bu An mengira rumahnya juga habis dan hancur akibat gempa.

Setelah sampai di Pemenang, bu An langsung pulang ke rumah dan mencari ibu mertuanya. Bu An tidak menemukan mertuanya di rumah. Bu An hanya menemukan dan melihat rumahnya yang retak serta barang-barang di dalam ruangan habis terjatuh dan berserakan ke lantai.

Bu An menanyakan kepada tetangga, dimana mertuanya berada. Tetangga bu An memberi tahu  jika mertuanya mengungsi di atas bukit. Bu An langsung mencari mertuanya ke atas bukit dan membawanya kembali ke bawah, lalu keluarga bu An membuat tenda di kebun miliknya, sebab jika diatas bukit,  bu An tidak bisa mendapatkan air untuk kebutuhan saat itu, bu An beserta keluarganya memberanikan diri untuk membuat tenda di halaman kebun miliknya.

Setelah tenda bu An dan keluarganya jadi, bu An juga mengajak tetangga-tetangga terdekatnya untuk tidur di tenda yang telah dibuat. Tetangga-tetangga menyetujui ajakan bu An untuk ikut tidur di tendanya. Meskipun tendanya berukuran kecil yang hanya bisa memuat 35 jiwa, tetapi saat itu tenda pengungsian bu An di huni oleh 45 jiwa.

Tetangga bu An yang tidak kebagian tempat tidur, berinisiatif mencari peralatan untuk membuat tenda agar bisa mereka tempati dan bisa mencukupi tempat tidur pengungsian di kebun bu An. Saat itu juga, bantuan belum datang sehingga warga hanya bisa memakai bekas reruntuhan rumah mereka untuk membuat tenda.

Lalu kami menjeda cerita bu An, kami bertanya darimana dapat bantuan kemanusiaan berupa sembako dan perlengkapan pasca kejadian pada malam 5 agustus 2018..?

Bu An bercerita kepada kami bahwa ia dan warga yang mengungsi di kebun tidak mendapatkan logistik dan sembako selama 2 hari. Bu An dan warga yang mengungsi disana hanya memanfaatkan pasokan makanan yang sudah bu An simpan di rumah berupa beras, mie instan, telur, sayur dan daging. Pada kondisi itu, bu An berbagi dengan tetangga. Bu An mengatakan “makanan saya makanan mereka juga, karena disaat kondisi itu meraka tidak punya apa-apa dan mereka hanya mempunyai beras untuk dimasak”.

Kami sontak kaget lalu menanyakan bantuan-bantuan yang selama ini mengalir diarahkan kemana..? bu An mengatakan, “jika kami tidak pernah tahu kalau bantuan datang dan mengarah kemana, kami disini juga tidak ada yang tahu sebab kami tersembunyi, sehingga relawan atau bantuan kemanusiaan tidak pernah sampai sini”.

Jadi selama bantuan logistic belum datang, bu An hanya memanfaatkan simpanan makanan yang ada rumahnya. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan serat makanan warga disana, bu An dan warga yang mengungsi disana juga memanfaatkan hasil tanaman seperti terong, cabai, tomat, kelor dan botor yang ditanam di sawah milik orang Budha yang dekat dengan pengungsian bu An.

Setelah bu An dan warga mengungsi di kebun milik bu An tidak pernah mendapatkan bantuan selama 2 hari, bu An mengajak warga pengungsi untuk mencari bantuan kepada relawan atau meminta bantuan kepada posko dibelakang polsek Pemenang.

Bu An mengutarakan kejadian yang telah dialaminya bersama warga pengungsian di kebun, maka relawan dan warga langsung memberikan bantuan berupa logistik dan kebutuhan lainnya yang diperlukan disana.

Setelah mendengar cerita bu An, kami memberi tahu program yang akan kami lakukan. Bahwa kami ingin menanam kembali. Bu An mengijinkan kami untuk meminjam lahan kebun yang dimilikinya untuk ditanami sayuran secara bersama-sama. Bu An juga berkenan mengikuti program yang kami bawa.

Hari mulai tenggelam dan suara adzan berkumandang, kami menurunkan logistik atau sembako khusus lansia yang akan diberikan kepada mertuanya. Dan kami pamit pulang menuju huntara pasir putih.

 

By | 2018-10-10T04:21:04+00:00 October 8th, 2018|Journals, pasirputih|0 Comments

About the Author:

mm
Pahrul Fiqi Izomi. Lahir, 28 September 1998 adalah salah satu relawan pasirputih yang aktif berkegiatan dan bersukarelawan pasca gempa Lombok. ia juga merupakan pemuda yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di Dusunnya.

Leave A Comment