Cerita Ibu Juz dan Rumah Sayur Pasca Gempa

//Cerita Ibu Juz dan Rumah Sayur Pasca Gempa

Assalamualaikum.. Wr.. Wb..

Awalnya saya dikenalkan oleh bang Siba dengan Afifah Farida yang berasal dari Pekanbaru, Riau. Ifa pergi menuntut ilmu ke IPB ( INSTITUT PERTANIAN BOGOR ). Disana, dia kuliah mengambil jurusan pertanian dan sampai saat ini dia masih bergelut dengan tumbuh-tumbuhan yang sesuai dengan bidang pengetahuannya, dan semoga ilmu darinya bermanfaat dan bisa saya adopsi seutuhnya. Amiien..

Setelah berkenalan gini gono, kami mulai akrab karena berada dalam satu lingkup tempat tinggal di hunian sementara (huntara). Kami diskusi untuk rencana selanjutnya tentang aktivitas yang akan kami lakukan ke masyarakat dalam jangka waktu 3 bulan selama Ifa berada di Lombok. Teman-teman pasir putih bersama Ifa memiliki strategi untuk kembali mengajak warga memanfaatkan tumbuh-tumbuhan, sayuran, dan segala jenis tumbuhan herbal yang ada disekitar.

Afifah Farida, Inisiator SayuranKita Pekan Baru.

Sore ini tanggal 5 Oktober 2018, kami berempat, saya, Ifa, Maskanah dan Anna mengunjungi rumah sayur yang terletak di dekat basecamp pasir putih.  Alhamdulillah kami dapat menemui bapak Ahyadi dan ibu Jus, istri Pak Ahyadi. Rumah sayur adalah inisiatif dari Pak Ahyadi dan Bu Jus untuk memanfaatkan pekarangan rumah dengan berbagai tanaman yang dimulai sejak ada kegiatan Aksara Tani di Gili Meno akhir tahun 2017 lalu.

Sesampainya di rumah sayur, kami dihidangi kripik singkong dan air kelapa yang diwadahi rombong (wadah es). Kami berbincang-bincang tentang gempa, tanaman dan kehidupan warga saat di lokasi pengungsian, serta apa saja yang bisa warga manfaatkan ketika di lokasi pengungsian untuk logistic atau untuk membangun tenda. Entah itu barang, tumbuhan dan lain-lain, yang bisa mencukupi atau sekedar untuk kebutuhan sehari-hari sebelum bantuan dari pemerintah datang. Tidak berapa lama, obrolan semakin seru, terutama ketika membahas tentang konflik-konflik yang terjadi selama di pengungsian. Tak ayal karena saat itu kondisi warga kebanyakan mengisi perutnya hanya dengan sebungkus mie instan campur telur, suasana tenda yang panas, sempit dan diisi oleh puluhan jiwa, dan kotor dimana-mana. Kondisi seperti itu menimbulkan berbagai penyakit yang rentan menyerang warga, contoh kecilnya mules, diare dan lain-lain, karena tak ada vitamin dan serat alami yang dapat dimakan warga saat itu dan logistik yang belum tersalurkan secara merata, sehingga menimbulkan emosi dan amarah-amarah kecil antar warga.

Berbincang bersama pungawa Rumahsayur.

Namun, ada cerita yang menarik dari keluarga kecil bu Jus pasca gempa yang terjadi tanggal 5 Agustus 2018 lalu. Saat itu, bu Jus belum mendapatkan bantuan logistik dari pemerintah, saudara atau darimanapun. Tetapi mereka bisa memenuhi kebutuhan makannya dari bahan makanan yang bisa diambil dari sisa reruntuhan. Selain itu, halaman rumah bu Jus yang dipenuhi dengan tanaman terong dan cabai, juga dapat memenuhi kebutuhan logistiknya. Tidak hanya bu Jus, tetapi beberapa orang tetangga juga dapat menikmatinya. Barulah, 2-3 hari kemudian, bu Jus mendapat bantuan dari keluarga terdekatnya yang berasal dari Lombok Timur. Bantuan yang diperoleh bu Jus berupa beras, telor, dan juga sayuran seperti kangkung, tomat, cabai, dan sayuran lainnya.

Tanaman cabai yang tersisa di Rumah Sayur pasca gempa 5 Agustus 2018.

Dari pengalaman itu, Bu Jus dan Pak Ahyadi bersyukur telah mulai menanam di pekarangan rumahnya. Karena pada kondisi gempa yang saat itu mengalami kesulitan bahan makanan terutama sayuran, Bu Jus dan Pak Ahyadi masih bisa memakan sayuran yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Bu Jus juga bercerita bahwa menanam dapat mengurangi pengeluaran  uang bulanan untuk membeli bahan-bahan dapur. Cerita ini memberikan saya pengalaman bahwa bertani dapat membuat warga menjadi mandiri, tidak melulu tergantung dan menunggu bantuan.

Malam mulai menyapa, alunan adzan mulai terdengar seolah menandakan obrolan kami harus dicukupkan sampai disini. Sebelum bergegas pulang, kami berencana untuk mengadakan kegiatan selanjutnya.

Tunggu cerita selanjutnya!

By | 2018-10-07T08:13:33+00:00 October 7th, 2018|Aksaratani|0 Comments

About the Author:

mm
Pahrul Fiqi Izomi. Lahir, 28 September 1998 adalah salah satu relawan pasirputih yang aktif berkegiatan dan bersukarelawan pasca gempa Lombok. ia juga merupakan pemuda yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di Dusunnya.

Leave A Comment