ArtQuake; Menyumbang Rasa, Berbagi Bahagia (Call For Heart)

//ArtQuake; Menyumbang Rasa, Berbagi Bahagia (Call For Heart)

Re-Post www.pasirputih.org.

Sejak terjadinya gempa pada 5 Agustus 2018 lalu, Pasirputih sebagai salah satu komunitas yang bergerak di bidang literasi media, pengarsipan, studi kesenian dan kebudayaan seolah samar karena fokus pada penyaluran bantuan kemanusiaan berupa logistik dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan hidup warga. hampir satu minggu sejak terjadinya gempa bumi yaitu mulai dari tanggal 7 – 13 agustus 2018.

Pasirputih mencoba mengaktivasi kerja kesenian dengan menginisiasi sebuah program yang di beri nama ARTQUAKE Call For Heart yang merupakan sebuah gerakan merespon fenomena kebencanaan (gempa bumi) dengan kaca mata kesenian yang dibingkai melalui berbagai macam bidang kesenian untuk memberikan edukasi psikologi kepada warga terdampak gempa Lombok. ArtQuake  pada awalnya membuka peluang bagi para penggiat seni untuk berbagi rasa dan berbagi kebahagiaan dengan modal kepedulain terhadap sesama (Humanisme).

Gagasan ini kemudian direspon positif oleh kawan-kawan seniman dengan menawarkan diri untuk berbagi kepada warga. Kawan-kawan yang ikut serta berbagi rasa dalam program ArtQuake adalah sebagai berikut: Pak Emi Ki Dalang Wayang Sasak dengan lakon kemerdekaan di tengah pengungsian. Muhammad Hujjatul Islam dengan gerilya rupa, Wang atau yang lumrah di sebut Dacko dengan projek mural pada pagar MCK Darurat. Reva (RevaArt) dengan Hope Behind The Wall, Daniel Emet dengan The Giant Mural dengan Hope Behind The Wall #2, Konser tree O Amphibi dan pelatihan tari ratoh Jaroe oleh Prashasti WP dari Forum Lenteng.

Poster

ArtQuake yang dilangsungkan oleh Pak Emi adalah sebuah pertunjukan jaya ningrat turun gunung denga lakon kemerdekaan di tengah pengnungsian. Gagasan pak emi begitu sedehana, selayaknya pertunjukan wayang yanag lainnya, ditengah jenaka llakon yang dimainkan, si dalang selalu menyisipkan pesan moran dan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat difahami sebagai nasihat yang baik bagi para penontonnya.

Pak Emi sendiri adalah salah satu seniman yang terlibat pada Bangsal Menggawe 2016 sebagai seniman tari. Pak Emi Berdomisili Di Dusun Dasan Utama, Desa Sesela, Kec. Gunungsari, Lombok Barat. Kini ia aktif mengelola sekolah pedalangan wayang sasak dan  dan memberikaan pengajaran kepada pemuda tentang seni dan kebudayaan lokal

Poster

Muhammad Hujjatu Islam dengan program Gerilya Rupa. Gagasan jatul dalam program ArtQuake  ini adalah dengan mengajak anak-anak di pengungsian untuk berlajar melukis pemandangan sekitar. Usai menggambar, anak-anak diminta untuk menceritakan pemadangan yang digambarnya, ketertarikan menggambar objek tersebut lalu jatul memberikan pesan tentang bagaimana menjaga lingkungan sekitar agar tetap lestari dan hijau.

Paemran Griliya Rupa

Jatul menjalankan program grilya rupa di berbagai titik pengungsian yaitu di Dusun Kakol, Tebango Bolot, Tanaq Ampar, Bilok Guna Dan Kandang Kaoq. Setelah proses kekaryaan selesai, jatul pun mengadakan pameran karya yang dilakukan ditiap titik pengungsian yang didatangi. Pameran tersebut merupakan bentuk apresiasi karya bagi anak. Selain itu, jatul juga memberikan seperangkat alat gambar kepada anak yang mengikuti kegiatan dengan serius dan bagi anak yang memiliki karya terbaik. Walau pada akhirnya semua anak diberikan peralatan yang sama. 🙂

Poster

 

The Dacko dengan projek mural di dinding MCK Darurat dengan nama Gemar Gambar. Gagasannya sederhana yaitu agar MCK terlihat menarik dan unik. Dacko memainkan semprotan piloknya pada beberapa unit MCK yang disalurkan oleh Pasirputih. Hingga saat ini pasirputih telah membuat MCK Darurat bagi warga terkena dampak gempa sebanyak 9 unit yang tersebar di beberapa lokasi pengungsian.

Poster

Reva adalah salah satu mahasiswa UIN Mataram yang aktif di BKSM Saksi yang merupakan  salah satu Organisasi Intra Kampus UIN Mataram. Reva menamai dirinya dengan RevaArt. Dalam program ini ia memiliki projek mural dengan tema Hope Behind The Wall. Gagasan mural di tembok merupakan sebuah refleksi upaya edukasi terhadap warga yang takut terhadap tembok akibat dari kejadian gempa yang menimpa mereka. Mural yang dilakukan reva diinstal pada medium tembok bangunan gedung bulutangkis di area pengugsian belakang Polsek Pemenang.

Poster

Selain Reva ada juga Daniel Emet(@Emeteur) yang merupakan salah satu seniman yang terlibat pada Bangsal Menggawe 2017 dengan projek Cidomo. Daniel Emet adalah salah satu Street Artis yang cukup ternama, ia sering mendapatkan projek mural di caffe, barber, hotel dan lainnya. dalam program Art Quake ini, Daniel Emet melanjutkan gagasan Reva dengan merespon tembok bangunan gedung bulu tangkis di pengungsian belakang Polsek Pemenang dengan The Giant Mural Hope Behind The Wall #2.

Emet menggambar sebuah ilustrasi kebersamaan dengan kalimat “Silaq Ta Ponggoq Bareng-banreng” (Mari kita pikul bersama-sama) dengan menggambarkan Maskot warga Pemenang yaitu Lalu Muhammad Zohri sang juara lari 100 M di Finlandia. selain memberikan refleksi agar tembok tidak lagi terliahat menakutkan ia juga memunculkan pesan yang dapat menggugah warga untuk bergotong royong, menerima bencana sebagai teguran untuk bangkit dan lebih semangat.

Tree O Amphibi Aadalah seuah flatform musik folk yang muncul sejak tahun 2015. Awalnya Tree O Amphibi adalah sebuah panggilan akrab dari Soemantri Gelar seorang seniman Video Maker dari Jakarta kepada tiga orang Partisipan pasirputih yaitu, Oka, Onyong dan Dani.

Poster

Setelah itu, Tree O Amphibi bermetamorfosa menjadi sebuah grup band anak muda yang memiliki keresahan dalam bermusik, karena musik sesunggunya adalah kebahagiaan dan edukasi. Tree O Amphibi memiliki aliran offside Contemporary Art dengan jargon “Mengolahragakan robot dan mengedukasikan masyarakat” yang di bai’at pada Kegiatan Beyoung Art Camp #3 dan Silatutrahmi Lingkar Seni Wallacea tahun 2017  oleh sekumpulan seniman Indonesia timur, JaF dan akumassa.

Live konser di pengunsian belakang Polsek Pememang

Dalam Program ini, Tree O Amphibi menggelar konser trauma healing di camp pengungsian belakang Polsek Pemenang. Mengajak warga bernyanyi bersama mendendangkan lagu-lagu yang mudah dihafal dan konten(lirik)nya sangat dekat dengan kehidupan warga Pemenang.

Setelah itu ada pertunjukan tari Ratoh Jaroe yang memrupakan tarian khas Aceh yang dilakukan oleh Barisan perempuan, Karena jika dilakukan oleh lelaki namanya tari saman. Selain itu jika barisan saman harus ganjil, maka barisan tari Ratoh Jaroe berjumlah genap.

Poster

Tari Ratoh Jaroe diajarkan kepada anak-anak di pengungsian Polsek Pemenang oleh Prashasti Wilujeng Putri yang merupakan salah satu partisipan Forum Lenteng  yang tengah bersilaturahmi ke Pasirputih dalam rangka persiapan Bangsal Menggawe 2018. Asti Panggilan akrabnya. Asti datang bersama Maria dan Otty. Selain membicarakan Bangsal Menggawe 2018 mereka juga mengarsip kondisi Kecamatan Pemenang pasca gempa. Di waktu luang, Asti menyempatkan diri untuk berbagi bersama anak-anak di pengnungsian dengan melatih tari Ratoh Jaroe. Konsep tari ini menekankan pada kekompakan gerak, kebersamaan dan pujian-pujian kepada tuhan. Dalam beberapa lantunan sya’irnya, terdengar suara “Lombok Bangkit sejahtera”.

Pada malam pagelaran tari ini, warga begitu antusias. Walau tenda di pengungsian Belakang Polsek Pemenang sudah mulai dibongkar warga tetap datang untuk menyaksikan pentas tari tersebut. dalam acara tersebut dimeriahakan juga oleh Tree O Amphibi, Brimob SUMUT yang bertugas dan warga Pemenang yang ikut mengitari api unggun dengan bernyanyi dan berjoget.

ArtQuake akhirnya menjadi Psiko-edukasi dan psiko-sosial tentang kebencanaan melalui pendekatan seni. Sehingga dalam beberapa kali projek ArtQuake yang dilangsungkan oleh kawan-kawan seniman bersama warga meninggalkan kesan baik berupa pengetahuan tentang kebencanaan atau pemaknaan terhadap Nilai-nilai kemanusiaan.

 

By |2018-09-28T01:45:17+00:00September 28th, 2018|Journals|0 Comments

About the Author:

mm

Leave A Comment