7,0 Magnitudo, “di Perbukitan Kami Berjaga Menunggu Fajar”

//7,0 Magnitudo, “di Perbukitan Kami Berjaga Menunggu Fajar”

Sejak terjadinya gempa bumi hampir 2 bulan lalu yaitu pada tanggal 5 Agustus 2018 kami belum sempat untuk mengabarkan kepada pembaca tentang perkembangan informasi seputar pemenang.  sejauh ini  kawan-kawan Pasirputih tengah melakukan  penyaluran bantuan kemanusiaan terhadap warga terdampak gempa. namun aktivitas pasirputih sejak terjadinya gempa bumi tersebut dapat kawan-kawan akses pada akun instagram pasirputih yaitu IG @Pasirputih_Pemenang

https://www.instagram.com/pasirputih_pemenang/

5/08/2018, Tejadinya gempa bumi menggoncang Lombok dan sekitarnya mengakibatkan dampak yang cukup besar bagi warga. gempa bumi yang melanda pulau Lombok dengan kekuatan 7 Magnitudo pada pukul 19: 46  Wita. Pusat gempa berada di 18 KM barat laut Lombok Timur dengan kedalaman 32 KM. Pada saat itu kami tengah berada di kantor Yayasan Pasirputih yang bertempat di Dusun Mekarsari, Desa Pemenang Barat, Kec. Pemenang Lombok Utara.

Selepas senja pukul 18.32 Wita, saat itu kami baru pulang menikmati juz buah dari pedagang juz di perempatan Pemenang. Malam senin  merupakan jadawal live Moto GP di salah satu siaran televisi nasional. kami berkumpul di sekretariat untuk menyelesaikan beberapa rancangan yang akan dilaksanakan di bulan agustus ini. ada beberapa program yang telah di bicarakan. Diantaranya, kegiatan bedah buku “Sore Kelabu di Selatan Singkarak” karya Albert Rahman Putra salah satu kawan dari Padang sebagai penggiat kebudayaan sekaligus sebagai direktur komunitas Gubuak Kopi di Solok-Padang. sejak pertengahan Juli 2018 ia melakukan riset tentang kebudayaan Lombok.

Rencananya, kegiatan bedah buku akan dirangkai dengan lokakarya penulisan yang bertema “Kisah Dari Kampung Halaman” oleh Albert dan Muhammad sibawaihi. kegiatan tersebut menjadi kolaborasi antara dua komunitas yaitu  Gubuak Kopi dan Pasirputih yang merupakan komunitas yang bergerak dibidang yang sama.

Saya, Hamdani, Muhammad Rusli(Oka), Ahmad Humaidi, Hamdani, Muhammad Sibawaihi dan Albert Rahman Putra berada di kantor Pasirputih. Bersitirahat sembari menunggu life Moto Gp yang akan berlangsung. Malam itu tidak berbeda dengan malam sebelumnya, tidak ada tanda-tanda alam tidak ada indikasi yang dapat kami baca sebagai penanda akan datang bencana gempa bumi.

Gempa bumi terjadi dengan getaran lemah diawal yang menyebabkan listrik sepulau Lombok padam. lalu bumi mengeluarkan suara gemuruh (teriak) dan gempa yang berkekuatan 7,0 Mw terjadi. Saat itu keadaan mencekam dan menakutkan, semua warga yang berdomisili di sekitar kantor Pasirputih berbondong lari ke tanah lapang(Sawah) untuk menyelamatkan diri. waktu itu Albert mulai mengikuti informasi terbaru dari BMKG tentang informasi seputar gempa bumi yang terjadi diLombok yang ia instal beberapa hari sebelum terjadinya gempa tersebut. kekuatan gempa malam itu berpotensi terjadinya tsunami, Demikian info dari BMKG sehingga informasi ini tersebar dengan cepat.

Video tanggal 5 Agustus 2018. Kondisi perempatan pemenang pada saat warga berbondong menuju perbukitan. (Video ini diambil oleh Ahmad Ijtihad beberapa saat setelah terjadinya gempa bumi berkekuatan 7,0 Magnitudo dari Smart Phone Advan i5E).

Setelah warga berhasil keluar dari kepadatan rumah menuju tanah lapang. Isu tsunami membuat kami berinisiatif untuk menyelamatkan diri ke perbukitan dan warga mulai berbondong menuju bukit di belakang polsek Pemenang. Warga pun mulai mengevakuasi diri dan keluarga menuju bukit tersebut.

Di perbukitan, yang terdengar hanya tangisan, kalimat-kalimat pengampunan dan pemujaan kepada tuhan. Mulai dari orang tua, pemuda, anak-anak hingga bayi yang baru berumur 2 bulan berkumpul di atas bukit dengan pakaian yang dikenakan. Warga tak sempat menyelamatkan apapun bahkan untuk sebuah selimut.

Malam semakin larut, bayangan tentang akan terjadinya isu tsunami membuat kami takut untuk turun dan gempa susulan terus saja terjadi. Sementara, warga mulai lapar dan bayi-bayi kecil mulai menagis kedinginan. “Silahkan ambil makanan yang ada di toko saya” Salah seorang warga berteriak ditengah keramaian tersebut menyahuti tangis bayi dan anak-anak. Pihak muda dari warga kemudian berinsiatif untuk memasuki beberapa toko yang memiliki stok makana seperti roti, jajanan ringan dan air mineral untuk dibagikan kepada warga yang terevakuasi di bukit belakang polsek Pemenang.

 “Getaran awal sebelum mati lampu kami seperti di berikan kesempatan oleh tuhan untuk menyelamatkan diri, bayangkan jika gempa dengan kekuatan itu terjadi ditengah malam” kata salah seorang seorang warga saat kami berada di atas bukit belakang polsek Pemenang. Ditengah keramaian warga mulai memastikan keselamatan keluarga mereka. Malam itu gempa susulan terjadi hingga fajar, sebagain besar warga tak bisa tidur karena keadaan yang mencekam dan ketakutan.

Kondisi rumah warga pasca gempa.

Saat fajar tiba warga mulai berpeluk syukur dengan keluarga yang dapat menyelamatkan diri dan beberapa warga menangis hiteris menemukan anggota keluarga mereka meninggal tertimpa reruntuhan bangunan.

Pagi itu kami (Keluarga besar Pasirputih) bersama warga mengevakuasi barang-barang yang diperlukan oleh warga yang berada di atas bukit. mulai dari makanan dan pakaian untuk anak-anak dan balita, warga yang lain mulai membangun tenda di persawahan belakang polsek Pemenang dengan bahan seadanya dan beberapa warga masih histeris melihat bangunan rumah mereka rata dengan tanah.

Warga mulai membangun tenda di pengungsian.

Sejak saat itu, psikologi warga mulai berubah karena akses untuk mendapatkan makanan. Persediaan makanan di rumah sudah tidak dapat dimanfaatkan. Melihat fenomena tersebut Pihak Desa Pemenang Barat memberikan akses bagi warga untuk mengambil makanan (Sembako) dari Mini market BUMDES Pemenang Barat. Hingga warga pun secara berebut mengambil makanan dari mini market tersebut tanpa melihat dan mempertimbangkan kebutuhan utama. Hingga terlihat fenomena warga yang mementingkan diri dan keluarganya tanpa melihat warga yang lain. Tidak ada kontrol dari pihak desa dalam akses tersebut.

 

Tulisan ini di re-post dari

By |2018-09-25T03:54:49+00:00September 25th, 2018|Journals|0 Comments

About the Author:

mm

Leave A Comment