Partisipan Berajahaksara; “Saya datang ke Pasirputih untuk belajar!”

//Partisipan Berajahaksara; “Saya datang ke Pasirputih untuk belajar!”

Salah satu partisipan Lokakarya Berajahaksara Sesela tengah magang di Pasirputih untuk bersilaturahmi dan menambah wawasannya tentang kerja media dan upaya-upaya memproduksi pengetahuan. pada permulaan ini ia berkewajiban untuk menonton 2 filem dalam sehari. filem yang ditontonnya adalah filem-filem baik yang mempengaruhi sejarah perkembangan filem(media) dunia. oleh karena itu, lewat catatan ini ia bercerita soal aktivitasnya selama di pasirputih.

________

Berawal dari cerita saya bersama semeton (saudara) Sibawaih di  BTN Gegutu Indah Desa Midang, saat itu saya yang berkeinginan untuk terus belajar mencari pengetahuan dan pengalaman sebanyak-banyaknya, Sibawaihi menawarkan saya untuk datang ke Pasirputih untuk belajar sekalian untuk MABAR (Main bareng) mobile legend katanya, sayapun setuju dan bangga dalam hati karna ini saya tunggu  sejak selesai kegiatan Berajahaksara Pasir Putih tahun 2017 di Desa Sesela Gunungsari. Di kegiatan berajahaksara tersebut, saya berpikir  untuk melihat hal yang besar bukanlah dari yang besar tapi sesuatu yang besar itu akan terlihat jelas jika kita melihat dan membacanya dari narasi narasi warga (hal-hal kecil) seperti, pedagang, petani, peternak  dan lain lain.

Kegiatan Ngaji Gubuk: Skets Baju Kaos bersama warga. (Clinic Rupa)

Sejak tawaran Sibawihi itu sayapun berangkat ke Pasirputih hari Ahad 08 Juli 2018 pukul 04:25 sore bersama Ijtihad direktur program brajahaksara, sampai disana saya bertemu dengan teman teman pasirputih dan semeton Albert Putra Rahman, seorang peneliti, penulis dan pegiat kebudayaan asal padang Sumatra barat. Pada saat itu, sedang berlangsung juga salah satu kegiatan pasirputih, yaitu Ngaji Gubuk dan kelas wah sebuah kegiatan yang menurut saya banyak memberikan edukasi dan pelajaran penting bagi warga di Pemenang khususnya. Dalam kegiatan tersebut juga ada pameren karya seni resin yaitu beberapa kap lampu dan pernak-pernik yang berbahan dasar resin serta Bioskop Pasirputih memutar filem Amak Dahrun.

Senin pagi sekitar 00.09 Wita,  semua teman-teman pasirputih mengadakan rapat tentang pembuatan film dan berdiskui bersama Albert membahas penelitiannya tentang kebudayaan dan adat istiadat di Lombok. Saya ikut mendengar dan mencatat apa yang dibahas peserta rapat, pagi itu. dalam rapat dan diskusi itu saya mendapatkan banyak sekali pengetahuan terutama tentang budaya adat istiadat dan pariwisata di kabupaten Lombok utara, di rapat yang berlangsung selama kurang lebih Sembilan jam (mulai pukul 09.00 hingga 18.30 Wita) itu saya mengerti bahwa inilah proses belajar.

Helmyi Yusuf, magang di Pasirputih.

Pada malam selasa, selesai makan dan main Mobile Legend sekitar pukul 21.00 Wita, saya mulai berpikir bahwa di Pasirputih belajar itu bukan hanya sekdar mendengarkan orang yang pintar berbicara di depan, melainkan belajar itu adalah bagian dari peroses, dan proses itulah sebenar benarnya ilmu dan pengetahuan yang paling bermanfaat karna Ghazali selaku direktur Pasirputih berkata kepada saya di sela-sela rapat “jalani dan ikuti apa yang nantinya kamu bisa temukan Di Pasirputih jangan terlalu tidur, pokoknya banyakin nonton filem dan baca buku aja dulu” .

Siang 13:14 Wita, saya mendekati Oka selaku Direktur Bangsal Menggawe dan Bioskop Pasirputih untuk meminta rekomendasi tentang filem apa yang mesti saya tonton. Oka merekomendasikan saya sebuah filem Jepang yang berjudul Ratap sendu Osaka (bahasa Indonesia) yang dibuat buat pada tahun 1936 oleh sutradara dari Jepang bernama Kenzi Mizoguchi yang bercerita tentang perempuan bernama Ayako bekerja sebagai karyawan di perusahaan parmasi di Jepang. Ayako bisa dibilang perempuan karir atau tulang punggung keluarga setelah ayahnya menjadi buronan karna telah menggelapkan anggaran perusahaan tempat dia bekerja.

Bercerita Tentang filem-filem yang sudah ditonton oleh Helmi Yusuf

Ayako dan adiknya Saciko merasa bosan dengan tingkah laku ayahnya yang tidak mau bertanggung jawab terhadap perbuatannya, disamping itu setiap waktu utusan perusahaan terus saja mencari ayahnya untuk menuntut pertanggung jawaban, rasa tidak kuat dan malu membuat Ayako bertengkar dengan ayahnya. Ayako pun diusir dari rumah dan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dari perusahaaan parmasi. Ayako mencari uang dan rela menjadi selingkuhan orang kaya untuk mendapatkan untuk menebus utang bapaknya.

Waktu berjalan Ayako yang berkarakter lugu dan baik hati tak sadar tentang perubahan dirinya yang mewah menjadikan ia lupa segalnya dan bahkan akhirnya dia tidak diterima oleh keluarganya lantaran telah banyak diketahui oleh semua orang bahwa dia pernah ditangkap polisi karna menipu banyak orang.

Selesai menonton saya duduk santai merokok di depan teras depan kantor Pasirputih sambil menikmati sinar matahari sore, Oka mengajak saya untuk mendiskusikan filem Ratap Sendu Osaka yang baru saja selesai saya tonton, di situ Oka banyak menjelaskan kepada saya tentang bagaimana melihat dan membaca sebuah film dengan landasan ilmu tentang film dan sejarahnya ia juga berbicara tentang sejarah filem, video dan mesin cetak beserta menyebut tokoh-tokoh penemunya, Oka berkata “memahmi karya filem bukan hanya terletak pada jalan ceritanya. Namun, kita juga  harus bisa membaca bahasa filem, pergerakan kamera” pokonya yang berkaitan tentang Audio Visual dalam sebuah film.

Silaturahmi ke  Pawang Rinjani .

Hari kamis saya bangun kesiangan karna tadi malam bergadang nonton semi pinal Piala Dunia antara timnas Inggris versus Kroasia, dan tak terasa sudah hampir seminggu saya disini , rasanaya seperti saya pertama kali KKP (Kuliah Kerja Partisipatif: Agenda mahasiswa semester tujuh di UIN mataram) di Desa Setiling Kecamatan Batu Keliang Utara 2015 disana hampir seminggu saya tidak pernah keluar posko hany atidur tiduran saja, tapi di Pasirputih seminggu di dalam rumah beraktivitas memasak, menulis, nonton film, membaca buku dan berdiskusi.

Selain nonton film, membaca buku adalah aktivitas adalah sehari-hari di Pasirputih terutma buku yang berjudul VIDEOBASE: Vidio, Sosial, Historia karya  Forum Lenteng Jakarta. Buku yang direkomendasikan oleh Ghazali untuk dibaca, dalam buku ini dijelaskan tentang sejarah media video, medium video sebagai pembangunan sosial budaya masyarakat dan upaya memetakan peran teknologi sebagai bagian dari integritas bangsa. Buku yang 99 halaman itu sungguh memiliki banyak kandungan, terutama tentang peran medium video dengan peradaban bangsa di era orde lama dan orde baru.

Nakap: Tadarus buku, menambah bagasi pengetahuan. (Albert Putra Rahman: Berbaju biru, penulis dan periset dari Solok,  Sumatra Barat)

Selama lima hari di pasirputih setidaknya bisa memudarkan gelar mayus yang melakat pada diriku ketika dirumah (Sesela). menambah wawasan, pengetahuan, dan pengalaman itulah yang terpenting dalam fase ini. Kebaikan itu harus menang dari keburukan oleh karna itu belajar menyampaikan kebaikan dengan  kebenaran itu sangatlah penting agar kita bisa mendeteksi keburukan dan kejahatan yang disampaikan dengan kebenaran, berbohong dengan kebenaran bisa bisa saja dilakukan tapi itu pasti akan jauh dari kebaikan.

By | 2018-07-17T13:50:20+00:00 July 17th, 2018|Journals|0 Comments

About the Author:

mm
Helmi Yusup adalah seorang pemuda dan mahasiswa Uin Mataram yang aktif membangun gerakan-gerakan pemuda yang ada di Desa Sesela. ia adalah salah satu partisipan Berajahaksara Sesela 2017.

Leave A Comment