Lempos Gang; Mengitari Suteran Gubuk (Rumah Tradisional) Segenter

//Lempos Gang; Mengitari Suteran Gubuk (Rumah Tradisional) Segenter

Kamis, 20/4/2018 pukul 7.30 Wita dengan suasana pagi yang cerah dan dingin, saya dan IJtihad memulai langkah sesuai agenda yang kami buat pada malam sebelumnya, bahwa hari ini kami akan berkeliling di suter Kampung Adat Segenter mendata bangunan yang ada. Dengan perlengkapan kamera dan alat tulis kami siapkan.

Kami mencoba menghitung bangunan rumah tradisional yang masih asli, semi permanen dan permanen. Satu persatu rumah warga diabadikan menggunakan kamera sederhana kami sambil mencatat spesifikasinya.

Dalam tahap perekaman ini, kami laksanakan sekitar satu setengah jam, kemudain kami beristirahat dan mendiskusikannya kembali di penginapan (masjid) untuk agenda selanjutnya. Kami menyepakati akan berkeliling lagi setelah shalat Asar nanti sekita pukul 16.00 Wita.

View Dusun segneter dari atas bukit (montong) arah barat.

Untuk tahap berikutnya ini, kami lebih detail lagi mengidentifikasi bangunan yang ada di Kampung Adat Segenter. Mulai dari menghitung berapa banyak rumah, berapa jumlah rumah yang sedang dibangun, jumlah rumah yang masih tradisional (atap dinding, lantai dan pondasinya masih terlihat alami), rumah semi permanen seperti atapnya (seng, genteng, spandek dan atau asbes) tapi dindingnya menggunakan bedek (ulatan bambu) dan lantainya masih alami menggunakan tanah. Lantai (semen, kramik dan pasir semen) tapi atap masih menggunakan ilalang dan dindingnya masih menggunakan bedek (ulatan bambu). Dinding bedek tapi atapnya menggunakan seng dan sejenisnya, begitu juga dengan lantainya sudah menggunakan pasir semen dan atau kramik.

Tata ruang dan keadaan gubuk segenter pada siang hari.

Dalam pendataan yang kami lakukan, jumlah penduduk Dusun Segenter sebanyak 400 orang yang terkumpul dalam 108 kepala keluraga[1]. Dan jumlah bangunan rumah yang terdapat dalam sengkeran gubuk dan termasuk sebagai area wisata rumah adat tradisional sejumlah 92 bangunan dengan jumlah bangunan yang masih tradisional sebanyak 11 rumah, sisanya merupakan bangunan yang sudah berubah, seperti pondasi bangunan rumah yang menggunakan batu bata, atap rumah yang menggunakan spandek/seng dan bangunan rumah yang sudah berubah secara total. Akumulasi bangunan rumah yang sudah berubah tersebut berjumlah 81 bangunan.

Salah satu rumah warga yang sudah berubah total dan memiliki akses media (parabola).

Pada saat berkeliling, menapaki setiap inci dari area wisata Segenter, tidak jarang kami terhenti sejenak karena berbincang ringan dengan beberapa pemilik rumah. Entah rumah yang masih tradisional ataupun bangunan rumah yang sudah berubah total. Komposisi masyarakat yang harmonis, warga Segeneter yang terbiasa dengan para peneliti yang datang untuk mempelajari adat istiadat memudahkan kami untuk berintraksi dan bercanda. Al-hasil perjalanan kami hari ini begitu seru dan menyenangkan.

Salah satu rumah tradisional yang mulai rusak dan lapuk.

Tidak terasa semu bangunan rumah sudah terdata. Sapaan beberapa penghuni rumah yang kami datangi menambah keseruan saya bersama anak-anak seusia kelas 1 sekolah dasar ikut berkeliling sambil lari berkejaran di depan saya. Suara tendangan dan pantulan bola di lapangan sepak bola Dusun Segenter terdengar dari kejauhan, riuh penonton sesekali menyoraki pertandingan. Dua kesebelasan sedang bertanding antara kesebelasan Segenter melawan kesebelasan dari Salut, Desa Panggung. Skor akhir 3-3 sebagai penutup pertandingan sore ini, begitu juga dengan sang surya yang mulai menyembunyikan diri.

Pelataran senja ditanah adat Segenter, Bayan-Lombok Utara

[1] Profil Desa Sukadana, Kec. Bayan Lombok Utara tahun 2017.

By |2018-05-01T14:21:19+00:00May 1st, 2018|Journals|0 Comments

About the Author:

mm
Ahmad Rosidi lahir di Makkah, 16 Maret 1989. Dhoom nama panggilannya. Ia menyelesaikan kuliash S1 di IAIN Mataram jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Selama berkuliah ia aktif di salah satu unit kegiatan mahasiswa bidang teater. Setelah itu, ia mendirikan Berugaq Pictures, sebuah inisiatif mahasiswa untuk mendalami media. Kemudian ia bergabung dengan Pasirputih sejak 2014. Keseriusannya membuatnya dipercaya menjadi sekretaris Pasirputih. Ia juga mengelola website BerajahAksara.

Leave A Comment