Tradisi Tutur; Mengarsip Realitas Dengan Cerita

//Tradisi Tutur; Mengarsip Realitas Dengan Cerita

Rabu, 18/4/2018 merupakan hari kedua tahapan pengarsipan di Dusun Segenter, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Merupakan tahapan pengumpulan data Dusun Segenter mengenai bangunan atau arsitektur tradisional yang masih terjaga dan yang sudah berubah menjadi bangunan rumah permanen.

Kedatangan saya dan Ijtihad merupakan periode kedua setelah beberapa bulan lalu menginap selama satu minggu untuk bertemu dengan beberapa orang di Dusun Segenter, guna mencari informasi umum mengenai dusun yang pernah disematkan gelar sebagai salah satu destinasi wisata rumah adat tradisional di Lombok, khususnya Lombok Utara.

Amben Beleq rumah tradisional adat Segenter, Desa Sukadana, Bayan Lombok Utara.

Dari beberapa informasi yang kita peroleh pada periode pertama, kami akhirnya memutuskan akan mengarsip arsitektur tradisional Dusun Segenter, rumah tradisional yang madih terjaga, yang akan dirubah dan bangunan rumah yang sudah berubah total menjadi bangunan rumah permanen.

Selain melihat rumah, kami juga memperhatikan aktifitas warga Dusun Segenter. Hampir 100% warganya sebagai petani dan peternak. Bertani menanam jagung, singkong, kacang-kacangan dan sebagainya. Begitu juga dengan hewan ternaknya, ada sapi dan kambing yang diselingi dengan memelihara ayam juga sebagai hiasan halaman rumah. Menurut keterangan yang kami dapatkan dari beberapa warga di dusun tersebut, bahawa warga yang beternak sapi, minimal memiliki 5 ekor sapi.

Malam tiba dengan langit yang dihiasi bintang-bintang, usai shalat Isya kami berencan bertemu dengan salah satu warga Dusun Segenter untuk diminta kesediaannya bercerita mengenai rumahnya. Nasib baik datang menghampiri, kami diajak untuk makan malam bersama di berugaq miliknya. Lauk Tangon (biji kacang panjang) dan pepes ikan teri dengan olahan bumbu sederhana. Kami menyantapnya dengan lahap, makan malam yang cukup riang sambil mendengar celetuk Jumanom yang menjelaskan lauk yang kami santap.

Jumanom tengah memperaiki rumah warga Segenter.

Usai makan, Jumanom menceritkan pengalamannya mengenai cara merawat hewan ternak supaya sehat dan gemuk. Pengalamannya sangat menarik, cara ia merawat hewan ternaknya tidak terlalu bertele-tele dan sulit. Ia juga menceritakan strategi dalam membeli hewan ternak di pasar, ”Kalau mau beli sapi untuk dipelihara, jangan beli sapi yang sudah gemuk, tapi beli aja sapi yang kurus. Selain harganya yang relative murah, kita juga bisa mengukur sejauh mana kita memperhatikan sapi kita”, jelasnya. Ia juga menceritakan salah seorang temannya yang membeli sapi dalam keadaan gemuk “Ada teman saya beli sapi di pasar, saat itu dia sama saya, dia bingung memilih sapi, tapi dia lebih memilih yang gemuk. Akhirnya ia membeli sapi yang gemuk itu, sebulan kemudian sapi tersebut berubah menjadi kurus karena mungkin kita akan lalai”, tambahnya.

Sepengalamannya selama beternak sapi, tidak lepas dari beberapa pengentahuan yang dapat dari orang tua dan ia juga sempat mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah mengenai cara merawat hewan ternak beberapa tahun lalu. Beberapa tahun lalu Dusun Segenter juga mendapatkan bantuan sapi dari pemerintah yang diberi stempel PTW pada setiap sapi yang diserahkan kepada warga. “Dulu kita sering mendapat sumbangan sapi dari pemerintah yang diberi cap PTW pada pantatnya, seperti stempel. Cara stempelnya juga aneh, pakai besi yang dipanasi api dan langsung ditempel ke bokong sapi tersebut,” ceritanya.

Salah satu sapi yang dimiliki oleh warga Segenter

Malam yang cukup dingin di tanah Bayan, cerita mengenai sapi jantannya yang galak memunculkan gelak tawa kami di berugaq bertiang enam berada tepat di depan rumahnya. Sapi jantannya sering mengamuk dalam kandangnaya sampai-sampai kandangnya rusak. Pernah pada suatu ketika, ada acara nyongkolan (acara mengantarkan mempelai pengantin dari rumah mempelai pria menuju rumah mempelai wanita menggunakan iringan musik tradisional seperti Gendang Beleq atau kecimol. Layaknya karnaval), mengamuk dalam kandangnya saat menedengar alunan music tersebut, “Sapi saya itu sempat ngamuk atau mungkin dia jogged saat mendengar suara musik orang nyongkolan.

Ditambah lagi dengan cerita sapi galak dari Papuq Genur. Papuq Genur merupakan salah satu warga yang dituakan di Dusun Segenter. Pria berusia sekitar 63 tahun yang memiliki khas semangat bercerita yang beda dari lainnya.

Menurut ceritanya, ia juga sempat akan membawa sapi ke pasar untuk dijual, tapi sapi tersebut tidak mau naik ke atas truk, “Saya pernah membawa sapi yang cukup galak ke pasar, tapi sapi tersebut tidak mau naik ke atas truk, kami kewalahan dan mencari strategi yang tepat. Akhirnya kami memutuskan untuk salah seorang dari kami yang mau menjadi umpan,“ ceritanya sambil tertawa lepas dengan nada keras, mengalahkan suara TV di dalam rumah yang bersebelahan langsung dengan berugaq tempat kami duduk. Benar saja, strategi yang dipilih oleh Puq Genur dan teman-temannya berhasil membawa sapi galak tersebut ke atas truk, “Cara kami adalah memakai umpan, salah satu dari kami harus sanggup dikejar oleh sapi tersebut. Akhirnya teman saya itu dikejar dan lari ke atas truk, dengan gampangnya sapi tersebut ikut naik juga dan kita buru-buru menutup pintu,” jelas dengan tawa khasnya.

Seorang warga yang membawa kambingnya menuju lapangan.

Selain cerita sapi dan kambing, kami tidak sadar memulai cerita mengenai Presean. Seni bela diri yang cukup unik di Lombok. Seni bela diri satu ini beralatkan sebilah penjalin (rotan) yang dilengkapi pemberat diujung rotan dan pelindung yang disebut dengan ende (tameng terbuat dari kulit kerbau atau sapi).

Seni bela diri satu ini begitu populer dan semua warga Dusun Segenter paham dengan permainan seni tersebut. Populernya presean di Segenter sejak orang tua puluhan tahun lalu, seperti sudah mendarah daging bagi warga Segenter. Satu persatu Pepadu (pendekar/pemain) dari manapun asalnya sudah tercatat di benak warga. Bahkan Segenter mampu mencetak pepadu-pepadu andalannya sejak dulu. Namun seiring waktu, pepadu-pepadu tersebut satu persatu pergi merantau sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia, Taiwan dan beberapa negara lainnya. Namun demikian, warga Segenter yakin bahwa suatu saat nanti presean akan berkembang lebih pesat lagi dan melahirkan pepadu-pepadu andalan.

Presean, sebuah pertunjukan budaya yang dilakukan setiap hari sabtu di Dusun Trebis,(bersebelahan dengan kampung Segenter)

Menurut cerita Jumanom, ia sering ikut menghadiri pertandingan di beberapa tempat entah itu di Bayan, Lombok Barat atau bahkan di Lombok Timur. ia sebagai penikmat yang darahnya juga mengalir darah seorang pepadu yang ia sebut sebagai patarung kasaq (beringas). Ia menceritakan ayahnya yang saat muda sampai ia menjadi seorang kakek, masih menggeluti presean, “Kakek ini memang kasaq kalau bertanding, tidak ada istilah mundur bagaimanapun musuhnya, asalkan musuhnya berani, dia pasti berani. Nah, apabila saat musuhnya belum ada, semua badannya terasa gatal sudah tidak sabar melayangkan pukulan rotannya mengenai kepala musuh,” ceritanya.

By |2018-04-27T15:36:23+00:00April 27th, 2018|Journals|0 Comments

About the Author:

mm
Ahmad Rosidi lahir di Makkah, 16 Maret 1989. Dhoom nama panggilannya. Ia menyelesaikan kuliash S1 di IAIN Mataram jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Selama berkuliah ia aktif di salah satu unit kegiatan mahasiswa bidang teater. Setelah itu, ia mendirikan Berugaq Pictures, sebuah inisiatif mahasiswa untuk mendalami media. Kemudian ia bergabung dengan Pasirputih sejak 2014. Keseriusannya membuatnya dipercaya menjadi sekretaris Pasirputih. Ia juga mengelola website BerajahAksara.

Leave A Comment