Ritual Perbaikan Atap Masjid Kuno Semokan.

//Ritual Perbaikan Atap Masjid Kuno Semokan.

Saya bangun seperti biasanya jam 05.00 WITA, shalat Subuh dan nongkrong atau menyambung mimpi yang terputus atau mencari mimpi yang baru, tapi biasanya kami duduk ngobrol dan ngopi di depan Madrasah Miftahul Ulum De Koning School, Segenter. Sekolah ini tidak jauh dari masjid tempat kami tinggal.

Senin, 26 Februari 2018 merupakan jadwal gotong royong perbaikan  masjid tua di Semokan. Gotong royong ini dimulai pada pertengahan Januari 2018 lalu. Mulai dari pengambilan bambu, kayu sebagai tiang dan lain-lain. Masjid Kuno Semokan direnovasi setiap delapan tahun sekali, renovasi tersebut bukan menunggu kerusakan, tapi walaupun bangunan masih kuat dan kekar, tetap harus dilakukan. Menurut keterangan Sumarti, salah satu warga Dusun Segenter, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan itu memang sudah penetapan dari orang tua pendahulu, “Perbaikan dilakukan setiap delapan tahun sekali, itu sudah ketentuan dari orang tua kita yang terdahulu,” jelasnya.

Sebelum berangkat menuju Semokan, saya, Ijtihad, Eka, Kepala Dusun dan beberapa warga menunggu warga lainnya yang sedang dalam perjalanan. Kami menunggu di warung yang berada tepat di depan gerbang Kampung Adat Segenter. Dua desa yang akan menuju Semokan ada Desa Akar Akar dan Desa Sukadana. Beberapa warga yang dari Sukadana melewati jalan raya beraspal Sukadana menuju Lendang Gagak, sedangkan warga dari Desa Akar Akar melewati Dusun Segenter. Kalau lewat Segenter, kita akan menemukan jalan berapal tepat di Pasar Lendang Gagak. Karena dari Segenter kalau menuju Lendang Gagak, jalan raya beraspal hanya 2 kilometer saja dari Kampung Adat Segenter, setelahnya yaaa jalan berbatu dan sedikit licin di musim penghujan.

Dengan pakaian adat lengkap (capuq, kereng belo, dodot) dan peralatan seperti parang tidak lupa dibawa. Saat banyak warga yang sudah kumpul, merekapun berangkat, saya, Ijtihad dan Eka pulang ke rumah Inaq rus dulu untuk sarapan. Selesai sarapan kami langsung duduk lagi di warung menunggu warga yang lain yang mungkin masih persiapan menuju Semokan. Saat di warung, kami bertemu dengan Doyong, salah satu warga Dusun Segenter yang katanya masih terlalu dingin kalau berangkat terlalu pagi. Kami duduk sebentar saja untuk menunggu, tapi kayaknya warga sudah tidak ada lagi yang akan ke Semokan.

Kami berangkat berboncengan saya dengan Doyong dan Ijtihad dengan Eka. Kami melewati jalur Segenter yang tembus di Pasar Lendang Gagak. Dari Lendang Gagak sampai beberapa kilometer beraspal sekitar 1,5 kilometer, setelah itu menuju Semokan cukup jauh, di tambah lagi jalan yang rusak, licin dan sedikit terjal. Menurut keterangan Doyong, jalan ini awalnya tidak separah ini, tapi karena hujan, “Awalnya jalan ini bagus karena sudah diratakan, tapi kan belum di aspal, kalau turun hujan yaaa tanahnya terkikis dan berlubang ditambah lagi licin,” jelasnya.

Beberapa kali roda motor kami terpeleset masuk lobang akibat aliran air dan jalan seperti ini akan dilewati sampai Masjid Kuno Semokan.

Perjalanan yang cukup melelahkan, seperti naik gunung turun gunung. Sepajang perjalanan memang kita akan disuguhkan pepohonan yang sukup besar dan lading yang ditanami padi gora yang ditanam di perbukitan.

Sampailah kita di kawasan adat Semokan, kami disambut deretan kendaraan terparkir berantakan dan sambutan beberapa monyet yang sedang mencari makan, menandakan hutan yang masih asri. Kendaraan kami parkir di luar gerbang menuju masjid kuno tersebut bersama kendaraan warga lainnya. Memasuki gerbang menuju masjid dengan berjalan kaki, terlihat deretan pohon besar di kiri kanan jalan kami.

Saat kami memasuki gerbang wilayah hutan adat Semokan

Suasana adem dingin, asap dan aroma masakan dari kejauhan tercium. Benar saja, tidak jauh dari masjid kuno, ada beberapa ibu yang dibantu bapak-bapak sedang masak dengan ukuran yang cukup banyak layaknya masakan saat pesta pernikahan.

Menyembe’ (tanda keselamatan agar tidak terkena bala’) saat memasuki area Masjid Kuno Semokan.

Saya juga melihat beberapa orang sedang mengantri, saya penasaran dan masuk ke kawasan rumah salah satu tokoh adat atau pemangku adat atau disebut juga kiai di Semokan. Memasuki kawasan rumah kiai atau pemangku adat kita harus buka alas kaki. Sebelum memulai gotong royong, kita harus di sembeq (dioleskan penyirih di dahi) terlebih dahulu, baru kita bersiap untuk kerja.

Kali ini, warga mempersiapkan atap masjid yang terbuat dari bambu yang sudah dibentuk seperti ujung pada tombak, berbentuk lancip namun tak tajam.

Masyarakat adat Dusun Semokan Desa Sukadana Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, sejak hari senin (12/04) berbondong-bondong mendatangi masjid kuno yang terletak di hutan adat setempat, guna melakukan perbaikan atap masjid yang terbuat dari bambu atau dikenal dengan atap santek.
“Perbaikan masjid kuno ini dilakukan pada tahun alip atau setiap sewindu (8 tahun-red) sekali, dan diawali dengan melakukan gundem yang didadiri oleh kiyai, pembekal dan pemangku serta beberapa tokoh adat lainnya. Dalam gundem yang dilakukan pada bulan lalu itu, telah diputuskan untuk perbaikan masjid kuno Semokan dimulai hari senin kemarin, yang diawali dengan pembuatan atap santek sebanyak 47.400 biji” tutur Kitanep salah seorang tokoh masyarakat Desa Akar-Akar-Bayan.
Pada hari pertama, lanjut Kitanep, (senin-red) acara pembuatan atap masjid ini dihadiri oleh sekitar 600 orang masyarakat adat untuk membantu pembuatan santek, sehingga berhasil dibuat , 29.400 biji. “Dan pembuatan atap masjid ini bukan dilakukan setiap hari, tapi dalam seminggu hanya diambil dua hari yaitu hari senin dan kamis, dan ini harus selesai dalam hari yang sudah ditentukan oleh hasil gundem”, kata Kitanep.
Bambu untuk membuat santek (atap), diambil dari tempat yang khusus yaitu di tanah pecatu adat, sehingga bambu ini tidak boleh punah. Kecuali jika bambu tersebut tidak cukup, baru diambilkan dari tempat lain. “Dan masyarakat adat merasa bangga dan bersyukur, bila bambu miliknya digunakan sebagai atap masjid kuno.
Satu hal yang menarik dalam pembuatan atap masjid kuno yang terletak di sebuah bukit hutan adat Semokan ini, yakni sebelum masyarakat bekerja diawalai dengan memberikan ‘sembek’ (nyemperek) oleh tokoh adat setempat. “Karena bila tidak nyemperek, ada saja terjadi hal-hal negatiif, seperti disengat kelabang atau kalajengking yang bisa membuat sakit berminggu-minggu”, ungkap Kitanep.
Dan bila atapnya sudah cukup, lalu dilanjutkan dengan pembongkaran dan mengganti kayu yang sudah lapuk. Dan kayunya pun harus diambilkan dari hutan adat sekitar, artinya tidak boleh diambil kayu dari sembarangan tempat. “Pokoknya, bahan bangunan masjid kuno ini apakah rusak atau tidak, namun akan tetap diganti sekali 8 tahun atau memasuki tahun Alip. Jadi tidak boleh dibongkar sebelum usianya mencapai 8 tahun”, jelas beberapa tokoh adat Semokan.
Bentuk bangunan masjid kuno Semokan tidak jauh berbeda dengan beberapa bangunan masjid kuno yang ada di kecamatan Bayan, seperti masjid kuno Bayan dan Barung Birak Desa Sambik Elen, yakni rata-rata bangunan atapnya terbuat dari bambu. Demikian juga dengan pagar kelilingnya serta lantai masjid tidak boleh tersentuh semen atau tetap berasal dari tanah liat.
Selama melakukan perbaikan masjid kuno Dusun Semokan, masyarakat adat dilarang melakukan akad nikah. Dan jika ini dilanggar, maka akan dikenakan sanksi bagi mempelai laki-laki berupa dua ekor kerbau, satu kerbau untuk pelaksanaan adat yang dilanggarnya dan satunya lagi untuk tampah kirangan. Sehingga sebulan sebelumnya para kiyai, pembekel adat dan pemangku sudah mengumumkan kepada masyarakat adat, bahwa selama perbaikan masjid kuno Dusun Semokan dilarang untuk kawin. (Primadona Lombok)

Bahan atap Masjid Kuno Semokan yang terbuat dari bambu (santek)

Masyarakat adat berbondong, memindahkan bahan atap untuk dipasang di Masjid Kuno.

Warga membuatkan Penyepe’ agar bambu dapat melekat dengan baik.

Warga adat dan Kiyai (tokoh adat, berbaju putih lengan panjang).

Warga adat memasang atap dari bambu tanpa menggunakan paku, akan tetapi dengan diselip conkehan bambu dengan rangka atap.

 

By | 2018-04-25T15:59:29+00:00 April 25th, 2018|Journals|0 Comments

About the Author:

mm

Leave A Comment