Prosesi Ritual Adat Kematian Dan Belasungkawa Masyarakat Adat Segenter.

//Prosesi Ritual Adat Kematian Dan Belasungkawa Masyarakat Adat Segenter.

Sabtu, 24 Februari 2018, langit mendung dengan rintik hujan yang menyirami jalanan raya menuju Kecamatan yang berada di kawasan timur Kabupaten Lombok Utara. Saya, Ijtihad dan Eka menggunakan dua sepeda motor, Ijtihad dan Eka berboncengan sedangkan saya tidak berboncengan.

Perjalanan kami dari Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan sekitar 12.25 Wita. Perjalanan menuju Dusun Segenter, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan. Kami tempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dengan kecepatan rata-rata 60 KM/ jam.

Sesampainya kami di Segenter, kami melihat keramaian di kampung adat Segenter. Karena penasaran, kami bertanya pada salah satu warga yang sedang akan masuk ke kampung adat. “Maaf amaq, araq acare napi leq dalem? (Maaf pak, ada acara apa di dalam?)”, “Araq warge ita ngenangan (Ada warga yang meninggal),” jawabnya.

Kematian dipercayai sebagai kembalinya makhluk kepada pemiliknya. Hal itu dipercayai oleh  masyarakat Segenter Desa Sukadana Kec. Bayan Lombok Utara, ketika seorang meninggal dunia maka ia harus dimakamkan dengan upacara ritual adat yang telah dilakukan secara turun-temurun. Pada saat kami sampai di Dusun Segenter untuk melakukan proses penelitian kami menemukan upacara ritual adat kematian yang dilakukan oleh warga kepada seorang jenazah perempuan yang wafat kemarin(23 Februari 2018). Jenazah tersebut bernama Inaq Rudiah(87 Thn).

Prosesi memandikan dan mengkafankan jenazah Inaq Rudiah.

Ketika salah satu warga berketurunan darah bayan(Asli) yang masih kental memegang teguh cara leluhur dengan adat istiadat yang ada, maka ia akan dikebumikan dengan prosesi ritual adat tersebut. Inaq Rudiah merupakan bagian dari keluarga besar tokoh adat Segenter Montong Semokan Bayan. Sehingga pada prosesi perlakuan yang diterapkan sesuai dengan cara adat yang berlaku.

Riuh ibu-ibu yang tengah berbelasungkawa kepada keluarga jenazah.

Suasana yang mendung masih menyelimuti Kecamatan Bayan dan hujan tak mampu tertahan awan, mengiringi riuh pikuk ibu-ibu yang sibuk menganfankan jenazah Papuq Rudiah. Beliau meninggal pada 23 Februari 2018 sekitar jam 16.00 Wita di Dusun Segenter. Menurut keterangan Awaludin yang merupakan cucu dari Papuq Rudiah, bahwa Papuq Rudiah mengidap sakit sudah lebih dari satu bulan, “Nenek ini sudah lama sakit, sekitar satu bulanan lah. Makanan sudah tidak bisa masuk lagi sehingga daya tahan tubuhnya terus berkurang, mengingat usia beliau juga sudah renta, hampir mendekati 100 tahun usianya ,” terangnya saat perjalanan menuju pemakaman umum Segenter.

Para kiyai membacakan do’a selamat dan para pemikul jenazah yang bersiap membawa ke pemakaman.

Setelah jenazah sudah dimasukkan ke keranda, jenazah sudah siap untuk di shalatkan (shalat jenazah). Shalat jenazah dilakukan di berugaq miliknya (Papuq Rudiah). Hujan masih saja mengiringi ritual, mulai dari shalat jenazah, pembacaan do’a dari para tokoh adat atau kiai/pemangku adat di Segenter hingga pemakaman selesai. Pada proses pemakaman, terlihat ibu-ibu berusaha berteduh di bawah pohon menghindari rintik hujan. Canda tawa dan obrolan yang mengelabui kesedihan terdengar riuh sembari penunggu para kiai tiba di lokasi pemakaman.

Persipan Sholat jenazah secara adat oleh para kiyai

Setibanya para kiai, mereka langsung merapikan kostum dan berwudu’ bersiap untuk ritual berikutnya. Pembacaan do’a dan shalat jenazah dilakukan kembali di lokasi pemakaman, salat jenazah kali ini khusus dilkukan oleh para kiai. Enam kiai yang hadir hari ini pada pemakaman Papuq Rudiah, ada Amaq Risana, amaq Dasiah, Amaq Rayanom, Amaq Samirah, Amaq Sapawadi dan Amaq Sukati.

para kiyai yang hadir pada pemakaman tersebut (dari kiri Amaq Risana, Amaq Dasiah, Amaq Rayanom, Amaq Samirah, Amaq Sapawadi dan Amaq Sukati).

Pemakaman berlangsung khidmat selama dua setengah jam, terhitung sekitar jam 14.25 Wita-17.40 Wita. Hujan tak kunjung reda, kami menghalau rasa dingin dengan sebatang rokok, sembari menunggu makam dirapikan dan siap untuk ritual selanjutnya, kami merokok bersama dengan tokoh masyarakat dan salah satu kiai yang bernama Amaq Dasiah atau dikenal juga dengan sebutan Aman Dono.

Pembacaan talqin oleh Amaq Samirah

Amaq Dasiah menceritakan tentang silsilah keluarganya bahwa ia juga merupakan salah satu anggota keluarga dari Papuq Rudiah. Para kiai yang lain memanggilnya dan memotong obrolan kami. ia dipanggil untuk melanjutkan ritual selanjutnya yaitu pembacaan Talqin atau yang akrap disebut Ngaji Talqin oleh warga Segenter.

Seusai Ngaji Talqin, beberapa ritual penutup dilakukan. Setelahnya, kami beranjak pulang, saya dan Ijtihad langsung menuju rumah Amaq rus suami dari Inaq Rus menggunakan terpal plastic yang cukup besar, tapi bukan saya dan Ijtihad saja yang memakainya, ada sekitar delapan orang berdesakan didalamnya sambil berlari, yaaaa hujan tak kunjung reda. Sembari menunggu hujan reda, segelas kopi menemani obrolan kami, mendengarkan cerita anak perempuan dari pasangan Amaq Rus dan Inaq Rus. Ia menceritkan aktifitas sehari-hari suaminya yang berprofesi sebagai spesialis pembuat berugaq/sekepat, mengingat suaminya berasal dari Dasan Bare, Lombok Barat.

Anak dari pasangan dua ini memang menikah dengan lelaki yang berasal dari luar daerah Lombok Utara, misalnya anak perempuannya yang bungsu menikah dengan pria asal Lombok Barat, begitu juga dengan anak perempuannya yang lain, menikah dengan pria asal Aiq Ampat, Jelantik, Lombok Tengah.

Obrolan kami begitu panjang sampai akhirnya kami membahas mengenai makanan yang cukup fenomenal saat ini di Lombok Utara. Siapa yang tidak mengenal Tempenyol atau Krutus (Bahasa Sasak), hewan laut yang ada di setiap musim hujan di sepanjang pesisir pantai Lombok Utara. Kamipun bersepakat untuk pergi menangkapnya besok Minggu sore di pantai Bayan, lokasinya penangkapan tidak jauh dari rumah anak bungsunya Amaq Rus. Cara menangkapnya tidak sulit, hanya menggunakan sorok/jaring kawat. Karena penangkapannya menggunakan jaring tersebut, maka mata kita harus jeli dan bisa membedakan mana Tempenyol dan batu krikil, mengingat rupanya yang begitu mirip dengan krikil.

Menurut banyak orang yang saya temui ketika membahas hewan laut satu ini, Krutus bisa dinikmati dengan digoreng, dibakar ataupun direbus. Rasanya hampir sama dengan rasa udang atau kepiting tapi sayang saya tidak begitu suka dengan makanan isi laut, tapi saya senang menangkapnya.

By | 2018-04-25T13:45:57+00:00 April 25th, 2018|Journals|0 Comments

About the Author:

mm
Ahmad Rosidi lahir di Makkah, 16 Maret 1989. Dhoom nama panggilannya. Ia menyelesaikan kuliash S1 di IAIN Mataram jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Selama berkuliah ia aktif di salah satu unit kegiatan mahasiswa bidang teater. Setelah itu, ia mendirikan Berugaq Pictures, sebuah inisiatif mahasiswa untuk mendalami media. Kemudian ia bergabung dengan Pasirputih sejak 2014. Keseriusannya membuatnya dipercaya menjadi sekretaris Pasirputih. Ia juga mengelola website BerajahAksara.

Leave A Comment