Bersiap(Lagi) Belajar Tradisi Di kaki Rinjani.

//Bersiap(Lagi) Belajar Tradisi Di kaki Rinjani.

(28/3/2018) Pagi yang cukup cerah, memberikan kesempatan buat kami untuk melaksanakan aktifitas. Mengingat bulan ini masih dalam suasana musim hujan, setiap hari rintik hujan menyirami tanah Bayan.

Pagi ini saya dan Ijtihad menuju Pasar Anyar untuk membeli kebutuhan selama tinggal di Segenter, Bayan, Lombok Utara. Kami berangkat ke pasar sekitar jam 08.55 Wita dari Segenter. Seratus meter sebelum sampai pasar, terdengar suara musik dangdut yang mendayu-dayu menyanyikan lagu dari salah satu pendangdut Indonesia. Sampainya di Pasar Anyar, ternyata benar, itu suara dari penggung promosi salah satu produk sepeda motor matik.

Belanja yang mengasikkan ketika suara musik terdengar dari penyanyi yang cukup cantik, biasanya saya mendengar musik dari kaset para penjual kaset dan DVD saat ke pasar. Dangdut koplo juga terdengar sesekali, membuat langkah saya sedikit berirama mengikuti ketukan musik orgen tunggal, sepertinya penjual obat sedang cuti bersama hari ini, soalnya tidak ada suara keras dan optimis sebuah ramuan mampu merubah kehidupan anda apabila memakainya.

Jebak beleq (Gerbang Utama) Dusun Segenter, Kec. Bayan Lombok Utara

Kita lepas dulu cerita sang biduan cantik di atas panggung. Kami mencari beberapa kebutuhan seperti beras dan sayuran (kangkung dan kacang panjang) yang lengkap dengan bumbunya seperti bawang merah, bawang putih, terasi, garam, penyedap rasa dan cabai.

Harga beras cukup mahal, tapi itu memang sudah merata di seluruh Lombok kata seorang ibu penjual beras.  Satu Kg dengan harga Rp10,000 yang kelas standart, yaa itu beras berkualitas bagus dan bersih, yang dikatakan beras baru atau beras yang baru dipanen, harganya berkisar Rp12,000-Rp14,000 per kilogramnya. Kami membeli 10 Kg yang berkwalitas standart seharga Rp100,000. Menurut keterangan penjual tersebut, beras yang ia jual berasal dari Lombok Tengah, tapi ia tidak tahu tepatnya.

Selain beras, kami juga membeli kangkung dan kacang panjang, 4 ikat kangkung dibandrol dengan haraga Rp5,000, tapi kalau kita bisa menawar kayak ibu-ibu yang biasa ke pasar, mungkin kita akan dapat 5 ikat dengan harga tersebut. Menurut keterangan panjual kangkung, kangkung tersebut dibawakan langsung dari Narmada, Lombok Barat. Berbeda dengan kacang panjang, Rp5,000 kita mendapatkan 9 ikat yang berisi 5 biji kacang panjang dalam 1 ikatnya. Kami membeli yang Rp5,000 saja.

Total belanjaan kami hari itu kurang lebih Rp170,000 selain yang saya sebutkan tadi ada cabai. Per kilo cabai dibandrol dengan harga Rp80,000, sepertinya cukup mahal menurut kami, kami hanya membeli Rp10,000 saja karena ada takaran seharga Rp10,000 dan Rp5,000 yang sudah diatur oleh penjualnya. Begitu juga barang-barang yang lain, saya lupa harganya, total belanjaan kami kurang lebih segitu.

Setelah semua terbeli sesuai kebutuhan, kami langsung beranjak pulang, ternyata musik dangdut panggung promosi sepeda motor matic itu masih terdengar dengan lagu pop milik Dewa 19.  Terlihat juga beberapa anak muda sedang menonton promosi tersebut di seberang jalan. Kami melanjutkan saja perjalanan supaya cepat sampai rumah Amaq Rus (kami menggapnya bapak kami di Segenter).

Tengah perjalanan, Ijtihad ingin membeli kartu SIM, mengingat kartu telpon pintarnya tidak bisa menerima sinyal internet dengan baik. Beberapa beberapa konter di sekitaran Pasar Anyar tidak menjual kartu Telkomsel yang sudah terisi dengan kuota internet. Kamipun mencari konter yang manjual kartu tersebut, dari jalur pasar menuju Bayan Beleq, sepanjang jalan kami tidak menemukannya. Akhirnya kami putar arah menuju Desa Sukadana, sepanjang jalur dari pasar menuju Sukadana juga tidak ada yang menjual dan tidak begitu banyak konter penjual kartu.

Inaq Rus, orang tua angkat) kami di Dusun Segenter.

Sampai Desa Sukadan, masih saja kami tidak menemukan kartu yang kami butuhkan, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat. Ketemulah kita dengan Desa Akar Akar ada salah satu konter yang buka dan menjual kartu, kami berhenti dan bertanya di sana, tapi ternyata tidak ada juga. Konter tersebut begitu lengkap, ada service computer, printer dan leptop. Bahasa yang beda kami dengarkan di antara pegawai, ternyata mereka berasal dari Kabupaten Bima.

Menuju konter berikutnya, masih di kawasan Desa Akar Akar, kami terus saja ke arah barat. Ketemulah kita dengan salah satu konter yang menjual lengkap telpon pintar dan beberapa HP model lama, bersampingan langsung dengan bengkel dan kios yang menjual segala jenis makanan ringan dan kosmetik. Nah, di konter ini lah kami menemukan kartu yang kami butuhkan.

Jarak yang lumayan jauh dari Desa Sukadana, tapi kami harus mengganti kartu untuk kebutuhan meng-update berita dari group Whatsapp dan mempublikasikan setiap aktifitas kami selama tinggal di Segenter.

Inaq Rus tengah berbincang dengan penjual beras yang di bawa dari Praya, Kabupaten Lombok Tengah.

Sesampainya kami di rumah Amaq Rus, Inaq Rus langsung memeriksa barang yang kami beli, ia berencana akan membuatkan pelecing dengan kangkung yang kami beli tadi dan kacang panjang akan direbus dengan campuran bumbu garam, penyedap rasa dan sedikit asem, dalam bahasa Sasaknya kami sebut jangkelaq manis. “Masakan itu kita akan makan nanti malam ya,” kata Inaq Rus sambil memilah kangkung dan tomat. Karena sudah ada makan siang, kami langsung disuguhkan. Tengah makan, terlihat mobil opencap dengan muatan yang lumayan banyak, kata Inaq Rus, beberapa warga di sini sering memesan beras dan langsung dibawakan oleh penjual. “Ini ada ibu-ibu yang memesan beras, makanya langsung dibawakan,”.

Inaq Rus membeli satu karung beras berukuran 25 Kg dengan harga Rp250,000 berkwalitas bagus dan itu merupakan beras baru panen. Saya menghampiri penjual tersebut, saya tanya, “Beras ini diambil dari mana?” penjual itu menjawab “Beras ini dari Lombok Tengah”.

By |2018-04-25T12:13:24+00:00April 25th, 2018|Journals|0 Comments

About the Author:

mm
Ahmad Rosidi lahir di Makkah, 16 Maret 1989. Dhoom nama panggilannya. Ia menyelesaikan kuliash S1 di IAIN Mataram jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Selama berkuliah ia aktif di salah satu unit kegiatan mahasiswa bidang teater. Setelah itu, ia mendirikan Berugaq Pictures, sebuah inisiatif mahasiswa untuk mendalami media. Kemudian ia bergabung dengan Pasirputih sejak 2014. Keseriusannya membuatnya dipercaya menjadi sekretaris Pasirputih. Ia juga mengelola website BerajahAksara.

Leave A Comment