AksaraTani; Sumber Pangan Laut Ketika Air Surut (Mengangsat)

//AksaraTani; Sumber Pangan Laut Ketika Air Surut (Mengangsat)

Hidup di pulau sangat identik dengan laut. Hampir semua menu makanan berasal dari laut, baik ikan, udang, cumi-cumi, bahkan rumput laut. Tidak terkecuali dengan pulau kecil Gili Meno yang sebelum pariwisata masuk, sumber makanan utamanya berasal dari laut. Berbicara pangan laut, bagi masyarakat Gili Meno tidak melulu harus ikan, cumi, atau udang, tetapi juga bembulung (sejenis karang muda yang menempel di karang berwarna keabu-abuan), sisok, gramen (sejenis karang yang mirip rumput laut berwarna coklat), karang ngorak (karang muda berwarna coklat), bulu babi, bok (sejenis bulu babi berwarna merah, hitam atau putih), kima (sejenis hewan laut yang memiliki cangkang dan berdaging kecil berwarna putih yang dapat dimakan), dan siput laut (sejenis keong) yang dapat diperoleh dengan mengangsat yang hanya bermodal ember kecil dan kayu untuk mengambilnya.

salah satu warga Gili Meno tengah Mengangsat (Mencari bahan pangan laut)

Jika memancing atau menjaring ikan identik dengan kaum laki-laki, maka menurut bang Suldin (salah satu warga Gili Meno) mengangsat identik dengan kaum perempuan, terutama kaum ibu. Mengangsat adalah aktivitas mencari sumber pangan laut ketika air surut. Mengangsat akan dilakukan pada saat purnama dimana air laut surut ketika pagi hari dan ketika bulan baru dimana air surut pada sore hari. Mengangsat sore biasanya dilakukan oleh pemuda yang pulang dari melaut atau anak-anak yang bermain di pantai.

Menurut bang Suldin, mengangsat ini sudah ada sejak dulu mungkin sebelum dia lahir. Bang Suldin bercerita bahwa orang yang hidup di pulau, biasanya sumber makanan utamanya berasal dari laut. Tetapi, tidak selamanya nelayan bisa melaut untuk menangkap ikan atau yang lainnya karena ada musim dimana angin dan ombak besar seperti angin utara (angin yang berasal dari utara). Jika musim angin utara, sehebat apapun nelayan dan pelaut tidak ada yang akan turun ke laut. Maka, orang-orang pulau akan mencari cara bagaimana agar sumber pangan tetap ada meskipun tidak melaut, salah satunya dengan cara mengangsat, turun ke laut ketika air surut. Meskipun hanya ketika air surut, tetapi setidaknya pada musim angin utara tersebut, masih ada sumber makanan yang dapat dimakan.

Landscape aktivitas mengangsat

Bang Suldin bercerita bagaimana keseruan mengangsat ketika masih kecil dimana ibu-ibu yang mengangsat membawa nasi panas dan bahan-bahan sambal (cabai, bawang tomat dan lainnya) untuk dimakan bersama-sama setelah mengangsat. Hasil yang diperoleh diolah dan dimakan langsung di pantai sambil beristirahat sebelum pulang. Nasi yang dibawa bukan nasi beras, tetapi nasi ubi yang dulunya menjadi makanan pokok di Gili Meno. Sekarang, tradisi mengangsat seperti itu hampir tidak dapat ditemui di Gili Meno. Aktivitas mengangsat saat ini hanya mencari pangan laut tersebut sampai air laut mulai pasang, lalu pulang dan mengolah hasil angsatan tersebut di rumah masing-masing yang kemudian bisa dibagi-bagi ke tetangga, seperti yang pernah saya temukan di berugak curhat, keluarganya bu Warni.

Landscape saat air laut surut. terlihat beberapa perahu yang kandas diatas karang.

Berkurangnya bahkan menghilangnya tradisi makan bersama di pantai setelah mengangsat, karena saat ini mengangsat bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi hanya untuk memenuhi keinginan dan kerinduan memakan hasil olahan angsatan, seperti bu Warni yang pada saat itu ingin mengolah bembulung lalu berbagi dengan tetangganya yang sedang berkumpul di depan berugak rumahnya. Karena saat ini, pilihan makanan sudah bervariasi dengan akses yang mudah dan tidak terlalu repot seperti mengolah bembulung (hasil angsatan).

Saat mengangsat, maka kita akan melihat ibu-ibu, kadang bapak-bapak juga akan berjalan menyusuri menuju ke tengah laut, sampai batas air surut. Hal menarik yang menjadi pertanyaan adalah apakah ketika mengangsat karang-karang laut tersebut ikut diinjak oleh orang-orang yang mengangsat? Menurut warga lokal Gili Meno, mencari bembulung, gramen, kerang laut atau bulu babi, tidak akan ditemui di karang-karang yang masih hidup. Artinya mereka tidak akan menginjak karang-karang laut yang masih hidup. Warga Gili Meno juga menyadari, bahwa keberlangsungan ekosistem laut berarti juga keberlangsungan hidup masyarakat. Oleh karena itu, dalam mengangsat ini, warga Gili Meno memiliki aturan tidak tertulis, dan dengan secara sadar mengambil sumber pangan tersebut seperlunya, hanya untuk skala keluarga, dan tidak di jual. Karena menjual hasil angsatan berarti merusak ekosistem laut yang akan berdampak pada keberlangsungan masyarakat pulau.

By |2018-02-06T04:29:35+00:00February 6th, 2018|AksaraPangan|0 Comments

About the Author:

mm
Afifah Farida Jufri, M.Si. (Pekanbaru, 25 Mei 1989), Menyelesaikan pendidikan S2 dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2015. Sejak tahun 2016, ia kembali ke kota kelahirannya, Pekanbaru, untuk membangun dan mengembangkan sebuah laboratorium pertanian skala rumahan, bernama Pusat Studi Agrikultur Sayurankita demi meneliti kemungkinan pengembangan ilmu pengetahuan pertanian lewat kerangka lintas disiplin, terutama pendekatan dan metode yang berasal dari ranah seni, media alternatif, dan praktik-praktik kreatif di ranah kebudayaan kontemporer lainnya.

Leave A Comment