AksaraTani; Ares(Bukan Dewa Perang) Masakan Khas Berbahan Bonggol Pisang

//AksaraTani; Ares(Bukan Dewa Perang) Masakan Khas Berbahan Bonggol Pisang

“Selain pelecing kangkung, apalagi sih makanan yang khas di Lombok?” pertanyaan itu saya lontarkan ke Oka, salah satu teman dari Lombok yang saya temui di Jakarta beberapa waktu lalu. Dengan bangga, Oka menjawab “Äres”. Ketika mendengar kata ares, saya langsung teringat salah satu dewa dalam mitologi Yunani Kuno, yaitu dewa perang anak dari dari dewa Zeus dan Hera. “Ares? Makanan dewa?” saya mencoba menelusuri lebih jauh tentang ares, si makanan wajib ketika acara begawe (nikahan) dan roahan (syukuran) ini. Apakah dulu dewa Ares memakan makanan ini, sehingga namanya menjadi ares atau ares yang dimaksud tidak memiliki hubungan sama sekali dengan si dewa perang?

Ares adalah batang bisang muda yang diolah dengan santan (dibuat gulai/kari), dan menjadi makanan wajib ketika ada acara begawe atau roahan. Masyarakat sasak mengatakan bahwa tidak afdhol ketika mengadakan acara begawe atau roahan tetapi tidak ada ares. Ares bisa berdiri sendiri tanpa campuran bahan lain, atau bisa juga dicampur dengan daging.

Menebang pohon pisang.

Ketika saya berada di Gili Meno yang hampir garis keturunan masyarakatnya berasal dari Sulawesi (Makassar, Manggar dan Bugis), masakan ares yang identik dengan budaya sasak, masih dapat ditemui di setiap acara begawe dan roahan tersebut.

Setelah sekian lama hanya memakan ares yang sudah diolah, akhirnya saya memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana proses ares dari saat panen, pengolahan sampai menjadi ares siap santap dengan nasi hangat dan lauk pauk lainnya.

Di Gili Meno, batang pisang untuk membuat ares ini dapat berasal dari pinggir (mainland/Lombok),  kebun sendiri atau kebun tetangga. Daeng Sik (salah satu warga Gili Meno) pernah mengatakan kepada saya saat ketika pindah tanam pohon pisang, bahwa pohon-pohon pisang ini adalah salah satu bentuk investasi atau tabungan untuk acara begawe atau roahan.

Setelah ditebang, pohon pisang kemudian di kuliti untuk mendapatkan bahan dasar ares.

Ada yang mengatakan kepada saya, bahwa hampir semua pohon pisang muda bisa menjadi bahan untuk membuat ares, dan ada yang berpendapat hanya beberapa jenis pisang saja yang enak d untuk menjadi ares, seperti pisang Sabe (sejenis pisang kepok) atau pisang raja. Pohon pisang yang bagus diolah menjadi ares adalah pohon pisang yang belum berbunga. Penampakan ares juga tergantung pada jenis pisang yang digunakan seperti pisang Sabe yang ketika dimasak, ares berwarna putih tidak bergetah, berbeda dengan pisang-pisang lainnya yang berubah warna menjadi hitam karena getah yang terlalu banyak.

Selain jenis pisang, untuk menghasilkan ares yang lezat juga tergantung pada pembuatannya. Biasanya ares akan di panen sehari sebelum acara begawe atau roahan, kemudian dibersihkan dan dipotong halus. Dari pembuatan ares ini saya melihat ada kerjasama antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Panen batang pisang muda, pembersihan dan pemotongan batang tersebut menjadi potongan-potongan kecil serta pembungan getahnya dilakukan oleh kaum laki-laki, sedangkan pengolahannya akan dilakukan oleh kaum perempuan.

Bongkol pisang yang siap dijadikan menjadi masakan khas yang disebut ares.

Batang pisang muda yang telah dipotong kecil-kecil ditaburi garam agar potongan-potongan tersebut menjadi lunak (lemas) dan lembut serta getahnya (serat atau benang-benang halus) keluar dan dapat dibersihkan. Setelah itu, potongan batang muda tersebut siap diolah dengan bumbu kari (gulai) bersama santan, dan dapat dicampur dengan daging sapi. Kemudian ares siap disantap bersama ketika acara begawe atau roahan.

Memang, ares termasuk menu wajib ketika acara begawe dan roahan. Tetapi, saat ini ares mulai naik ke permukaan kuliner. Kita tidak harus menunggu undangan begawe atau roahan untuk menikmati ares, tetapi sudah dapat kita temukan di rumah-rumah makan atau restoran-restoran di Lombok.

Begitulah cerita ares, makanan khas dalam begawe atau roahan di Lombok. Bukan cerita tentang dewa perang.

By |2018-02-05T14:20:36+00:00February 5th, 2018|AksaraPangan|0 Comments

About the Author:

mm
Afifah Farida Jufri, M.Si. (Pekanbaru, 25 Mei 1989), Menyelesaikan pendidikan S2 dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2015. Sejak tahun 2016, ia kembali ke kota kelahirannya, Pekanbaru, untuk membangun dan mengembangkan sebuah laboratorium pertanian skala rumahan, bernama Pusat Studi Agrikultur Sayurankita demi meneliti kemungkinan pengembangan ilmu pengetahuan pertanian lewat kerangka lintas disiplin, terutama pendekatan dan metode yang berasal dari ranah seni, media alternatif, dan praktik-praktik kreatif di ranah kebudayaan kontemporer lainnya.

Leave A Comment