AksaraTani; Selain Pariwisata. Kopra, Mikroekonomi Warga .

//AksaraTani; Selain Pariwisata. Kopra, Mikroekonomi Warga .

Ditengah pembangunan pariwisata yang begitu pesat di Gili Meno, kita masih dapat menemukan kebun kelapa yang masih produktif meskipun tidak begitu dipelihara dengan baik. Pohon-pohon kelapa yang ada sekarang adalah pohon kelapa yang ditanami oleh orang-orang Gili Air sebelum pindah dan tinggal di Gili Meno. Dari cerita pengalaman Bi Ana dan Bu Sudi, sewaktu kecil mereka merasakan bagaimana dari Gili Air harus ke Gili Meno hanya untuk menyiram pohon-pohon kelapa ketika musim kering menggunakan kapal tanpa mesin dan harus menghadapi nyamuk-nyamuk yang menghuni Gili. Bi Ana dan Bu Sudi adalah warga yang pindah ke Gili Meno dari Gili Air pada awal tahun 1990an bersama orangtuanya dan hidup menetap sampai saat ini. Bi Ana bercerita ketika panen, buah kelapa tersebut dijadikan kopra sebelum dikirim dan dijual ke mainland (pinggir/Lombok). Setelah pariwisata masuk ke Gili Meno pada tahun 1990an, beberapa buah kelapa muda dijual sebagai minuman segar ke tamu-tamu yang datang, namun lebih banyak dijual ke pengepul.

Salah seorang warga yang tengah memisahkan daging kelapa dari batoknya.

Disamping berkembangnya pariwisata, saat ini kita masih dapat menemukan beberapa warga yang masih mengolah kelapa-kelapa ini menjadi kopra. Kelapa ini diperoleh dari kebun sendiri atau dari kebun-kebun kelapa yang buahnya jatuh sendiri karena tidak dirawat oleh pemiliknya. Biasanya pemilik kebun adalah orang luar dari Gili Meno. Kopra yang dihasilkan oleh warga dibawa dan dijual sendiri oleh warga ke pabrik kopra di Mataram. Aktivitas pembuatan kopra ini hanya menjadi mata pencaharian sampingan bagi warga ketika musim pengunjung sepi (low season) sekitar bulan Oktober hingga awal tahun, ketika musim hujan sehingga kopra yang dihasilkan juga tidak begitu baik karena penjemuran kelapa masih manual, memanfaatkan sinar matahari.

Kebun kelapa warga Gili Meno

Menurut Bapak Asni (warga Gili Meno yang berasal dari Lombok dan sudah tinggal di Gili Meno sejak masih kecil), salah satu pengepul buah kelapa di Gili Meno, produksi buah kelapa dari dulu sampa saat ini semakin menurun.  Biasanya, dalam sekali panen Bapak Asni memperoleh sampai 30.000 butir buah kelapa dengan beberapa titik kebun, namun beberapa waktu belakangan ini Bapak Asni hanya memperoleh 3.000-5.000 butir buah kelapa dalam satu kali panen. Menurunnya hasil buah kelapa ini disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah pohon-pohon kelapa yang sudah tua, rata-rata umur pohon kelapa di Gili Meno berusia 20-30 tahun dan semakin berkurangnya pohon-pohon kelapa karena peralihan lahan menjadi bungalow-bungalow atau lahan yang sudah dimiliki oleh orang asing (warga mainland/Lombok atau warga asing) yang buahnya tidak dijual, meskipun pohonnya memiliki banyak buah sehingga pohon kelapa yang dapat dipanen menjadi sangat berkurang. Bapak Asni juga mengatakan bahwa jika kebun kelapa dipelihara dan dimanfaatkan untuk menanam tanaman musiman, dalam satu pohon kelapa tersebut dapat menghasilkan 12-15 buah kelapa.

Salah seorang warga yang tengah memisahkan daging kelapa dari batoknya juga.

Buah kelapa yang dikumpulkan oleh Bapak Asni, dikirim ke mainland (Lombok) untuk kebutuhan pabrik yang memroduksi minyak kelapa. Pengiriman buah kelapa ini dilakukan sendiri oleh Pak Asni dengan menyewa boat sampai ke pelabuhan Bangsal. Bapak Asni dapat memanen kelapa dalam waktu dua bulan sekali panen. Pemanenan dilakukan secara bergilir dari kebun ke kebun. Hal yang disayangkan Bapak Asni adalah orang asing yang memiliki lahan dengan pohon kelapa yang masih menghasilkan buah tidak mau menjual bahkan tidak memanen buahnya. Buah dibiarkan begitu saja di lahan.

Seorang warga Gili Meno tengah panen kelapa.

Bapak Asni lebih memilih memanen buah yang siap untuk dijadikan kopra atau minyak daripada memanen buah kelapa muda. Menurut penuturan Bi Ana yang memiliki warung makan, rasa buah kelapa di Gili berbeda dengan buah yang ada di pinggir, sehingga untuk untuk memenuhi pasokan kelapa muda, warung makan atau bungalow-bungalow besar lebih sering membelinya ke pinggir daripada membeli buah kelapa muda yang ada di pulau.

 

 

By | 2018-02-03T02:36:42+00:00 February 3rd, 2018|AksaraPangan|0 Comments

About the Author:

mm
Afifah Farida Jufri, M.Si. (Pekanbaru, 25 Mei 1989), Menyelesaikan pendidikan S2 dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2015. Sejak tahun 2016, ia kembali ke kota kelahirannya, Pekanbaru, untuk membangun dan mengembangkan sebuah laboratorium pertanian skala rumahan, bernama Pusat Studi Agrikultur Sayurankita demi meneliti kemungkinan pengembangan ilmu pengetahuan pertanian lewat kerangka lintas disiplin, terutama pendekatan dan metode yang berasal dari ranah seni, media alternatif, dan praktik-praktik kreatif di ranah kebudayaan kontemporer lainnya.

Leave A Comment