AksaraTani; Aktivitas Warga Di Pelabuhan Gili Meno

//AksaraTani; Aktivitas Warga Di Pelabuhan Gili Meno

Salah satu tempat yang paling sibuk di Gili Meno adalah pelabuhan. Mulai dari pagi puklĀ  07.00 sampai 17.00 WITA akan selalu ada yang datang dan pergi dari dan ke pelabuhan Gili Meno. Tidak hanya orang lokal, di pelabuhan Gili meno kita akan lebih mudah menemukan orang asing yang sengaja datang ke Gili Meno untuk liburan bahkan bekerja. Tidak sedikit bungalow-bungalow di Gili Meno milik orang asing.

Menurut penuturan Wak Dais, salah satu kapten boat (kapal) Gili Meno, pelabuhan Gili Meno mulai dibangun sejak pariwisata mulai masuk sekitar tahun 1980an akhir, awal tahun 1990-an. Pelabuhan yang ada pada saat ini dibentuk dengan menyingkirkan karang-karang yang telah mati sehingga kapal bisa melabuh (menepi). Saat ini, pantai di sekitar pelabuhan telah dipenuhi oleh bangunan restoran-restoran pinggir pantai, sehingga jika terjadi angin utara (angin yang bertiup dari utara) atau air surut tetapi dengan gelombang yang besar, maka pelabuhan pindah ke Bounty (pantai daerah timur). Menurut Wak Dais hal ini karena di Bounty masih banyak pohon sehingga meskipun angin besar, masih dapat dihalangi oleh pohon-pohon yang masih tumbuh di sekitar pantai. Selain itu, pantai di sekitar pelabuhan juga mulai mengalami abrasi.

Loket pembelian tiket di pelabuhan Gili meno

Aktivitas pelabuhan mulai meningkat seiring dengan meningkatnya gaung pariwisata Gili Meno. menurut perkiraan Wak Dais, jumlah tamu yang datang ke Gili Meno sekitar 200-300 orang per hari, tergantung musim ramai atau musim sepi. Oleh karena itu, maka saat ini sudah ada 10 trayek (kelas) kapal publik (public boat) dan penambahan jadwal keberangkatan yang lebih lama dari pelabuhan Bangsal ke Gili Meno. Selain itu juga ada fast boat (kapal cepat) miliki koperasi dan pengusaha wisata dari Bali yang direct (langsung) ke Gili Meno dengan sistem paket. Menurut Wak Dais, peningkatan trayek ini juga bertujuan untuk mempromosikan Gili Meno sebagai tempat wisata. Keluar masuknya kapal-kapal ke Gili Meno, baik kapal publik (public boat), kapal cepat (fast boat) atau kapal carteran di atur oleh koperasi Karya Bahari. Anggota koperasi adalah orang yang memiliki kapal-kapal tersebut.

Tempat berlabuh boat di pelabuhan Gili Meno.

Sistem pengangkutan kapal publik (public boat) dari pelabuhan ke Gili Meno masih tergantung pada banyak penumpang. Kapal akan berangkat ke Gili Meno jika kapal penuh dengan penumpang sekitar 30-35 orang per sekali jalan. Menurut Wak Dais, kebijakan yang diambil memang berbeda dengan kapal dengn tujuan ke Trawangan, karena penumpang tujuan Gili Meno masih sedikit, sehingga untuk menutupi uang minyak kapal tersebut, maka kapal akan berangkat ketika penumpang telah mencapai batas minimal. sehingga sistemnya berbeda dengan kapal yang menuju ke Trawangan. Berbeda dengan kapal cepat yang tersedia setiap jam. Karena kapal cepat tersebut langsung menuju tiga gili (Air, Meno dan Trawangan).

Jadwal keberangkatan kapal publik pertama (Trayek/kelas 1) dimulai dari Gili Meno, pukul 7.30 WITA sedangkan dari pelabuhan Bangsal kapal pertama sekitar pukul 08.00-an WITA tergantung jumlah penumpang. Sedangkan jadwal terakhir kapal publik dari pelabuhan Bangsal pukul 17.00 WITA dan pukul 15.30 WITA dari Gili Meno, dan jadwal pemberangkatan terakhir kapal cepat dari Gili Meno pukul 17. 15 WITA.

Pengunjung asing (tourist) tengah membeli tiket di loket pembelian tiket pelabuhan Gili Meno.

Harga tiket kapal dikelola oleh koperasi. Tiket kapal publik dari pelabuhan Bangsal ke Gili Meno jadwal pagi adalah Rp. 14.000 dan akan menjadi Rp. 25.000 pada jadwal pemberangkatan siang (mulai pukul 14.00 sampai 17.00 WITA). Perbedaan harga tiket ini menurut Wak Dais karena penumpang pada jadwal siang lebih sedikit daripada jadwal pagi, sehingga kebijakan ini diambil untuk memperoleh batas minimal untuk memenuhi kebutuhan minyak kapal. Sedangkan harga tiket dari Gili Meno ke pelabuhan Bangsal, baik pagi atau siang tetap Rp. 14.000, tidak ada perbedaan. Dan harga tiket kapal cepat Rp. 85.000 baik dari pelabuhan Bangsal atau dari Gili Meno.

By |2018-02-02T17:26:52+00:00February 2nd, 2018|AksaraPangan|0 Comments

About the Author:

mm
Afifah Farida Jufri, M.Si. (Pekanbaru, 25 Mei 1989), Menyelesaikan pendidikan S2 dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2015. Sejak tahun 2016, ia kembali ke kota kelahirannya, Pekanbaru, untuk membangun dan mengembangkan sebuah laboratorium pertanian skala rumahan, bernama Pusat Studi Agrikultur Sayurankita demi meneliti kemungkinan pengembangan ilmu pengetahuan pertanian lewat kerangka lintas disiplin, terutama pendekatan dan metode yang berasal dari ranah seni, media alternatif, dan praktik-praktik kreatif di ranah kebudayaan kontemporer lainnya.

Leave A Comment