Presentasi Publik AksaraTani; Mengurai Meno Dalam Karya Seni

//Presentasi Publik AksaraTani; Mengurai Meno Dalam Karya Seni

Sejak awal, Pasirputih memang dihajatkan sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan budaya yang ruang kerja-nya di Pemenang. Oleh karena itu, melihat Gili Meno lebih dekat kemudian menjadi sebuah bagian yang tidak bisa diabaikan. Obrolan intens dengan Muhammad Imran dan Sri Haryati (Aceq) menggelitik ruang-ruang diskusi kami tentang Gili Meno. Yang kemudian berujung pada pertemuan kami setelah kegiatan Bangsal Menggawe #2 2017, waktu itu bersama Forum Lenteng dan juga Hafifa Farida dari Sayuran Kita. Terinisiasilah ide gagasan kerja bersama, sebuah konsep  kerja mandiri dengan strategi gotong royong antara The This Kon, Sayuran Kita, Pasirputih dan Forum Lenteng. Kerja bersama ini bernama program Aksara Tani yang bertempat di Gili Meno, Desa Gili Indah. Aksara Tani tidak hanya berbicara tentang bercocok tanam, akan tetapi lebih pada kerja riset dan pengetahuan terkait budaya pangan yang selama ini dilakukan oleh masyarakat Gili Indah pada khususnya dan Pemenang pada umumnya. Akhirnya, Aksara Tani ini dijalankan oleh Afifah Farida (Sayuran Kita) berkolaborasi dengan Hamdani (Pasirputih), juga Imran dan Aceq (The This Kon). Dan dipilihlah lokasi basecamp Program Aksara Tani ini di The This Kon.

Proses Aksara Tani berjalan sekitar tiga bulan, terhitung sejak oktober sampai dengan Desember. Dari memori-memori kolektif warga yang terpetik selama program berlangsung, menunjukkan akan adanya kemandirian dan kebertahanan pangan warga demi menyikapi kebutuhan hidup. Disisi lain, perubahan situasi dan keadaan terus mengintari aktifitas masyarakat Gili Meno. Sehingga tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pangan keluarga, namun juga tidak bisa dipisahkan dengan Gili Indah yang terpaut erat dengan industri Pariwisata. Terbukti dengan bagaimana setiap hari kita bisa jumpai pedagang kue, sayur dan tanaman yang berasal dari luar Gili Indah menjajakan dagangannya. Bahkan di Gili Meno juga kita jumpai adanya beberapa mitos dan ritual yang berhubungan langsung dengan kebutuhan pangan warga. Puzzle-puzzle inilah yang coba dirangkai menjadi semacam bacaan akan sirkulasi sosial yang mewarnai budaya pangan warga Gili Meno. Semuanya coba direkam oleh tim Aksara Tani lewat medium tulisan, video, foto dan meramu beberapa peristiwa kebudayaan.

Dalam konteks kerja, Aksara Tani berorientasi pada pemanfaatan halaman rumah. Mengutip ungkapan Anwar Jimpe Rachman (penulis) dalam bukunya Halaman Rumah mengungkapkan “Halaman rumah adalah orientasi arsitektural orang Indonesia. Ia menjadi sebentuk pengertian yang luas dalam alam pikiran mutakhir Nusantara. Halaman bisa menjadi ruang ekspresi, berfungsi sebagai panggung, lanskap, ruang produksi, hingga ranah pertukaran gagasan”. Oleh karena itu, berbicara tentang ketahanan pangan nasional, tidak terlepas dari membicarakan ketahanan pangan rumah tangga. Dan halaman rumah-lah objek yang paling dekat untuk dikelola memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga. Di Gili Meno masih kita jumpai halaman rumah warga yang cukup luas. Sangat berbeda dengan beberapa dusun di wilayah Pemenang Barat dan Pemenang Timur yang kadang rumah-pun terdesak jalan dan berhimpitan dengan tetangga. Walaupun demikian, tentu Gili Meno juga berhadapan dengan tantangan yang sama seperti di tempat-tempat yang lain. Dengan demikian, kehadiran Aksara Tani lebih diharapkan pada aktivasi pemikiran terhadap perubahan-perubahan yang dan akan terjadi itu.

Jejak-jejak itu membekas juga dengan langkah-langkah alternatif warga Meno sendiri. Seumpama apa yang dilakukan oleh Bapak dan Ibu Kadus, Pak Tarpo, Ibu-ibu PKK dan beberapa warga yang lain. Termasuk juga gerakan-gerakan muda seperti RGM dan Satgas Gili Meno. Kami menghaturkan terimakasih kepada seluruh warga masyarakat Gili Meno atas pengalaman dan pengetahuannya selama proses Aksara Tani berlangsung. Semoga Aksara Tani dapat menjadi sebuah landasan awal bagi kerja-kerja kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak dalam suatu bentuk dan jaringan kerja yang berkesinambungan.

Sebuah pengantar

Direktur pasirputih (Muhammad Ghozali) dalam Presentasi Publik Aksaratani Gili Meno

***

“…sayur….sayuuur…sayuuur”, suara ibu-ibu pedagang sayur bakulan keliling menawarkan sayuran dagangannya setiap hari. Gili Meno manjadi lokasi berjualan yang menarik bagi para pedagang, entah sayur, bunga, kopi, kembang, gelang dan lain-lain.

Gili Meno merupakan salah satu pulau kecil di Lombok. Terletak di bawah pemerintahan Kabupaten Lombok Utara. Gili Meno berada tepat di tengah antara dua pulau kecil lainnya, yaitu Gili Terawangan dan Gili Air. Gili Meno memang menjadi destinasi wisata yang cukup terkenal hingga mancanegara. Kehadiran para pelancong lokal dan mancanegara menjadikan Gili Meno mendapatkan beberapa penghargaan nasional hingga internasional.

Keindahan pulau kecil tersebut memang sudah tidak bisa dipungkiri. Selain keindahannya, warganya juga sangat ramah tamah saling sapa satu sama lain dan bergotong royong. Melihat Gili Meno memang masih belum terlalu ramai dikunjungi, tanah-tanah kosong masih terlihat, tanaman kering dan tanah berdebu pada musim kemarau juga dapat kita saksikan di sana. Karena itulah pulau kecil ini dinobatkan menjadi pulau yang tenang dan cocok untuk “berHoneymoon”.

Tanah-tanah kosongnya menyimpan sedikit cerita mengenai tanaman yang pernah menjadi sumber penghasilan warga Gili Meno, seperti kacang-kacangan, umbi-umbian, singkong dan menurut informasi yang diterima oleh Afifah, bahwa warga sempat menanam kapas. Catatan dari warga adalah, tidak semua tanaman (sayuran) mampu bertahan.

Cerita ini diperoleh saat salah satu anggota SayuranKita, Afifah Farida Jufri melakukan residensi di Gili Meno selama tiga bulan, terhitung dari Oktober sampai Desember 2017.

Mendengar cerita dari beberapa warga di Gili Meno, akhirnya Afifah dan beberapa orang sepakat untuk melakukan dan mengajak warga Gili Meno mengingat kembali budaya bertani yang pernah ada di pulau kecil ini. Niatan tersebut akhirnya disepakati oleh pasirputih, The This-Kon (Bungalow) dan Forum Lenteng, kemudian menginisiasi program yang dinamakan AksaraTani. Program ini terfokus pada sosial-budaya, membacanya melalui pendekatan pertanian (bertanam).

Membaca sosial-budaya dengan pendekatan bertanam ini memang akan mengungkap banyak hal, mulai tradisi, aktifitas sehari-hari dan sebagainya mengenai Gili Meno. Program seperti ini mungkin satu-satunya di Lombok, maka dari itu program ini berlangsung lebih lama.

Bertanam/bertani dengan memanfaatkan pekarangan memang sudah sering dilakukan sejak lama oleh banyak orang di Indonesia di Lombok pada khususnya, mulai dari program pemerintah, program Lembaga Sosial Masyarakat (LSM), komuitas-komunitas hingga warga bergerak dengan kesadaran secara mandiri.

Nah, melihat Gili Meno sebagai destinasi wisata terkenal hingga mancanegara namun menyimpan sedikit cerita mengenai pertanian. Menjadikannya tempat menarik sebagai tempat belajar, terutama tentang pertaniannya. Program ini mencoba mengangkat ingatan tersebut di tengah-tengah warga Gili Meno. Dengan sendirinya, cerita bermunculan di tengah-tengah kesibukan warga dengan pariwisatanya.

Capaian dari program ini tidak berorientasi pada hal-hal besar, tapi bagaimana kemudian program ini mampu mengangkat sisi lain dari Gili Meno. Sisi lain yang saya maksud adalah situasi Gili Meno yang dilihat dari sudut pandang yang lain, tidak melulu berorientasi pada eksotisme alamnya. Memang, eksotismenya tidak bisa disembunyikan tapi ada hal lain yang kemudian harus juga ditonjolkan.

Memang tanah Gili Meno tidak mampu menyuburkan berbagai macam tanaman (sayuran), tapi kemudian program ini mencoba melihat bagaimana tanah Meno dan sebagainya. Sebagai tempat bisnis sayuran dengan menanam di sana mungkin akan mengalami kesulitan, apalagi hanya mengandalkan air Meno yang payau.

Sebagai edukasi, Gili Meno menjadi penting sebagai destinasi belajar yang menarik, melihat Meno yang sekarang ini dihuni oleh banyak ras, bahasa dan asal yang berbeda.

Kegiatan ini adalah dilakukan secara kolaborasi Afifah dengan salah satu video maker asal Pemenang. Ialah Hamdani, dengan pendekatan videonya, mencoba merekam aktifitas warga Gili Meno. Merekam cerita-cerita, tradisi, upacara adat dan kawasan yang sebelumnya dianggap dan menyimpan cerita mistis pada masa lalu yang akhirnya saat ini upacara-upacara rutinnya hanya dilakuka oleh satu orang, yaitu pemangku adat Gili Meno. Video cerita mistis ini dikemas pada video yang berjudul ‘Sampang Sandro dan ‘Rawa’.

Menggunakan alat rekam sederhana (kamera Handphone Pintar), ia mampu mengangkat sisi lain Gili Meno. Selain merekamnya menggunakan video, Dani (akrabnya) juga mencoba mencatatnya melalui tulisan yang kemudian dipublikasikan melalui Halaman Facebook AksaraTani, bersamaan dengan videonya.

Selain Hamdani, ada juga Imran dan Sri Hayati (Aceq). Imran dan Aceq sebagai warga menetap Gili Meno, mencoba mengajak beberapa warga terutama ibu-ibu untuk ikut berpartisipasi pada setiap rangkaian acara AksaraTani. Sebagai warga asli, ia terus mencoba menerangkan maksud program ini, yaitu sebagai salah satu lahan belajar yang menarik. Selain itu, sebagai lokasi penanaman juga dilakukan di halaman bungalow miliknya.

Banyak hal yang sudah dilakukan pada program ini, bertanam sayuran di pekarangan The This-Kon, melakukan identifikasi tanah, identifikasi air, berburu tanaman, berburu buah dan bunga, video-video mengenai Gili Meno dan cerita-cerita warga. Aktifitas tersebut dikemas dan diarsip menjadi tulisan dan 30 audio visual (video). Kemudian aktivitas tersebut dipublikasikan melalui Halaman Facebook AksaraTani, Instagram Sayurankita dan aksaratani serta Website berajahaksara.org. Kemudian presentasi akhir akan dilaksanakan pada 13-14 Januari 2018 di Kantor Dusun Gili Meno.

Pengantar Kuratorial

Oleh Ahmad Rosidi (Kurator Presentasi Publik Aksaratani Gili Meno).

***

Post-day Presentasi Publik Aksaratani Gili Meno. Dalam presentasi tersebut ada bebrapa hal yang dipamerkan terkait proses, kegiatan dan kekaryaan bersama warga Gili Meno yang didisplay sebagai bentuk pameran, diantaranya :

Instalasi tanaman yang diambil dari tanaman sayur The This-kon.

MENANAM DI THE THIS-KON DAN RUMAH WARGA GILI MENO

Program menanam di The This-Kon dan rumah warga merupakan langkah untuk membentuk kebun dan ruang dalam membudayakan aktivitas menanam dan menggiatkan literasi pertanian. Program ini mencoba berjalan beriringan dengan gencarnya pembangunan pariwisata dengan membangun kebun-kebun di pekarangan rumah atau bungalow-bungalow di Gili Meno. Aktivitas menanam menjadi salah satu langkah spekulatif aksaratani dalam memberikan nilai dan posisi tawar pada lahan-lahan warga untuk mencapai pertanian mandiri Gili Meno.

Herbarium : di instal pada media triplex yang telah dicat hitam.

HERBRIUM

Mengingat semaraknya pembangunan bungalow, kafe dan restoran di Gili Meno yang secara tidak langsung dapat mengurangi populasi tanaman-tanaman lokal, maka herbarium merupakan salah satu cara untuk menjaga ketersediaan data dan informasi tentang tanaman tersebut. Herbarium adalah material tumbuhan (dapat berupa daun, bunga atau bagian tanaman lainnya) yang telah dikeringkan dan diawetkan (Disebut juga dengan spesimen herbarium). Herbarium ini dapat digunakan sebagai bahan penelitian untuk para ahli tanaman, ahli taksonomi, atau periset, sebagai bahan dan data yang mendukung studi ilmiah seperti ekologi, studi titokimia, dan analisa perbandingan biologi.

Instalasi Video karya Hamdani, Seniman Video-Film Maker pasirputih.

KOMPILASI VIDEO “JEJAK SAMPANG SANDRO”

Kompilasi Video “Jejak Sampang Sandoro” adalah program yang merekam, mendata, menelaah dan memproduksi narasi kecil menjadi pengetahuan yang dibuat tanpa editing dengan menggunakan teknologi ponsel cerdas. Video ini membantu kita dalam memahami bagaimana potensi yang ada di Gili Meno selain pariwisata yang kemudian di distribusikan melalui media online seperti instagram dan facebook sebagaimana kerja ponsel cerdas tersebut.

Koleksi tanah dan air

KOLEKSI TANAH DAN AIR

Program koleksi tanah dan air di Gili Meno merupakan program mengarsip data dan pengetahuan yang ada di Gili Meno terkait kondisi tanah dan air. Koleksi tanah dan air penting dilakukan dengan asumsi bahwa kondisi tanah dan air di setiap titik mulai dari garis pantai menuju tengah pulau (tempat masyarakat lokal tinggal) akan berbeda.

kelas berbagi: Life Cooking bersama warga Meno

PROGRAM BERBAGI

Program berbagi merupakan program saling silang pengetahuan yang dilakukan antar warga untuk memperkaya informasi dan pengetahuan tentang pertanian dan budaya masyarakat Gili Meno. Program berbagi yang telah dilakukan diantaranya adalah live cooking untuk berbagi resep makanan, workshop singkat tentang pengelolaan sampah bersama satgas  (pembuatan tali dari botol), trashhero (pembuatan gelas dari botol bekas), anak-anak Gili Meno (membuat bingkai dengan tutup botol), serta diskusi tentang menanam bersama warga

Rumah sayur : di Dusun Karang Subagan Daya kediaman Lalu Ahyadi.

RUMAH SAYUR

Rumah Sayur merupakan program yang diinisiasi oleh warga lokal Karang Subagan daya, Pemenang, Lombok Utara. Rumah sayur dibangun untuk menjadi laboraturium warga yang bertujuan untuk membudayakan aktivitas menanam, memproduksi dan mendistribusikan informasi, pengetahuan, dan pengalaman dalam bertani secara terbuka.

Plant Matching bersama anak-anak Gili Meno

PLANT MATCHING

Plant Matching adalah kegiatan mencocokkan tanaman yang telah di herbariumkan dengan tenaman yang masih hidup. kegiatan ini dilakukan bersama anak-anak Gili Meno mulai dari usia 5 – 13 tahun. bersama beberapa tim aksaratani, anak-anak tersebut diminta untuk menemukan tempat dan jenis daun yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Dari kegiatan tersebut. diharapkan menjadi pemicu bagi warga agar dapat menyadari, menjaga dan melestarikan alam sekitar menjadi sumber penghidupan yang  bermakna prinsip.  kegiatan ini pula akhirnya menjadi salah satu lirikan atas kerja kolaborasi warga bersama aksaratani yang mampu memunculkan isu  sosial, budaya, pertanian dan lingkungan masyarakat Gili Meno. yang menjadi PR besarnya adalah, mampukah warga terus menjalani dan melakukan kegiatan tersebut tanpa harus didampingi,,???

 

GALERY PHOTO

Laela etika : pemandu acara

Sambutan dar Aksaratani: Muhammad Imran sebagai penanggung jawab dan Afifah Farida sebagai tenaga ahli pertanian

pembukaan resmi pameran presentasi publik aksaratani oleh Satgas Remaja Gili Meno

Pengantar kuratorial oleh Ahmad Rosidi

acara pembukaan nampak dari luar ruangan

antusias warga menyaksikan pameran

bertanya dan menjelaskan beberapa hal terkait material pameran

Imran tengah menjelaskan beberapa hal terkait pameran presentasi publik ini kepada salah satu pengunjung.

acara life cooking bersama warga Gili Meno pada acara presentasi akhir.

Ibu-ibu PKK mulai menyalakan kompor gas

Plant matcing bersama anak-anak Gili Meno

ana -> kalian mataapp.. 🙂

Etika menggugah semangat anak-anak peserta plant matching

Hasil berburu tanaman.

penyematan duta tanaman oleh Muhammad Sibawaihi kepada peserta plant matching

penyematan oleh Afifah Farida

mereka bahagia

Tersenyum bersama

saling rangkul dan berkawan.

By |2018-01-18T05:54:26+00:00January 18th, 2018|AksaraPangan|0 Comments

About the Author:

mm

Leave A Comment