Dari Kaki Rinjani Belajar Tentang Tradisi

//Dari Kaki Rinjani Belajar Tentang Tradisi

Kamis, 21 Desember 2017, Ahmad Ijtihad, Mashur Kholid dan saya berkunjung ke salah satu desa adat di Kabupaten Lombok Utara, yaitu Segenter. desa adat Segenter yang berada di wilayah Desa Sukadana Kecamatan Bayan, kecamatan yang berada di ujung timur Kabupaten Lombok Utara dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Lombok Timur.

Kedatangan kami ke Desa Adat Segenter bukan untuk pelesir layaknya turis-turis biasanya, melainkan untuk berkenalan dan belajar di sana. Awalnya saya mengira bahwa hanya saya yang pertama kali ke Segenter, tapi ternyata Ijtihad dan Kholid juga belum pernah sebelumnya. Waaaaah pengalaman menarik niiiih.

Kedatangan kami yang pertama ini enaknya disebut apa ya? Sebut saja kita sedang survey supaya lebih gaul. Padahal kami hanya bertemu dengan warga di sana, ngopi, ngobrol, bercanda dan sebagainya.

Mashur Khalid tengah berpose di depan gapura wisata masyarakat adat segenter.

Pukul 09.00 Wita, kami bersiap berangkat menuju Kecamatan Bayan. Sebelum berangkat, kami bertanya-tanya akan ketemu siapa di sana (maksudnya orang yang dikenal). Pertanyaan kami itu terjawab dengan cepat. Setiba kami di Segenter pukul 11.25 Wita, kami langsung menjumpai bapak-bapak yang sedang asyik ngopi di warung. Kami langsung memesan kopi dan bersalaman dengan bapak-bapak tersebut. Mereka menanyakan dari mana kami berasal, kami memperkenalkan nama kami dan asal kami kepadanya.

Ahmad Ijtihad tengah berbincang dengan warga Segenter

Kami ngobrol panjang dan tidak terasa kami duduk lebih dari 1 jam di warung tersebut, yaa itung-itung kopi segelas habislaaaah. Cerita dari Bapak Sumar yang cukup berpengalaman menjadi penunjuk jalan (Guide), memberikan kami banyak informasi tentang Desa Adat Segenter. Selain cerita Desa Adat Segenter, ia juga menyebutkan beberapa tempat desa adat yang berkaitan di Lombok Utara seperti Semokan, Bayan Beleq, Sesait, Gumantar dan lain-lain.

Selain itu ia juga menceritakan pengalamannya selama menjadi guide pada tahun 90-an sampai ia tidak begitu aktif lagi sejak 2016. Penghasilannya pada saat itu cukup untuk makan dan minum katanya. Pak Sumar juga aktif sebagai menejer Pepadu Presean (bela diri menggunakan rotan yang dilengkapi tameng dari kulit hewan). Ia sudah mengunjungi beberapa tempat di Lombok untuk bertanding, ia mengatakan bahwa ia tidak akan bertanding lagi kalau melihat badan teman-temannya yang memar, “Kalau saya lihat teman-teman saya yang memar akibat sabetan rotan, saya merasa tidak akan bertanding lagi”, ungkapnya sambil membayangkan kejadian yang sudah lampau. Ternyata ia bukan hanya menejer, tapi sering juga bertanding. Suasana mendung di Segenter, saya melihat warga yang membawa pohon singkong beserta daunnya untuk dijadikan pakan ternak.

Menurut keterangan Pak Sumar, sekarang di Bayan sedang musim panen Singkong, berhektar-hektar tanah ditanami singkong. Musim panen singkong ini dimulai sejak Januari 2017, tapi sampai hari ini belum habis, “Hampir setiap hari saya mengirim singkong menggunakan truk ke Narmada, Lombok Barat, itu dari Januari sampai sekarang masih ada yang belum dipanen”, ungkapnya.

Nampak barisan rumah adat masrakat segenter, Desa Sukadana Kec. Bayan Lombok Utara.

Semakin siang dan terik kami rasakan, kami menyegerakan diri masuk dan bertemu dengan warga yang lain. Kami diantarkan langsung ke rumah salah satu warga di kompleks pemukiman Desa Adat Segenter. Kami langssung bertemu dengan Inaq Rusmini. Dengan ramah tamahnya, ia langsung mengajak kami menuju rumahnya, “Mari ke rumah, kita ngopi-ngopi dan ada yang saya akan ceritakan”, sapanya ramah. Ajakannya berkenaan dengan azan di masjid, kamipun menuju masjid terlebih dahulu untuk sholat Zuhur. Sepulang dari masjid, kami langsung menuju rumah Inaq Rusmini.

Inaq[1] Rusmini merupakan salah satu warga asli Segenter. Ia banyak menceritakan tentang dirinya yang tinggal di Desa Adat Segenter, tentang rumah tuanya dan aktifitasnya sehari-hari. Ia menyuguhkan kami kopi hangat, katanya sih kopi Lombok, ya iyalah kopi Lombok, kopinya diseduh di Bayan. Kopi nikmat ditemani sepiring jajanan maulid yang ia bawa dari Aiq Ampat, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, karena beberapa hari lalu ia diundang oleh keluarganya yang ada di sana, Lombok Tengah. Salah satu anak Inaq Rusmini menikah ke sana, tidak heran kemudian ia mampu berbahasa sasak menggunakan logat Lombok Tengah. Selain ia memiliki ikatan keluarga dengan wagra Lombok Tengah, ia juga sempat menjadi pedagang dan berkunjung ke beberapa pasar di Lombok Tengah dan Lombok Barat, salah satunya Pasar Gunung Sari.

Bahan yang digunakan untuk mamak (nyirih) didalamnya, ada daun sirih, buah pinang dan kapur

Obrolan kami panjang sekali dan saya mencoba “Mamaq” atau Nyirih Nginang. Saya jadi penasaran ketika melihat Inaq Rusmini dan ibu-ibu lainnya nyirih nginang. Beberapa lembar daun sirih dipilihkan langsung oleh oleh Inaq Rusmini. Rasanya sedikit pedas dan mungkin saya tidak akan tahan selama 10 menit. Sembari belajar nyirih, Inaq Rusmini menceritakan nama saat ia gadis, nama gadisnya adalah Simpeni. Ternyata Inaq Rusmini panadi bercanda, beberapa kali ia menyebut nama gadisnya, “Nama saya ini sangat terkenal loo, nama saya disebut di mana-mana, misalnya sedang bertemu cewek, kalau dikasih nomer HP, pasti sebut nama saya, Simpen yaa nomer saya”, candanya sambil tertawa terbahak.

Ahmad Rosidi di ajarkan memamaq oleh inak Rusmini

Tidak lama kemudian, putranya bernama Hambali datang, kamipun berkenalan. Berbicara soal nama seperti candaan Inaq Rusmini, putranya tidak mau kalah, nama Hambali bukan sekedar nama seperti biasanya, melainkan singkatan dari ‘Hamba Allah Bayan Asli’. Aduuuuh anak dan ibu ini tidak mau kalah.

Hambali yang berprofesi sebagai guru di madrasah ini menceritakan banyak hal mengenai Desa Adat Segenter. Ia menceritakan mengenai Segenter yang dijadikan kampung wisata, bagaimana warga berkegiatan setiap hari, pemerintah hingga masakan daun kelor buatannya sangat digemari oleh tamunya dari Malaysia.

Selain menjadi guru, ia juga menjadi Emban (wakil) Pemekel (Penghulu) adat. Ketika Pemekel tidak bisa menghadiri undangan dari warga, Hambali-lah yang akan mewakilinya.

Berbagi dan bercerita bersama Hambali, putra Inaq Rusmini

Suasana menjadi sangat seru di atas Berugaq (Gazebo) bertiang enam dengan cerita-cerita menarik, sepiring jajanan mauled dan kopi yang sedikit sudah mendingin. Cuaca sedikit berangin dan langitpun mulai menutup diri, tapi bukan berarti akan hujan.

Hujan jarang sekali jatuh di Bayan, walaupun di tempat lain seperti di Kecamatan Pemenang atau di Mataram hujan tidak pernah reda, tapi di Bayan masih terasa panas. Tapi petani di Bayan sedang mempersiapkan ladang mereka, membajaknya terlebih dahulu dan hujanpun tiba kemudian setelah tanah siap ditanami.

Melihat mendungnya langit, kamipun bergegas menuju ke rumah Kadus (Kepala Dusun) Segenter untuk meminta izin tinggal dan belajar di sana selama beberapa hari. Sepertinya tidak berkesempatan bertemu hari ini. Menurut keterangan istrinya, Pak Kadus sedang tidak di rumah. Tapi sebelumnya, kami sudah menitip salam pada Hambali untuk menyampaikan niatan kami untuk belajar di sana untuk beberapa hari.

Berziarah ke TPU masyarakat Segenter.

Saat akan pulang, kami tidak lupa Menabeq (permisi) dengan para sepuh-sepuh dan orang tua yang sudah meninggalkan kita terlebih dulu. Kami menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Segenter ditemani Paman Sumarti. Ia merupakan seorang guide senior yang kebetulan tadi sore sedang duduk santai di warung. Kami mengajaknya ikut serta ke TPU. Ia begitu lihai menjelaskan kepada kami mengenai TPU tersebut, ia menunjukkan kepada kami beberapa makam yang sudah tua. Makam-makan yang selama hidupnya cukup berpengaruh di Segenter atau Desa Sukadan secara umum.

Lapnagan Segenter dengan background gunung rinjani.

Tidak lupa juga kami mengunjungi lapangan bola Segenter. kalau berbicara eksotisnya, lapangan ini dilengkapi dengan latar belakang Gunung Rinjani. Kali ini kami menyaksikannya setengah tertutup awan putih dan tipis, dikombinasi dengan mendung dari arah laut. Paman Sumarti juga memberikan rekomendasi lokasi yang harus dikunjungi tepat dan bagus di pagi hari. “Kita bisa menikmati pemandangan matahari terbit dari sana, kita hanya berdiri di atas bukit dan mendapatkan pemandangan kreeen dan jangan lupa bawa kamera”, jelasnya sambil berjalan.

Sore semakin terasa, kamipun berpamitan dengan Paman Sumarti dan bertukar nomer HP.

[1] Inaq merupakan bahasa sasak dari ibu.

By |2017-12-22T07:08:31+00:00December 22nd, 2017|Journals|0 Comments

About the Author:

mm
Ahmad Rosidi lahir di Makkah, 16 Maret 1989. Dhoom nama panggilannya. Ia menyelesaikan kuliash S1 di IAIN Mataram jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Selama berkuliah ia aktif di salah satu unit kegiatan mahasiswa bidang teater. Setelah itu, ia mendirikan Berugaq Pictures, sebuah inisiatif mahasiswa untuk mendalami media. Kemudian ia bergabung dengan Pasirputih sejak 2014. Keseriusannya membuatnya dipercaya menjadi sekretaris Pasirputih. Ia juga mengelola website BerajahAksara.

Leave A Comment