Mintarja Bersama Siswa, Berkarya Untuk Berbahagia

//Mintarja Bersama Siswa, Berkarya Untuk Berbahagia

Perkembangan dalam dunia kesenian memang sudah tidak bisa dibendung lagi, bermacam aliran dan pemahaman seni bermunculan. Bahkan banyak ungkapan yang mengatakan perkembangan kesenian seiring dengan perkembangan teknologi. Pameran seni rupa terlaksana di mana-mana, terutama di Indonesia, produksi filem yang semakin merebak, komunitas-komunitas yang bergerak di bidang seni, belum lagi aktifitas di sekolah-sekolah yang malaksanakan agenda kreatif di setiap selesai jam sekolah yang dikemas dengan istilah kegiatan ekstrakulikuler. Banyak sekolah yang belakangan ini atau mungkin sudah lama, melakukan aktifitas kreatifnya secara bersama antara pengajar dan siswa didik. Yang kemudian dipamerkan di ruang kelas.

Berbicara aktifitas kreatif di sekolah, program yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2017, yang dinamakan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) dan seniman mengajar, saya rasa cukup menarik untuk terus dilakukan, tapi walaupun program ini tidak ada, banyak juga seniman yang sudah menjadi tenaga pengajar di sekolah, yang kemudian bahan ajar yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kreatif, hanya saja program GSMS dan Seniman Mengajar ini memiliki dana khusus yang menunjang terlaksananya kegiatan tersebut.

GSMS yang dilaksanakan di Lombok Utara, mengundang beberapa seniman asal Lombok Utara dan Lombok Barat, melakukan proses kreatifnya di sekolah-sekolah yang sudah ditetapkan oleh penyelenggara (Kemendikbud) yang dilengkapi langsung dengan adanya asisten seniman dan pendamping seniman dari pihak sekolah, yang juga sangat berperan penting pada proses ini. Selama tiga bulan (September-November), para seniman berproses bersama siswa di sekolah.

 

Salah satu seniman yang terpilih adalah Lalu Mintarja dan asisten seniman Gede Pasek. Dua seniman ini berproses bersama siswa Sekolah Dasar 3 Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Dalam proses kreatifnya, ada empat karya yang dihasilkan, sekitar 50 karya Bonsai Plastik, lukisan-lukisan alam, video-video dan Plakat Salam Pohon. Karya-karya ini dibikin langsung oleh siswa yang dibimbing oleh kedua seniman.

Keceriaan dimata mereka adalah kebahagiaan.

Peserta yang terlibat awalnya hanya 20 siswa, namun seiring perjalanan proses, kurang lebih 60 siswa yang ikut berpartisipasi pada proses kreatif tersebut. Lalu Mintarja mengagendakan pameran akan dilaksanakan dua kali, yaitu di sekolah pada tanggal 2 Desember 2017 dan presentasi akhir pada 12 Desember 2017, namun dengan adanya kendala cuaca dan kesibukan pihak sekolah, mengharuskan Lalu Mintarja menunda pameran di sekolah.

Sore yang masih basah karena rintik hujan pada Selasa, 12 Desember 2017, merupakan akhir dari program GSMS dan presentasi akhir secara bersama di Gedung Serbaguna Gondang, Lombok Utara. Presentasi akhir ini dibuka langsung oleh ketua panitia, Imam Safwan sekitar jam 16.56 Wita.

Presentasi pertama sebagai pembukaan adalah pameran karya SDN 3 Genggelang yang difasilitatori oleh Lalu Mintarja dan Gede Pasek. Pemilihan lokasi display oleh Lalu Mintarja menarik, karena ia berada di luar paling depan, tepat pada teras depan gedung, sebelum menuju pintu masuk gedung, maka akan melewati karya-karya siswa.

Plakat “Salam Pohon” adalah salam kehidupan

Yang paling depan pameran, terdapat Plakat Salam Pohon yang berisi nyanyian menggunakan bahasa lokal Lombok Utara. Plakat tersebut berisi lirik lagu “mendede” atau dalam bahasa Indonesia berarti menina bobokan yang dilengkapi rekaman seorang ibu yang menyanyikannya. Plakat ini mampu mengambil fokus para pengunjung, terutama siswa-siswa yang berusaha mengahafalkannya sesuai dengan lagu yang mereka dengar dan baca pada plakat tersebut. Plakat ini merupakan karya unggulan dari pameran tersebut.

Siswa tengah menunjuk poto mereka yang terdapat di Poster pameran.

Menurut Bapak ALIIII yang saya biasa panggil Waq Alli, ia mengatakan, lagu ini biasa dinyanyikan oleh ibu-ibu untuk menina bobokan anaknya yang masih balita, “ Masihku inget lagu ne, tau laeq o ya keange mendede anake (Saya ingat lagu ini, sering dinyanyikan bu-ibu saat meninana bobokan kita-kita dulu)”. Sesekali ia nyanyikan lagu tersebut sembari mengingat-ingat sambungannya.

Dua video juga menjadi pelengkap pameran ini, video 1 berisi rekaman proses selama di sekolah, berisi wawancara peserta, pihak sekolah, dua seniman (Lalu Mintarja dan Gede Pasek) dan proses pembuatan Bonsai Plastik. Video lainnya berisi tutorial pembuatan Bonsai Plastik dan Pembuatan pot menggunakan barang bekas. Video-video ini juga mampu menyedot antusias pengunjung dan juga memudahkannya untuk mengetahui proses kreatif yang dilakukan seniman di sekolah.

menonton video proses kekaryaan.

Begitu juga dengan karya lukis kolaborasi antara peserta dan Gede Pasek. Pada dua papan triplek berukuran 2,5 m X 1,5 m. Lukisan rumah, pohon, mobil, wajah dan sebagainya, memenuhi papan triplek tersebut. Gede Pasek juga merespon lukisan tersebut dengan menempelkan beberapa karya lukis peserta pada kertas kemudian digabungkan pada triplek, dilengkapi juga beberapa tulisan salah satunya “Aku Seniman”.

Terlihat Lalu Mintarja menjelaskan kepada pengunjung yang melihat-lihat karya dari peserta (siswa). Sesekali muncul pertanyaan dari pengunjung “Bagaimana cara membuatnya?”. Lalu Mintarja hanya menjawab dengan menunjuk telivisi yang sudah disiapkannya sesekali dengan penjelasan menggunakan verbalnya.

Lalu Mintarja tengah menjelaskan kepada para pengunjung tentang karya yang dihasilkan bersama siswa.

Pameran berlangsung selama kurang lebih 7 jam terhitung dari jam 16.00 Wita. Menurut obrolan saya dengan Lalu Mintarja sebagai seniman pada program GSMS ini, ia merasa ini menarik dan kegiatan seperti ini terus dilakukan oleh seniman tanpa terlalu memikirkan anggarannya, “Yaaa mudahan saja ini menjadi bukan yang terakhir dalam proses kreatif di sekolah, ada atau tidaknya anggaran, mari kita tetep bersama-sama berproses secara totalitas”, sambutnya saat ngobrol asyik di berugaq depan Gedung Serbaguna Gondang.

Terima kasih kami ucapkan kepada semua pengunjung yang sudah mengapresiasi proses kreatif kami, semua komunitas terutama Yayasan pasirputih, semua seniman, sekolah-sekolah terutama SDN 3 Genggelang yang telah menerima kami dengan baik dan bekerja sama dan terima kasih juga kepada pemerintah yang sudah memfasilitasi kami.

SALAM POHON

By | 2017-12-19T12:43:06+00:00 December 19th, 2017|Journals|0 Comments

About the Author:

mm
Ahmad Rosidi lahir di Makkah, 16 Maret 1989. Dhoom nama panggilannya. Ia menyelesaikan kuliash S1 di IAIN Mataram jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Selama berkuliah ia aktif di salah satu unit kegiatan mahasiswa bidang teater. Setelah itu, ia mendirikan Berugaq Pictures, sebuah inisiatif mahasiswa untuk mendalami media. Kemudian ia bergabung dengan Pasirputih sejak 2014. Keseriusannya membuatnya dipercaya menjadi sekretaris Pasirputih. Ia juga mengelola website BerajahAksara.

Leave A Comment