AksaraTani; Penjual Tanaman di Pulau Garam

//AksaraTani; Penjual Tanaman di Pulau Garam

Seperti biasa , pagi itu kampung di Gili Meno  masih sepi. Menurut beberapa orang lokal yang memiliki usaha penginapan, termasuk Mbak Ace bahwa bulan Oktober sampai Desember nanti adalah bulan-bulan sepi kedatangan tamu.  Bulan ini biasanya digunakan untuk melangsungkan pembangunan dan pembenahan kebun setelah musim kering. Biasanya hujan di gili meno di mulai pada bulan November hingga awal tahun nanti. Jadi, tidak heran beberapa kali pak Masnun datang ke Gili Meno membawa beberapa tanaman.

Pak Masnun adalah orang asli Banyumulek, Lombok Barat. Keseharian pak Masnun adalah pedagang keliling bibit tanaman, mulai dari tanaman hias , buah, media tanam, gerabah, bahkan mainan anak-anak. “Saya menjual bibit tanaman biasanya ketika musim hujan mulai masuk, kalau musim kering biasanya saya menjual gerabah atau mainan anak. Gerabah saya ambil dari Banyumulek. Karena Banyumulek itu salah satu daerah penghasil gerabah di Lombok” kata pak Masnun sambil menikmati segelas lemon tea dingin yang disajikan oleh Ririn, salah satu karyawan di The This Kon. Menurut bang Imran, setiap ke Meno, pak Masnun akan menyempatkan diri untuk datang ke The This Kon, walau hanya untuk bertegur sapa dan bertukar cerita.

Pak Masnun, tidak ingat betul sejak tahun berapa menjadi penjual bibit tanaman. Kata Pak Masnun, dia mulai keliling di Gili Meno saat hotel-hotel masih sepi tidak seperti saat ini yang sudah mulai banyak. Sebelum di Gili Meno, pak Masnun berjualan di Gili Trawangan dan Gili Air. Pak Masnun mencoba peruntungan pertama kali di daerah Rempek, Gangga Lomok Utara. Saat itu, pak Masnun menjual bibit mangga dengan harga 1500 per pohon. Setelah itu pak Masnun mulai mencoba menjual bibitdi Gili Trawangan, karena Trawangan mulai dikenal dengan pariwisatanya. Ketika menjual tanaman di Gili Trawangan, banyak bibit yang mati karena udara dan lingkungan panas. Dari bibit-bibit tanaman hias yang dijual, ada beberapa yang tumbuh dengan baik dan terus berbunga, yaitu bunga kertas dan bunga kamboja jepun. Pertama kali, beli bibit tanaman tersebut dari Jawa, dan mulai dikembangkan sendiri. Jika berhasil, maka selain menjual bibit yang dibeli juga menjual bibit yang dihasilkan tersebut. “Itu juga tidak banyak, kita juga masih belajar. Biasanya kalau selain ke Jawa, kita juga nyari bibit di Rembiga” kata pak Masnun.

Pak Masnun tengah terhelat di The This-Kon.

Setelah mulai rutin berjualan di Gili Trawangan, Pak Masnun bertemu dengan orang Gili Meno yang bekerja di Trawangan, dan memesan beberapa bibit untuk dibawa di Gili Meno. Maka, mulai saat itu pak Masnun menjual bibit tanaman ke tiga Gili secara bergilir. Pak Masnun akan ke Gili Meno per 2 atau 3 hari. Menurut pak Masnun, permintaan bibit tanaman di Gili lebih banyak daripada di mainland (pinggir), karena di mainland banyak penjual bibit tanaman. “kalau di Gili, bisa dikatakan baru saya aja yang masih keliling jual bibit” jawab pak Masnun ketika ditanya mengapa memilih untuk bolak-balik menjual bibit ke Gili. Bunga yang paling banyak dipesan dan dibeli oleh orang dan bungalow-bungalow di Gili adalah bunga kertas, kamboja dan pohon mangga. Karena bunga-bunga tersebut memang dapat hidup di cuaca yang panas dan kering.

“Pertama kali jualan di Gili, saya keliling ke bungalow-bungalow, ke guest house untuk mencari pembeli. Sekarang alhamdulillah mulai ada yang mesan. Kadang saya membawa barang pesanan, bisa bunga, bisa buah. Ya tergantung orang mau pesan apa. Kadang juga bawa media tanam, kayak bang Imran pesan sekam bakar, ya saya bawakan” cerita pak Masnun tentang pekerjaannya. “ya namanya juga jualan, kadang ada aja yang komplain. Biasanya komplain itu datang kalau beli barangnya borongan. Mereka mau beli tanaman dengan ukuran tertentu, dan harga yang murah. Jadinya kan susah. Pernah juga kita kena komplain, kenapa tanamannya mati dan gak numbuh. Ya kan itu tinggal bagaimana perawatannya kita. Kalau gak dipelihara ya bisa mati. Makanya, biasanya saya bawa bibit itu mulai masuk musim hujan. Kalau nanam di musim kering rentan mati tanamannya. Karena disini benar-benar kering. Sekarang udah lumayan, ada sumur dan udah ada penyulingan ” lanjut pak Masnun.

Pak Masnun dan kawannya melanjutkan perjalanan untuk menawarkan bunga dagangannya di Gili Meno.

Menurut pak Masnun, hidup atau tidaknya bibit yang dibeli, tidak hanya tergantung dari kualitas bibitnya, tetapi juga bagaimana cara memeliharanya. “Saya juga senang, banyak yang mau beli tanaman, jadi meskipun bungalow-bungalownya banyak, tapi tetap hijau, bibit saya tetap di beli. Hehe!” tutup pak Masnun sambil melangkahkan kaki keluar dari The This Kon untuk melanjutkan mengantar pesanan dan berkeliling mencari pembeli tanaman hias atau buah.

By |2017-12-18T15:43:56+00:00December 18th, 2017|AksaraPangan|0 Comments

About the Author:

mm
Afifah Farida Jufri, M.Si. (Pekanbaru, 25 Mei 1989), Menyelesaikan pendidikan S2 dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2015. Sejak tahun 2016, ia kembali ke kota kelahirannya, Pekanbaru, untuk membangun dan mengembangkan sebuah laboratorium pertanian skala rumahan, bernama Pusat Studi Agrikultur Sayurankita demi meneliti kemungkinan pengembangan ilmu pengetahuan pertanian lewat kerangka lintas disiplin, terutama pendekatan dan metode yang berasal dari ranah seni, media alternatif, dan praktik-praktik kreatif di ranah kebudayaan kontemporer lainnya.

Leave A Comment