AksaraTani; Menggaso, Usaha Sampingan Nelayan Meno

//AksaraTani; Menggaso, Usaha Sampingan Nelayan Meno

Menggaso merupakan kerajinan anyaman atap dari daun kelapa yang masih dapat kita temui di Lombo Utara, termasuk di Gili Meno.  Menggaso artinya mengikat dan menyusun daun-daun kelapa pada kayu, bambu, atau batang dari bagian daun kelapa sehingga membentuk lembaran yang bisa digunakan untuk atap rumah. Adalah Pak Mahwi, salah satu warga Gili Meno yang masih melakukan usaha menggaso yang dibantu oleh anak dan saudaranya. Menurut penuturan pak Mahwi, di Gili Meno masih ada beberapa kelompok yang masih melakukan usaha menggaso. Bagi pak Mahwi, menggaso adalah kegiatan sampingan yang dibuat ketika ada pesanan, karena pekerjaan utama pak Mahwi adalah nelayan.

Hamdani (Seniman Video-Film PasirPutih) tengah mewawancarai Pak Mahwi

Pak Mahwi berasal dari Gili Air sebelum pindah dan menetap di Gili Meno. Pekerjaan nelayan ditekuni oleh pak Mahwi sejak kecil bersama orangtuanya ketika tinggal di Gili Air. Pada saat itu, nelayan masih menggunakan kapal kecil tanpa mesin dan menggunakan pancingan. Dan sampai saat ini, pak Mahwi masih menggunakan pancingan utuk menanggkap ikan meskipun sudah menggunakan kapal mesin. Hasil melaut tersebut dijual ke daerah Pandanan, Senggigi, Kecinan atau Bali. Menurut pak Mahwi, dulu di Gili Meno belum ramai dan banyak orang seperti saat ini, sehingga hasil melaut tidak habis dijual di Gili Meno, makanya hasil tersebut di jual di Lombok (sebutan warga gili untuk mainland) atau di Bali. Namun, tidak jauh berbeda dari sekarang, meskipun Gili Meno mulai ramai kedatangan pendatang, hasil tangkapan ikan juga masih sering dijual di Lombok (mainland) daripada di Gili Meno tergantung jarak melaut dengan daratan.  Jika melaut dekat dengan Gili Meno, biasanya hasil tangkapan ikan dijual ke Gili Meno. Menurut pak Mahwi, dulu, ikan masih banyak dan mudah ditangkap namun kesulitan dalam menjual dan harganya sangat murah, sedangkan sekarang ikan mulai sedikit, tetapi harganya lebih mahal. Kadang, pergi melaut hanya dapat satu bakul besar ketika sampai di Gili Meno, langsung habis karena banyak warung-warung makan yang mencari ikan-ikan segar.

Pak Mahwi juga pernah menjadi kapten kapal penyebrangan dari Pelabuhan Bangsal (mainland) menuju Trawangan selama 8 tahun. Namun pada akhirnya pak Mahwi memilih berhenti, karena pendapatan yang diperoleh tidak mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga. Pak Mahwi bercerita bahwa menjadi seorang kapten belum tentu pendapatannya besar, karena yang digunakan bukan kapal milik sendiri sehingga ada bagi hasil yang menurut pak Mahwi tidak sehat. Menjadi seorang kapten selain bertanggungjawab pada keselamatan penumpang, juga harus bertanggungjawab pada keselamatan kapal. Tidak sama dengan angkutan darat ketika parkir aman tidak berpindah, namun kapal tetap bergerak mengikuti gerak laut sehingga pada saat parkir masih ada kemungkinan antar kapal bertabrakan terutama saat musim angin kencang. Melihat pertanggungjawaban yang cukup tinggi tersebut pada akhirnya pak Mahwi memilih berhenti menjadi kapten kapal.

Pada musim angin kencang, hujan dan tidak bisa melaut, pak Mahwi juga pernah bertani menanam jagung, kacang hijau, kacang tanah, dan singkong. Bahkan waktu kecil pak Mahwi pernah merasakan menanam dan memanen kapas selama 2 tahunan di Gili Meno.  Menurut pak Mahwi, sebelum pariwisata masuk, tidak ada jual beli di Gili Meno. Pak Mahwi pernah merasakan makan nasi singkong, sayur daun ubi dan tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan, dan ikan dari laut. Jual beli barang-barang kebutuhan seperti beras dan yang lainnya mulai masuk ketika pariwisata mulai masuk, ketika akses dari mainland ke Gili lebih gampang. Saat ini, bertani tidak lagi dilakukan, karena lahan-lahan sudah dijual dan sudah banyak dimiliki oleh pendatang meskipun lahan-lahan tersebut masih belum dibangun.

Menggaso ialah membuat atap dari anyaman pelepah kelapa yang sudah dikeringkan.

Meskipun pekerjaan utama pak Mahwi adalah nelayan, atau pernah menjadi kapten kapal, namun usaha menggaso yang paling banyak membantu perekonomian keluargan pak Mahwi. Menggaso sudah ditekuni oleh pak Mahwi dan istrinya sejak tahun 1970an, setelah menikah dan pindah ke Gili Meno. Pak Mahwi mengaku bahwa biaya sekolah anak-anaknya lebih banyak berasal dari usaha menggaso daripada menjadi kapten kapal atau nelayan yang hasilnya tidak menentu. Permintaan atap daun kelapa sampai saat ini masih cukup banyak karena dalam membangun rumah, bungalow atau bergugak (tempat berkumpul dan menerima tamu di luar rumah utama, yang biasanya terbuat dari bambu atau kayu dengan atap daun kelapa atau alang-alang)  di Gili Meno masih menggunakan atap dari daun kelapa.

Daun kelapa untuk menggaso ini diperoleh dari hasil memungut di kebun kelapa, dan dibeli dari tetangga satu paket dengan kayu tengah untuk mengikat daun kelapa tersebut. Pak Mahwi mengatakan bahwa pencarian daun kelapa mulai susah karena pohon-pohon kelapa mulai banyak ditebang untuk pembangunan bungalow dan kebun kelapa sudah mulai banyak dijual dan ada pemiliknya. Daun kelapa yang digunakan adalah daun kelapa kering yang direndam dengan air sebelum diikat, dan setelah selesai diikat maka dijemur agar kembali kering. Perendaman tersebut bertujuan agar daun tidak patah dan hancur ketika dilipat. Menurut pak Mahwi, dalam satu bulan, produksi atap kelapa bisa mencapai 300 lembar. Dalam satu hari, pak Mahwi, anak dan istrinya masing-masing dapat menggaso sampai 6-10 lembar dengan panjang sekitar 1.5 m. satu lembar daun atap kelapa dijual sekitar Rp. 8000.

Kediaman pak Mahwi yang menjadikan usaha menggaso sebagai usaha yang di geluti diselah-selah profesi nelayan.

Dulu, pak Mahwi juga pernah menggaso menggunakan alang-alang. Berhubung saat ini alang-alang sudah tidak bisa ditemukan di Gili Meno, maka pak Mahwi hanya menggaso menggunakan daun kelapa. Menurut pak Mahwi, selama kita masih menggunakan budaya atap rumah dari daun kelapa untuk berugak, maka menggaso akan tetap ada dengan catatan pohon kelapa juga masih ada. Karena daun kelapa adalah bahan utama menggaso setelah alang-alang sudah lagi tidak ditemukan. Ketika pembangunan pariwisata tidak memedulikan hal-hal kecil seperti ini, maka tidak menutup kemungkinan budaya menggaso akan hilang seiring hilangnya pohon-pohon kelapa yang digantikan dengan bungalow-bungalow mewah.

By | 2017-11-28T05:36:28+00:00 November 28th, 2017|AksaraPangan|0 Comments

About the Author:

mm
Afifah Farida Jufri, M.Si. (Pekanbaru, 25 Mei 1989), Menyelesaikan pendidikan S2 dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2015. Sejak tahun 2016, ia kembali ke kota kelahirannya, Pekanbaru, untuk membangun dan mengembangkan sebuah laboratorium pertanian skala rumahan, bernama Pusat Studi Agrikultur Sayurankita demi meneliti kemungkinan pengembangan ilmu pengetahuan pertanian lewat kerangka lintas disiplin, terutama pendekatan dan metode yang berasal dari ranah seni, media alternatif, dan praktik-praktik kreatif di ranah kebudayaan kontemporer lainnya.

Leave A Comment