AksaraTani; Bertani Untuk Berbahagia di The This-Kon

//AksaraTani; Bertani Untuk Berbahagia di The This-Kon

Awal mula The This-Kon.

The This-Kon berdiri pada awal September tahun 2016. Sejarah The This-Kon ini berawal dari obrolan dengan pasirputih dan forum lenteng, bagaimana membuat suatu tempat sebagai spaceart yang dapat membentuk suatu ruang yang bermanfaat. Selain itu, saya juga melihat bagaimana latar belakang istri saya yang basicnya pendidikan bahasa inggris dan pariwisata yang saat itu masih bekerja dengan orang lain.  Saya berpikir, cukup rasanya Ace bekerja dengan dan untuk orang lain (Bosnya orang Eropa) dan mengapa saya dan Ace tidak mengelola usaha sendiri, agar ilmu Ace selain dapat berkembang, juga dapat berbagi ilmu dengan orang lain, baik bahasa inggris dan ilmu dalam mengelola guesthouse atau bungalow dan berinteraksi dengan tamu-tamu. Dari sini saya berpikir untuk membuat The This-Kon yang selain sebagai spaceart, juga sebagai fasilitas dan ruang bagi Ace untuk terus berkembang dan berbagi.  Jadi, ruang yang bermanfaat ini tidak hanya untuk orang lain, tapi juga bagi istri dan ekonomi keluarga saya.

Nama The This-Kon tidak seperti nama bungalow-bungalow lain yang memberi namanya dengan serius. Tapi saya dan Ace mencoba mencari nama yang lucu tapi tetap keren. Sebelum The This-Kon, nama tempat ini “Gratis”. Setelah beberapa lama, saya kembali berpikir dengan nama “Gratis” ini. Nanti orang-orang benar-benar berpikir tempat ini gratis. Maka, saya dan Ace mengganti namanya enjadi  “Diskon”, tapi bagi saya nama ini masih belum keren. Setelah beberapa malam berpikir, maka saya, Ace dan dua orang teman Ace, Ari dan Sandika berdiskusi tentang nama tempat ini. Setelah berembuk maka muncullah nama “The This-Kon” yang artinya “Ini Tempat”. “This” berasal dari bahasa Inggris yang artinya “ini”, sedangkan “Kon” berasal dari bahasa Pemenang (Lombok Utara) yang artinya “Tempat”. Kalau mendengar kata “The This-Kon” maka antara bisnis dan sosialnya ada, seimbang. Secara bisnis menarik karena diskon, sedangkan secara sosial artinya adalah “ini tempat”, yang bisa menjadi “tempat apa aja”, bisa jadi tempat menginap, tempat sharing, tempat ngumpul, tempat bertani atau tempat berekspresi.

Perbedaan The This-Kon dengan bungalow-bungalow lain adalah cara pelayanannya yang memakai prinsip kekeluargaan. Kita berusaha melihat kebutuhan tamu secara detail dan mengutamakan kenyamanan tamu meskipun sistem pelayanannya sederhana. Selain itu, antara pegawai dan owner tidak ada keterikatan dan kita memiliki kesetaraan dalam berpikir. Tidak ada perbedaan antara pekerja dan owner.

Saya bersama Ace juga sedang mencoba membangun dan menyediakan akomodasi yang tidak terlalu formal tapi nyaman untuk tamu-tamu, agar tamu-tamu dan teman-teman dapat nongkrong dengan nyaman dan santai seperti ecohostel. The This-Kon mencoba menjawab The This-Kon sebagai tempat, sehingga The This-Kon menyediakan program residensi. Teman-teman bisa tinggal di The This-Kon tetapi juga memberikan sesuatu yang positif untuk The This-Kon dan Gili Meno. Salah satu program residensi yang sedang dicoba adalah Aksara Tani.

Menanam di pekarangan The This-Kon.

The This-Kon Menanam.

Mengapa The This-Kon mau menanam? Ya karena menurut saya menanam itu penting. Pertama, untuk memenuhi kebutuhan. Karena Ace sangat suka makan sayur. Salah satunya ya bagaimana The This Kon ini juga menyediakan kebutuhan Ace dengan  mudah. Dan mimpi saya dan Ace, The This-Kon memiliki restoran yang sehat. Nah, untuk memenuhi kebutuhan restoran itu makanya The This-Kon mencoba menanam sayur-sayuran.

Dengan menanam juga, The This-Kon mencoba menyediakan ruang yang bermanfaat. The This-Kon juga ingin membuka kelas. Salah satunya dengan menanam ini dapat mengajak warga untuk belajar dan disini kita sama-sama belajar. Ace yang berlatar belakang pendidikan bahasa Inggris, dengan adanya kelas menanam ini  dapat menyalurkan ilmu bahasa Inggrisnya, seperti mengenal tanaman dengan bahasa Inggris untuk anak-anak disini.

Imran tengah menuliskan nama-nama tanaman yang ada di perkebunan The This-Kon

Selain itu, The This-Kon juga ingin merespon keadaan pulau ini. Sebelum terjadinya perkembangan pariwisata, masyarakat Gili Meno juga menanam, terutama menanam palawija seperti kacang-kacangan. Saya ingin mengembalikan atau mengenang masa lalu itu, meskipun saya bukan warga asli Gili Meno, tapi saya bisa merasakan bagaimana perubahan-perubahan di Gili Meno. Menurut saya, sayang aja kalau pulau ini ditumbuhi dengan bangunan-bangunan tetapi tidak memerhatikan lingkungan. Tidak hanya pulau ini, tetapi juga dua gili lainnya, pemasok sayuran masih berasal dari pinggir (mainland) terutama dari Lombok Timur. Maka sebenarnya, menanam ini juga hitung-hitung ngirit biaya dapur, kalau sudah ada sayur di rumah maka kita gak perlu beli sayur lagi.

Kemarin saya dan Ace sempat mencoba  menanam cabai saat ada isu harga cabai tinggi.  Cuma saya dan Ace juga gak ngerti menanam yang baik itu bagaimana, kurangnya perawatan, jadi sekali panen, tanamannya layu dan mati terbengkalai. Selain cabai, saya juga pernah menanam singkong, dan menghasilkan meskipun gak maksimal karena gak dirawat. Hehe!

Gozali dan Hamdani tengah mempersiapkan media tanam bagi tanaman yang akan dibudidaya di pekarangan The This-Kon

Saat Bangsal Menggawe 2017 lalu, saat teman-teman Jakarta datang ke Gili Meno,  saya berdiskusi dengan bang Hafiz dan Gozali yang akhirnya saya menemukan semangat untuk menanam lagi, salah satu tujuannya untuk pengetahuan dan kita mencoba mengemasnya semenarik mungkin. Kemasan ini dalam Aksara Tani. Tidak hanya fokus pada menanam saja, tetapi juga bagaimana mendapat pengetahuan dan menyampaikan informasi tentang pertanian sekaligus mendapat informasi tentang pertanian Gili Meno. The This-Kon optimis bawah ada sayuran yang dapat tumbuh dengan baik karena kemarin sudah mencoba menanam sawi, cabai dan singkong. Cuma memang belum dipelihara dengan baik. Tetapi untuk sampai pada tahap itu masih butuh waktu, dan penelitian untuk menemukan metode penanaman yang baik karena kondisi tanah dan air yang berbeda di pinggir (mainland). The This-Kon berharap kita semua masuk surga dengan adanya kegiatan ini dan warga juga merespon Aksara Tani dan mau bertanam dan belajar bersama. Mari menanam.

By | 2017-11-28T06:47:00+00:00 November 28th, 2017|AksaraPangan|0 Comments

About the Author:

mm
Muhammad Imran adalah salah seorang tenaga kontrak di PLN Cabang Gili Meno. Ia bergabung dengan Pasirputih untuk menyalurkan kegelisahannya terhadap kondisi masyarakat di Tiga Gili. Ia aktif menulis dan membingkai permasalahan sosial masyarakat Tiga Gili, khususnya di Gili Meno.

Leave A Comment