Diskusi Publik; Menjajaki Teknologi Pertanian Lahan Kering

//Diskusi Publik; Menjajaki Teknologi Pertanian Lahan Kering

Penelusuran tentang Bumi Gora dan lahan kering yang identik dengan NTB membawa tim Aksara Pangan untuk mencari informasi lebih lanjut tentang bagaimana kondisi lingkungan NTB, khususnya Lombok baik kondisi iklim dan tanah. Pertanyaan mendasar adalah apakah teknik gogo rancah adalah teknik yang tepat untuk memanfaatkan lahan kering dan apakah sistem tanam gogo rancah masih relevan dengan kondisi saat ini untuk memenuhi pangan masyarakat NTB khususnya, dan masayarakat Indonesia umumnya. Untuk membantu dalam mengumpulkan informasi tersebut, maka kami mengadakan diskusi publik bersama Prof. Suwardji, salah satu guru besar dan juga wakil rektor IV dari Universitas Mataram (UNRAM). Kegiatan diskusi publik diadakan pada hari Sabtu, tanggal 16 September 2017 pukul 16.00 WITA di sekretariat Yayasan Pasir Putih, Pemenang-Lombok Utara. Diskusi publik ini juga dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswa UNRAM.

Diskusi publik yang dihadiri oleh mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Mataram.

Diskusi publik ini diawali dengan perkenalan tentang Berajah Aksara sebagai pelaksana kegiatan riset kolektif yang untuk saat ini sedang fokus pada #AksaraPangan, yang membahas tentang sejarah Bumi Gora dan lahan kering di Lombok. BerajahAksara memaparkan temuan-temuan yang diperoleh setelah dua minggu melakukan riset tentang Bumi Gora. Beberapa temuannya adalah sedikitnya arsip (tulisan, foto dan video) tentang sejarah pencapaian Bumi Gora dari awal sistem Gora diintroduksi sampai pencapaian swasembada beras pada tahun 1984. Selain itu juga ditemukan permasalahan yang hampir sama di setiap wilayah lahan kering, yaitu saluran irigasi yang belum merata. Dari temuan tim #aksarapangan tersebut, petani menyayangkan irigasi yang tidak merata tersebut, sehingga petani hanya dapat menanam padi sekali setahun di lahan kering saat musim hujan. Menurut petani, jika irigasi berjalan lancar, setidaknya dalam setahun mereka dapat menanam dua kali padi. Temuan lainnya adalah bagaimana masyarakat Lombok, khususnya Lombok Tengah (yang memiliki lahan kering lebih dominan daripada daerah lain) memanfaatkan lahan kering selain menanam padi. Masyarakat Lombok Tengah mulai banyak menanam tembakau untuk mendapatkan pemasukan ekonomi selama musim kering tanpa air dan tetap memilih menanam padi di musim hujan untuk memenuhi kebutuhan beras selama musim kering, meski masih seringkali petani tetap mengalami kekurangan beras karena hasil panen yang tidak terlalu baik dan tidak mencukupi sampai musim panen berikutnya. Temuan-temuan inilah yang mendasari diskusi publik ini untuk mengetahui apakah ada teknologi pertanian lain yang dapat dilakukan masyarakat di lahan kering dalam memenuhi kebutuhan pangan (beras)?

Prof. Ir. Suwardji M.App.Sc., Ph.D Menanggapi persoalan lahan kering yang terjadi di Lombok.

Menanggapi pemaparan dari Berajah Aksara tersebut, Prof. Suwardji mengatakan bahwa sejak tahun 2007, dalam memenuhi pangan seharusnya sudah tidak lagi terfokus pada beras tapi pada panganan alternatif seperti jagung atau umbi-umbian yang biasa ditanam oleh masyarakat lokal. Namun, untuk mengembalikan budaya “makan nasi” yang telah mengakar tidak mudah begitu saja. Harus ada keinginan dan campur tangan dari berbagai pihak, baik pemerintahan atau masyarakatnya. Prof. Suwardji juga mengatakan bahwa program penyamarataan dalam penanaman padi yang dilakukan sejak dulu memang keliru. Tidak semua lahan cocok untuk menanam padi. Contohnya, seperti di lahan kering yang memang dengan sistem gogo rancah dapat tumbuh dengan baik, namun jika dibandingkan dengan lahan sawah, produksi padi gogo rancah tetap berada dibawah padi sawah. Menurut Prof. Suwardji, lahan kering memang masih bisa digunakan untuk menanam padi, tetapi tidak harus menanam padi karena masih banyak jenis tanaman yang masih dapat tumbuh dengan baik di lahan kering, seperti jagung, kacang-kacangan atau umbi-umbian. Prof. Suwardji menyatakan bahwa di Lombok, pemanfaatan lahan kering sebagai lahan pertanian masih menggunakan sistem konvensional dengan input yang tinggi agar mendapatkan produksi yang lebih tinggi terutama dalam memproduksi padi karena untuk memenuhi permintaan nasional terhadap beras.

Permasalahan lahan kering tidak hanya pada kondisi tanah, tetapi juga iklim. Muhammad Sibawaihi, salah satu peserta diskusi publik melemparkan isu terkait tentang iklim dan musim yang memengaruhi pola tanam petani Lombok. Sibawaihi bercerita bahwa ternyata masyarakat Lombok memiliki kalender Rowot Sasak untuk membaca musim dan menentukan musim tanam yang masih digunakan oleh petani sampai saat ini. Namun, petani mulai kesulitan menentukan waktu tanam karena kondisi iklim, tanah dan pola tanam yang mulai berubah.

Para peserta Diskusi Publik menjajaki terknologi pertanian lahan kering di kantor PasirPutih.

Prof. Suwardji sepakat dengan pernyataan Sibawaihi bahwa memang ada beberapa tanda alam yang akan menunjukkan waktu yang pas untuk menanam. Salah satunya dengan melihat pola tanam rumput yang sekarang mulai langka (sayangnya Prof. Suwardji juga lupa nama rumputnya). Jika rumput tersebut sudah tumbuh, maka lahan juga siap untuk ditanami tanaman. Prof. Suwardji mengatakan bahwa di UNRAM terdapat Pusat Penelitian Perubahan Iklim yang salah satunya juga meneliti tentang Warige (perhitungan musim). Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pembacaan Warige tidak berbeda jauh dengan BMKG, bahkan dapat lebih baik dalam menentukan perkiraan cuaca dan iklim. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Lombok sejak dulu memiliki budaya membaca Warige dalam menentukan musim tanam dan jenis tanaman apa yang harus ditanam.

Diskusi berlanjut tentang bagaimana sikap kita dalam menghadapi lahan kering yang semakin lama semakin meluas, terutama di Lombok. Di satu sisi, masyarakat tetap membutuhkan makanan (beras) dan memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mengembalikan budaya makanan alternatif selain beras. Di sisi lain, lahan kering yang kritis juga semakin meluas dan sangat memungkinkan menyebabkan penurunan produksi beras setiap tahun. Pertanyaannya adalah apakah mungkin ketahanan pangan dapat kita capai?

Prof. Suwardji mencoba untuk memberikan alternatif terhadap permasalahan lahan kering di NTB.

Prof. Suwardji menanggapi bahwa cara yang memungkinkan dalam memenuhi ketahanan pangan adalah kembali pada ketahanan pangan alternatif, menanam komoditas sesuai dengan kondisi lahan dan lingkungan lokal. Budaya pangan alternatif memang akan membutuhkan waktu yang lebih lama, tapi bukan berarti tidak bisa, seperti di India yang kembali berhasil mencapai kejayaan pangan lokal. Menurut Prof. Suwardji, dengan adanya ketersediaan komoditas-komoditas alternatif yang ditanam oleh masyarakat dengan hasil yang lebih baik dan menahan untuk tidak mengimpor beras, maka budaya panganan alternatif ini bisa dapat dikembalikan.

Sebelum diksusi ditutup, Suwardi, salah satu mahasiswa UNRAM bertanya tentang kemungkinan menanam jenis hortikultura pada lahan kering mengingat persediaan air terbatas. Prof. Suwardji menanggapi bahwa banyak cara bagaimana kita bisa mengelola lahan kering.  Pembuatan bendungan adalah salah satu cara yang lain, tetapi tidak harus membuat bendungan agar lahan kering dapat digunakan untuk lahan pertanian. Kita dapat melakukan teknik water harvesting (memanen air) dengan cara membuat lubang-lubang resapan agar di musim kering air tanah tetap tersedia.Salah satu contoh lahan kering yang dapat ditanami hortikultura di Lombok Utara, Desa Karang Bajo yang menanam cabe menggunakan irigasi tetes. Sumber air dari irigasi tetes ini adalah sumber mata air dari tanah yang ditemukan di desa tersebut. Penggunaan irigasi tetes ini dapat menghemat penggunaan air untuk tanaman.

Photo bersama setelah acara Diskusi Publik “Menjajaki teknologi pertanian lahan kering” di kantor yayasan PasirPutih bersama Prof. Ir. Suwardji M.App. Sc., Ph.D

Simpulan dari diskusi publik ini adalah lahan kering bukan berarti tidak bisa ditanami apa-apa ketika musim kering tanpa air. Lahan tersebut masih dapat ditanam dengan komoditas-komoditas yang sesuai dengan kondisi tanah dan iklimnya, seperti menanam tembakau, jagung, kacang-kacangan dan umbi-umbian yang relatif tahan hidup tanpa air. Kebijakan untuk menyamaratakan lahan menanam padi atau menanam satu komoditas (monokultur) adalah kebijakan yang perlu ditinjau kembali karena akan berdampak pada kondisi tanah karena unsur hara (nutrisi) yang terkikis oleh tanaman. Maka, menanam dengan cara menggunakan sistem rotasi tanaman atau membiarkan tanaman istirahat dalam beberapa waktu adalah salah satu cara untuk menjaga unsur hara tanah tersebut. Berbicara tentang ketahanan pangan tidak akan dapat terwujud jika hanya melihat pangan adalah beras. Ketahanan pangan lokal (umbi-umbian, kacang-kacangan, jagung) salah satu cara untuk menjawab bagaimana ketahanan pangan dapat terwujud. Namun, ketahanan pangan lokal pun yang telah menjadi kebijakan dalam mencapai swasembada pangan juga tidak akan  terwujud jika fokus peningkatan produksi pertanian masih tertuju pada padi (beras).

By |2017-10-01T06:57:34+00:00October 1st, 2017|AksaraPangan|0 Comments

About the Author:

mm
Afifah Farida Jufri, M.Si. (Pekanbaru, 25 Mei 1989), Menyelesaikan pendidikan S2 dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2015. Sejak tahun 2016, ia kembali ke kota kelahirannya, Pekanbaru, untuk membangun dan mengembangkan sebuah laboratorium pertanian skala rumahan, bernama Pusat Studi Agrikultur Sayurankita demi meneliti kemungkinan pengembangan ilmu pengetahuan pertanian lewat kerangka lintas disiplin, terutama pendekatan dan metode yang berasal dari ranah seni, media alternatif, dan praktik-praktik kreatif di ranah kebudayaan kontemporer lainnya.

Leave A Comment