Telusuk Sejarah Bumi Gora; Galeri Arsip Daerah NTB

//Telusuk Sejarah Bumi Gora; Galeri Arsip Daerah NTB

Persoalan pangan adalah persoalan budaya. Seni bertahan hidup masyarakat sejatinya telah terbentuk secara turun temurun dari nenek moyang umat manusia dan terinovasi dari masa ke masa sesuai dengan perkembangan pengetahuannya. Sistem tanam gogo rancah merupakan salah satu inovasi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal khususnya di Nusa Tenggara Barat. Terbukti dari keberhasilan para petani NTB yang menjadi salah satu penyumbang terbanyak atas swasembada beras 1984.

Pencapaian swasembada beras masa orde baru merupakan  indikator keberhasilan sektor pertanian. Di Nusa Tenggara Barat, keberhasilan sistem gogo rancah pun  menjadi kebanggaan atas pencapaian pemerintah menggalakkan Operasi Tekad Makmur (OTM) pada tahun 1980. OTM adalah suatu usaha yang diakukan pemerintah menggunakan prinsip keterpaduan dan partisipasi massal antara petani dan pemerintah (angkatan) dalam penanaman padi gogo secara intensifikasi (benih unggul, pupuk, dan pestisida).

Reklame (Nampak depan) Badan Perpustkaan Dan Arsip Daerah NTB

Hari ini (10/09/2017) Saya, Afifah Farida dan Yongki berkunjung ke galeri Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Daerah Provinsi NTB yang bertempat di Jalan Ahmad Yani, Gerimax Indah, Narmada, Lombok Barat. Lembaga ini merupakan bagian dari kantor Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi NTB di Jalan Majapahit No 10, Dasan Agung Baru, Selaparang, kota Mataram untuk menyambung langkah dari pencarian data dan bukti sejarah tentang Bumi GORA (Gogo Rancah).

Pagi itu, kantor Badan Arsip masih terlihat sepi. Hanya 1 unit mobil dan 2 unit motor yang terparkir di parkiran depan. Kami menerobos masuk melewati meja resepsionis yang masih kosong dan bertemu dengan dua petugas pelayanan informasi di ruangan yang tidak jauh dari meja resepsionis. Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kedatangan kami, kami pun diarahkan untuk mengisi daftar kunjungan.

Maksud kedatangan kami ke Badan Arsip Daerah adalah untuk mengetahui bukti sejarah (Arsip Statis) tentang Bumi Gora dan hal-hal yang berhubungan denganya. Kami pun diarahkan ke sebuah ruangan galeri foto yang tertata rapi. Tata pandang setiap photo disesuaikan dengan persamaan tahun dan persamaan jenis foto. Di beberapa bloking pandang terpasang sejarah perang yang pernah terjadi di Lombok, realitas sosial masa lampau, kumpulan foto sertifikat pencapaian pemerintah, surat-surat perjanjian dan penghargaan masa kolonial, potensi sumber daya alam dan manusia yang ada di NTB dan masih banyak lagi. Namun sangat disayangkan, Arsip visual tentang gogo rancah sangat sedikit. Bumi Gora sebagai Identitas daerah tetapi memiliki sedikit bukti sejarah?

Afifah Farida (SAYURANKITA) tengah membaca tulisan (Baca: Curhatan) Gubernur NTB H.Gatot Suherman tentang perjalanan dan pengalamnnya bersama Soeharto dalam mencapai penyematan NTB sebagai Bumi Gora.

Di galeri tersebut, arsip gogo rancah hanya terlihat pada sebuah artikel yang menceritakan tentang curhatan gubernur NTB pada masa itu, H. Gatot suherman (1978-1988). Di artikel tersebut tertulis tentang proses dan keberhasilan penanaman padi gogo rancah hingga ia mendampingi Presiden Soeharto menghadiri undangan FAO (Food Agricultur Organization) di Roma karena keberhasilan swasembada pangan tahun pada tahun 1984. Tulisan tersebut dilengkapi dengan dua foto penunjang yaitu saat soeharto menghadiri panen raya di Desa Truwai Pujut Lombok tengah.

Menonton video dokumentasi panen raya bawang di sembalun.

salah satu footage pada video dokumentasi panen bawang di Sembalun: terlihat Presiden Soeharto melambaikan tangan kepada rakyatnya saat menuruni tangga pesawat.

Setelah itu, kami di ajak ke ruangan bagian arsip statis untuk menonton sebuah Video “Arsip Nasional RI” tentang panen bawang di Sembalun Lombok Timur tahun 1987. ketika ditanya tentang arsip video gogo rancah, seorang petugas menjawab, “itu juga tidak ada”. Saat itu suasana sedikit hening, kami menonton serius video yang diputar pada sebuah laptop oleh petugas diruangan tersebut. Seusai menonton video tersebut, kami ingin meminta soft copy film tersebut sebagai salah satu bukti primer tentang kondisi tanah dan pertanian pada masa itu. Tapi oleh pihak kantor tidak memperbolehkan kami untuk meng-copy file tesebut.

Alur pelayanan Bandan Arsip Daerah. kenapa kami tidak diperkenankan untuk meng-copy secara langsung?

Di ruangan itu, beberapa staf tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Kecuali Pak Agus yang tengah duduk sambil memainkan jari pada layar telepon pintarnya. Berbincangan kami dengan Pak Agus diawali dengan pertanyaan “Bagaimana menurut Bapak masa Presiden Soeharto?”.

“Setiap pemimpin memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing” kata Pak Agus sekaligus sebagai pembuka cerita perjalanan hidupnya pada masa itu. Pak Agus berasal dari Banyuwangi yang berimigrasi ke Lombok pada tahun 1978. Pada tahun 1983 Pak Agus menjadi salah satu tenaga kesehatan di Desa Kopang Lombok Tengah untuk memberikan penyuluhan dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang mengalami gizi buruk. Menurut Pak Agus, pada masa itu, Indonesia merupakan negara yang mengalami gizi buruk terparah setelah India dan Etopia

Dari hasil pengamatan Pak Agus sebagai salah satu tenaga kesehatan, gizi buruk (Maramus) yang terjadi disebabkan karena tradisi pola pangan-an anak yang terbiasa dikunyahkan oleh ibunya sebelum diberikan kepada anak. Marasmus adalah kekurungan gizi pada balita, infeksi, pembawaan lahir, prematuritas, penyakit pada masa neonatus dan kesehatan lingkungan. (Wikipedia.org).

Pelayanan kesehatan yang dilakukan Pak Agus merupakan bagian dari program pemerintah untuk mencapai swasembada. Operasi penyuluh kesehatan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk survei kesehatan warga untuk menentukan kelayakan penerima sumbangan pangan pemerintah.

Sebagai seorang penyuluh kesehatan era Soeharto, Pak Agus berasumsi  bahwa sesungguhnya tidak semua wilayah di Lombok terjadi kelaparan, persolan yang ditemukan Pak Agus di Kopang bukanlah persoalan krisis pangan melainkan kekurangan gizi pada pangan-an yang dikonsumsi sehingga menyebabkan masyarakat rentan terkena penyakit bahkan kematian.

Setelah 2 tahun menjadi penyuluh kesehatan,  Pak Agus pun diangkat menjadi pegawai negri sipil (PNS). Namun pada masa Presiden Soeharto,  pegawai negeri terkesan diabaikan (kurang sejahtera). Karena Soeharto menitik beratkan pada program-program pemerintah terutama petani dengan program REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang digalakkan dari REPELITA I – VII ( 1969 – 1998).

Panen raya gogo rancah  I tahun 1981 di Desa Truwai Pujut, Lombok Selatan. Photo dari  tulisan (curhatan) Gubernur H. Gatot Suherman.

Hadirnya program REPELITA era Soeharto dan Operasi Tekad Makmur di Lombok Selatan merupakan tunggangan atas politik pangan. “Pemaksaan” untuk menanam padi dengan melibatkan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) untuk membantu aktivitas pertanian sebagai salah satu strategi untuk menyukseskan program intensifikasi padi. Hal itu menyebabkan budaya pangan lokal yang sebelumnya mengkonsumsi umbi-umbian (singkong dan garut) perlahan tergeser, hingga saat ini beras menjadi makanan pokok Warga Lombok (Selatan).

Ketersediaan makanan pokok (beras) kemudian menjadi indikator kemiskinan, walau pada masa yang sama terdapat bahan pangan lain yang dapat dikonsumsi, seperti singkong dengan kandungan gizi yang lebih baik dibanding beras. Namun kita tidak dapat menolak realitas sejarah yang erat kaitannya dengan pembentukan budaya pangan di Indonesia.

Bagi petani, menanam padi menjadi sebuah keharusan pada setiap musim tanam. Petani Lombok Selatan (lahan kering) memilki 2 kali masa tanam dalam satu tahun. Padi menjadi prioritas utama setiap tahunnya dan disusul oleh tembakau atau palawija dimusim tanam selanjutnya. Kesejatian ini merefleksikan bagaimana kemudian petani mampu memunculkan teknologi kebaharuan untuk memuliakan lahan, terutama lahan kering demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemuliaan terhadap lahan kering yang dimaksudkan memiliki kesinambungan hasrat antara petani dan pemerintah untuk secara bersama mengupayakan alternatif yang dapat meningkatkan produksi pertanian lokal dengan tidak mengaburkan makna kearifan sosial-budaya masyarakat.

Bapak Agus,  Staf Badan Perpustakaan Dan Arsip Daerah NTB.

Perbincangan kami dengan Agus mengantarkan pada sebuah pemikiran kontras bahwa realitas pertanian menjadi kebanggaan ketika pencapaian kinerja petani melompati batas standar. Namun terkesan abai terhadap persolan petani ketika berhadapan pada resiko kegagalan panen. Haruskah REPELITA di Re-Instal untuk mensejahterakan? sementara, sosial kultural berbasis kearifan masyarakat petani merabun.  atau dengan mengembalikan teknologi kearifan lokal ? sedang, upaya percepatan mempengaruhi kualitas lahan dan penghasilan. “kembalikan pada Tuhan“ ucap Pak Agus menyimpulkan.

By | 2017-09-19T12:45:54+00:00 September 18th, 2017|AksaraPangan|0 Comments

About the Author:

mm

Leave A Comment