Nyanggre; Latar Solidaritas Warga Sekotong Timur

//Nyanggre; Latar Solidaritas Warga Sekotong Timur

Hampir setiap malam saya mendengar riak tawa dan bicang warga dari sebrang jalan raya tepat didepan Kantor Desa Sekotong Timur Kec. Lembar Kab. Lombok Barat yang merupakan sentral diselenggrakannya Lokakarya BerajahAksara ini. Tempat tersebut merupakan sebuah berugak yang dijadikan warga sebagai pos ronda setiap malamnya. Ronda/ngeronda dalam bahasa Sasak adalah Nyanggre  (Bahasa Sekotong) yang artinya berjaga.

Nyanggre yang dilakukan oleh warga Desa Sekotim ini tidak hanya dilakukan pada satu titik saja, melainkan dilakukan pada setiap dusun bahkan hampir setiap RT, karena mengingat luas wilayah dan jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain cukup jauh. Hal ini dilakukan berdasarkan kesepakatan warga dan pemerintah desa agar warga Desa Sekotim merasa aman dan nyaman terutama diwaktu malam.

Dalam hirarki kebutuhan dasar,  Rasa aman merupakan tahap kedua setelah kebutuhan fisiologi. Realitas pemaknaan atas tahap tersebut memang tepat. Karena dari setiap penuturan warga yang saya temui  menceritakan tentang seberapa rawan dan bahayanya wilayah Sekotong secara umum. Hal ini tidak lain dari dampak aktivitas pertambangan emas yang beberapa tahun lalu gencar menjadi mata pencaharian warga Sekotong bahkan NTB.

Ruang bagi warga untuk berbagi, pengetahuan dan pengalaman

Beberapa malam yang lalu saya sempat berbincang bersama warga yang tengah mendapat giliran nyanggre, saat itu mereka membicarakan prihal TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang mencari nafkah ke daerah Kalimantan atau Negara Jiran Malaysia. Hampir setengah dari warga Sekotong Timur pernah merasakan hidup ditanah perantauan untuk mencari pekerjaan, mereka melakukan hal tersebut karena terbatasnya peluang kerja yang disebabkan oleh faktor pendidikan yang rendah, sehingga warga berbondong-bondong untuk pergi merantau.

Ketika itu seorang warga bercerita tentang bagaimana pahitnya hidup ditanah rantau tanpa siapapun. Ia pernah tersesat dihutan berhari-hari tanpa perbekalan, ia pernah terserang hewan buas  dan pernah pula tidak diberikan upah oleh mandornya. Hal ini merupakan pertimbangan bagi mereka yang akan berangkat. Karena salah satu dari warga yang duduk bersama kami dipos tersebut dalam waktu dekat akan berangkat ke Kalimantan untuk bekerja. Ketika kami membahas tentang profesi, saya pun menanyakan tentang potensi penambang emas yang ada di Sekotong Timur yang merupakan profesi populer warga sekotong. Warga pun menceritakan sebuah tragedi yang pernah terjadi didesa ini.

Glondongan.

Dua tahun lalu, hampir setiap warga memiliki glondongan (Alat pemecah batu yang mempermudah penyaduran emas) dan hampir setiap warga  berprofesi sebagai penambang emas. Beberapa diantara mereka merupakan bos/pemodal yang membeli batu yang memiliki kandungan emas (Sample emas: Istilah penambang) dan kemudian diolah. Suatu ketika seorang  bos emas tengah mendulang hasil. Dalam satu potongan batu yang diglondong menghasilkan lebih banyak kandugan emas dari biasanya. sehingga, saat itu ia mampu membangun rumah yang cukup mewah.

Pada suatu malam, dirampoklah si bos emas ini, sebagian hartanya dijarah, benda tajam dan beberapa jenis senapan rakitan ditodongkan kepada keluarganya. Dengan terpakasa ia memberikan harta bendanya (emas dan uang tunai). Namun pada saat kejadian itu, salah seorang warga memiliki firasat kuat, karena dari dalam rumah tersebut terdengar tangisan seorang bayi yang merupkan cucu dari si pemilik rumah, seorang warga itu pun curiga dan mendekati suara tangisan tersebut. ketika ia mulai dekat, keluarlah beberapa komplotan perampok mengelilinginya sambil menghunuskan parang. Warga ini pun tak sungkan, ia pun menghunus parang pula.

Saat itu terjadilah perkelahian (Sasak :Mesiat) antara warga dan perampok tersebut. dari penuturan warga, suara tembakan yang menggemakan dusun menyebakan warga yang lain mengetahui adanya perampokan sehingga warga pun berduyun menyambangi lokasi perkelahian. Al-hasil, diperkirakan jumlah keseluruhan perampok lebih dari 20 oarang, beberapa diantara mereka terluka parah, sedang dari pihak warga hanya satu orang terluka dengan tebasan dipundaknya.

Dari kejadian diatas membentuk solidaritas warga untuk menjaga keamanan Desa Sekotong Timur sehingga diketatkanlah penjagaan malam (Nyanggre) pada setiap dusun dengan jadwal yang dibuat oleh masing-masing kepala dusun yang setiap malamnya  tujuh orang warga berjaga malam secara bergilirin. Masa-masa itu pula dibahasakan dengan “Panas Emas”. Dimana banyak dari para penambang yang dalam satu malam dapat menghabiskan jutaan bahkan puluhan juta  untuk kesenangan. Ada pula yang mengatakan, “menikahi perempuan itu bagai mengganti pakaian”. pasalnya siapapun yang mereka inginkan akan dinikahi dengan berapapun jumlah mahar yang diminta. Pada masa dua tahun silam itu, segala macam kebutuhan hidup menjadi mahal. Hai ini merupakan dampak bergelimangnya harta/uang sehingga segala hal dapat dimiliki. Dan semua kejadian ini terjadi di wilayah sekotong secara umum, ungkapnya.

Dari penuturan Kepala Dusun Jelateng Sedenggang, bahwa sejak tahun 2006- 2015 daerah sekotong sangatlah mencekam, warga sangat tidak nyaman dengan maraknya perampokan. Tragisnya, perampok pada masa itu tidak hanya meminta barang-barang berharaga saja, mereka juga tidak segan-segan meyakiti bahkan membunuh pemilik rumah, bahkan ada pula yang meminta  barang berharga secara Cuma-Cuma tanpa melihat waktu, situasi dan kondisi.

Selain itu, terdapat persaingan sengit ketika menuruni lubang tempat bermuranya batu yang mengandung emas. Dilokasi pertambangan, manusia tidak lagi seperti manusia seutuhnya, setiap mereka adalah hewan buas yang saling berebut. Seperti hukum rimba, siapa yang kuat ia yang bertahan. Beberpa warga sempat mmeceritakan kepada kami perihal ketidak manusiawian orang didalam lubang.

Pasalnya, ketika satu lubang dan lubang lain bertemu dengan satu galian maka terjadi perkelahian diantara mereka untuk mennetukan siapa yang berhak memiliki lubang tersebut. dan apabila lubang tersebut ternayata memiliki kandungan emas yang lebih banyak maka mereka tidak segan untuk saling membunuh. Sering pula terjadi longsor didalam lubang pertambangan yang menyebabkan para penambang didalamnya meningal, Sehingga diperkirakan jumlah korban jiwa yang meninggal karena tertimbun dan faktor ego tersebut lebih dari 100 (ratusan) jiwa.  Ada pula yang meminta secara paksa hasil dari galian yang sudah berada diatas lubang. Sehingga, tak jarang pihak berwajib (Polisi /TNI) datang untuk mengamankan areal pertambangan tersebut.

Dari pos nyanggre mengantarkan saya pada beberapa informasi/pengetahuan tentang peristiwa yang terjadi di Desa Sekotong Timur. Karena selain sebagai pos untuk berjaga malam, pos ini juga dimanfaatkan oleh warga sebagai tepat bersitirahat saat pulang dari tempat kerja, seperti para petani, pedagang yang baru pulang dari pasar. Pos ini kemudian menjadi ruang yang dimanfatkan warga sebagai tempat berbagi cerita, pengalaman dan pengetahun.

Nyanggre merupakan simbol yang menghubungkan emosional warga untuk menjaga satu sama lain. kini warga Desa Sekotong Timur telah beralih profesi dari penambang emas  kepada profesi sebelumnya, Pedagang, Tukang Bangunan, Pembisnis, TKI/TKW dan lain sebagainya.

By |2017-08-06T14:28:42+00:00August 6th, 2017|Journals|0 Comments

About the Author:

mm

Leave A Comment