Desa Sekotong Timur; Tanah Anugrah

//Desa Sekotong Timur; Tanah Anugrah

Sekitar jam 17.00 WITA, saya tengah duduk di sebuah pos ronda dekat pertigaan jalan samping Musholla Desa Sekotong Timur. Saat itu saya berkeperluan untuk mendatangi seorang ketua kelompok tani yang ada di Dusun Jelateng, Desa Sekotong Timur. Namuan karena Ketua GAPOKTAN tersebut tidak ada di rumah, saya memutuskan untuk duduk bersantai di pos tersebut. Selain ngeronda untuk menjaga keamanaan, tempat ini merupakan ruang bagi warga untuk saling berbagi cerita, entah untuk sekedar bercanda ria atau berbagai cerita seputar kondisi dusun. Sore itu pun, saya bertemu dengan seorang petani yang bernama Sahli  (70 Tahun) yang tengah menggiring tiga ekor kambing miliknya ke pekarangan jalan dekat pos ronda. Saat itu kami mulai duduk besama dan berkenalan, awalnya kami agak sedikit tertutup dan seolah tak saling menghiraukan.

Seorang warga yang tengah memikul pelepah pisang dari pemberian Sahli.

Namun perbincangan kami berawal dari seorang ibu-ibu yang lewat di depan kami sambil memikul segulung pelepah pisang, dan menanyakan kepada Sahli  prihal perkebunan pisang, yang cukup luas dan tersebar di beberapa titik yang terdapat di Desa Sekotong Timur ini. Mula-mula Pak Sahli  sedikit malu untuk mengakui bahwa perkebunan tersebut adalah miliknya.

Sahli  adalah seorang pendatang, ia berasal dari Desa Lelede Lombok Timur. Ia bercerita, awal ia menginjakkan kaki di sekotong pada sekitar tahun 1940-an karena kondisi perekonomian keluarga yang tidak berada, dalam Bahasa Sasak dikenal dengan istilah Musim Jeleng, karena dampak dari kolonial. Saat itu ia baru berumur 9 tahun.  Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, yakni sekitar tahun 1950-an penduduk Sekotong Timur masih sedikit. Jarak antara satu rumah dengan rumah warga yang lain cukup jauh karena dibatasi dengan pekarangan yang luas dan juga perkebunan.

Kebun Pisang

Perkebunan pisang miliknya adalah bagian dari tanah yang didapatkan keluarganya pada saat bertransmigrasi. Ia bercerita bahwa pada masa lampau pekarangan dan perbukitan merupakan tanah tak bertuan. Warga pada saat itu hanya mengklaim dan membuat suatu batas atas tanah-tanah tak bertuan tersebut menjadi miliknya. Itulah sebab perkebunan Sahli  berada dibeberapa titik, bahkan menurutnya, ia memiliki tanah yang cukup luas di perbukitan Sekotong.

Tidak hanya pisang, Sahli  pun menanam jagung, ubi dan kelapa. Ia juga berprofesi sebagai pencetak bata (sasak: pengitak bata). Saat saya tanya tentang penghasilannya dari bertani dan berkebun, ia pun dengan sedikit senyum mengatakan bahwa penghidupannya berasal dari hal tersebut. Ia mampu menyekolahkan beberapa anak dan cucunya dari hasil bercocok tanam. Namuan sesekali ia menegaskan bahwa perkebunan pisang, ubi-ubian dan kelapa adalah modalnya untuk berbagai kepada sesama. Pasalnya, pada setiap rowahan (tasyakkuran) warga, Sahli  selalu mengizinkan warga mengambil ubi, pisang dan kelapa sebagai bagian dari caranya untuk membantu acara rowahan warga. “Lamun te bebantu kadu kepeng ndeq naraq siq te beng, jari-jari siq puntiq, nyiuh kance ambon siq te saling bantu.” (Kalau menolong dengan uang saya tidak punya. Ya… Cukup membantu dengan pisang, kelapa dan ubi saja), ungkap Pak Sahli.

Warga yang tengah merapikan pelepah pisang.

Jika dilihat dari hasil panen, dari 3-4 kali panen dalam setahun, dari setiap kali panen pisang, Sahli  mendapat kurang-lebih Rp. 2.000.000,- per satu kali panen. Sehingga salam setahun ia dapat menuai hasil sebayak 6-8 juta. Hal itu yang menjadi pemasukan Sahli  untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Jagung, salah satu hasil bumi Sekotong Timur

Kacang tanah, salah satu hasil bumi Sekotong Timur

Sahli  merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan hasil tersbut. Namun akhir-akhir ini ia menyesalkan tentang adanya bantuan-bantuan sosial yang diprogramkan pemerintah seperti, BLSM (Bantuan Langsung Siswa Miskin), PKH (Program Keluarga Harapan), RASTRA (Beras Sejahtera) dan yang lainnya. Ia berpandangan bahwa wilayah Sekotong ini merupakan wilayah dengan kualitas tanah yang sangat baik. Apapun yang ingin ditanam pasti akan berbuah dan menuai hasil yang maksmal. Ia meyesalkan bahwa perkara uang menyebabkan warga jadi malas bekerja. Jika sekian miliyar uang yang diturunkan oleh pemerintah dari program tersebut dialihkan untuk pembebasan lahan, dengan itu warga akan dapat bekerja dan berusaha secara mandiri sehingga tidak berkeperluan lagi untuk menerima bantuan dari pemerintah.

Bantuan pemerintah sebenarnya pantas diberikan kepada anak yatim untuk keperluan pendidikannya, para orang tua yang tidak mampu lagi bekerja dan orang-orang cacat. Namun kini pemberian bantuan seringkali salah sasaran. Mereka yang semsetinya mendapatkan ternyata luput dari perhatian.

Sahli  membandingkan era pemerintahan Soeharto (1969-1998),  dengan dengan era sekarang ini. Ia bercerita tentang bagaimana Presiden Soeharto memakmurkan petani. “Laeq leq zaman Pak Harto, ite saq jari peteni ne, te perhatiang jamaq. Lamun ne ngebeng bentuan Pak Harto, ndeq ne beng ite kepeng, laguk beng ne ite benih super (Gogo Rancah). Siq bagus ne benih ino, laeq lamun te betaletan pade, lengan sekeq are mauk ite sampe due-telu timbang. laguq lamun kane jeq ndeq ne ngeno. Lamun ne kedu benih lekan lombok, pesti entan ne gen bagus hasil ne.” (Dulu di zaman Pak Harto, kita, yang jadi petani sangat diperhatikan. kalau Pak Harto memberikan bantuan, bentuknya bukan uang, tapi kita diberikan benih super (Gogo Rancah). Bagus sekali benih itu. Dahulu kalau kita menanam, dari 1 are tanah, kita bisa dapat 2-3 timbang (kwintal). Sekarang tidak seperti itu. Kalau memakai benih dari Lombok, pasti hasilnya akan bagus.) Tutur Pak Sahli.

Pak Sahli.

Sahli  memang keluarga petani turun-temurun dari orang tuanya. Ia menganggap kualitas benih saat ini jauh lebih rendah dibanding era Soeharto. Bukti perhatian pemerintah zaman dulu, para petani dan polisi ikut turun kesawah-sawah. Pada setiap pagi TNI datang dan membantu petani untuk nyangkul dan menyiram tanaman pangan yang ditanam petani, sehingga petani saat itu merasa sangat dihargai.

Persatuan dan loyalitas petani di Desa Sekotong ini dahulu pun jauh lebih kuat dibanding sekarang. Petani yang ada di Sekotong Timur, dulu mengolah tanah dan sawah dengan sistem gotong royong dan saling bergiliran antara satu petani dengan petani lain (POKTAN). Sehingga hasil yang didapat lebih maksimal dan aktivitas pertanian jadi lebih cepat. Loyalitas dan persatuan petani ini kemudian menunculkan sebuah istilah yaitu “PATUT PATUH PATJU” yang digunakan sebagai semboyan Lombok Barat hingga saat ini.

Tanah yang berkualias layaknya anugrah bagi petani yang ada di Sekotong Timur, selain bercocok tanam, tanah tersebut juga dimanfaatkanwarga untuk membuat bata sebagai bahan bangunan. Bata di Kecamatan Lembar sangat terkenal kualitasnya. Dan pada era ini para petani yang ada di Desa Sekotong Timur memburamkan selogan Gotong Royong. Ada semacam egiosme bercocok tanam. Kepentingan antara kelompok tani yang satu dengan yang lain. belum lagi ancaman banjir yang setiap musim penghujan yang menyebabkan para petani sering kali gagal panen.

By | 2017-08-05T09:10:44+00:00 August 4th, 2017|Journals|1 Comment

About the Author:

mm

One Comment

  1. saeful bahri August 8, 2017 at 5:22 am - Reply

    Bagaimana reaksi aktivis” warga melihat kondisi tersebut sebagai output gerakan realisasi harapan warga.

Leave A Comment