Proses Awal Lokakarya BerajahAksara Desa Sekotong Timur

//Proses Awal Lokakarya BerajahAksara Desa Sekotong Timur

Bertumbuhnya bentuk tubuh tidak memastikan berkembangnya  intelektual dan emosional manusia. Pengkajian mendalam tentang problematika kepribadian yang dipengaruhi oleh pola penerimaan asupan pendewasaan. Pengalaman menjadi sesuatu yang terinstal tanpa perencanaan  tanpa adanya keinginan. Ia secara langsung menjadi pengetahuan. Sementara, pentahapan perkembangan yang terorganisir diukur melalui ruang-ruang kelas yang diselenggarakan disetiap lembaga pendidikan baik formal maupun non formal.

Sejak adanya klasifikasi “bisa” dan “tidak bisa” membentuk dopamin yang merekat dan menjadi alat klaim bagi manusia lain terutama antara mereka yang berpendidikan dan tidak berpendidikan. Tanpa melihat satu sisi klaim yang lain seperti mereka yang berpengalaman dan yang tidak berpengalaman. Saya sepakat bahwa manusia tidak hanya dibentuk melalui realitas era ini. Dunia virtual menimbulkan suatu dampak yang cukup serius. Dampak ini menelan kebiasaan sosial yang positif. Barangkali hal ini berlaku pada manusia yang tanpa terkontrol terhadap penggunaan media virtual seperti sosial media dan yang lainnya.

Kantor Desa Sekotong Timur, Kec. Lembar Kab. Lombok Barat

Setelah 3 hari kepulangan kawan-kawan yang berasal Polandia yang telah melakukan riset di Pemenang. kami (Tim Berajahaksara) berkunjung ke Desa Sekotong Timur Kec. Lembar Kab. Lombok Barat. Untuk melakukan riset kolektif terhadap ruang-ruang warga yang memiliki daya dan memanfaatkan media sebagai penguat daya warga yang ada. selain itu misi Lokakarya BerajahAksara kali ini ialah menelaah prolematika keremajaan yang ada di Desa Sekotong Timur.

Pada hari Jum’at 27 juli 2017. Saya, Muhammad Hamdani, Muhammad Sibawaihi, Laila Etika dan Ayu Novita Sari berangkat ke Desa Sekotong Timur Kec. Lembar Kab. Lombok Barat bersama kawan-kawan Aliansi YES I DO. Sore itu, sesekali pandangan saya tertampar seliran angin dari gerincik sinar yang mengintip dari balik dedaunan. Setiba kami dikantor Desa Sekotong Timur, kami pun disambut hangat oleh Kawan-kawan dari KPAD (Kelompok Perlindungan Anak Desa) dan Aparat Desa Sekotong Timur.

Silaturahmi Kekediaman Kepala Desa Sekotong Timur ; H. Ahmad

Selepas merenggangkan otot karena tegang oleh tas yang cukup berat Dan barang-barang Bawaan membuat kami tidak leluasa untuk menarik gas Motor, kami pun bersilaturahmi kekediaman Kepala Desa Sekotong Timur (H. Ahmad S.Pd) untuk bersilaturahmil. Sesampai disana kami telah ditunggu oleh Beberapa Anggota KPAD yang sebelumnya telah diinformasikan oleh Kawan KPAD yang kami temui di kator desa.

Bertutur sapa, salam kenal dan secangkir teh hangat membuka percakapan kami yang sebelumnya  Senyap, termasuk 2 orang warga yang menjadi tamu Kepala Desa. Namun setelah beberapa patah kalimat sambutan dan guyonan jenaka, mengharuskan pak kades untuk pergi karena urusan masyarakatnya dan kami pun berbincang dengan Kawan-Kawan KPAD.

Pada awalnya obrolan kami memfokus pada peristiwa “belas”. peristiwa tersebut merupakan sebuah cerita yang saat ini sedang hangat diperbincangkan oleh warga Desa Sekotong Timur. Belas dalam bahasa Indonesia artinya memisahkan. Hal ini merujuk pada cerita seorang anak yang berumur 13 tahun yang akan menikah dengan seorang lelaki yang berumur 30 tahun. Pada penuturan Kawan-kawan KPAD, persolan tersebut merupakan percontohan dari fenomena pernikahan dini yang terjadi di Desa Sekotong Timur yang pada akhirnya si anak yang berumur 13 tahun mampu direbut kembali oleh keluarga dengan perdebatan yang cukup alot. Oleh karena itu, persoalan pernikahan dini menjadi telaah khusus kawan-kawan KPAD dan organisasi yang dipayungi oleh Aliansi Yes I Do..

Selain itu kami juga membahas tentang beberapa hal tentang Desa Sekotong Timur seperti, Propesi warga, sejarah, aktivitas remaja hingga obrolan tentang hal-hal mistik yang masih dipercayai oleh warga. obrolan itu pun diakhiri dengan penentuan Schedul proses Lokakarya BerajahAksara dengan membahas beberapa kesepakatan terkait peserta dan waktu pelaksanaan. Malam itu kami beristirahat cukup cepat karena seharian mengitari mataram untuk membeli perlengkapan. Bahkan sempat salah arah dan tersesat yang membuat kami sesekali berhenti dan menunggu yang lain.

Sabtu 29 juli 2017. Masih seperti pagi kemaren, wajah langit masih mendung. saya dan Siril yang merupakan salah satu partispan BerajahAksara dan juga merupakan anggota Aliansi remaja independet. Kami bersilaturahmi ke beberapa rumah warga untuk sekaligus mencari hal-hal yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan diskusi bersama partisipan yang lain. Terdapat beberapa hal yang kami temukan ditengah perjalanan seperti gotong royong warga, peternak sapi, petani yang mengeringkan padi, hamparan tanaman jagung dan beberapa gelondongan.(Alat pencacah tanah/batu yang menyadur emas).

Hewan ternak warga

Hasil bumi dari Dusun Jelateng timur Desa Sekotong Timur; padi dan jagung

Glondongan : Alat pelebur batu yang kemudian menyadur emas melalui dengan air raksa

Kami pun bertemu dengan Hanafi, seorang warga yang pernah melakukan aktivitas penggalian emas dan yang mengolah emas. Hanafi memeiliki beberapa alat gelondongan dirumahnya. Kami berbincang tentang bagaimana histo-geografis wilayah Sekotong dan membahas tentang potensi yang ada di Desa Sekotong Timur. Setelah itu kami pun kembali ke Kantor Desa untuk membahas temuan yang telah kami dapatkan.

By | 2017-08-04T11:58:10+00:00 August 2nd, 2017|Journals|0 Comments

About the Author:

mm

Leave A Comment