Seniman Residensi; Workshop “Perkembangan Tak Secepat Pertumbuhan”

//Seniman Residensi; Workshop “Perkembangan Tak Secepat Pertumbuhan”

“Doing something without memory and without desive” Bion Wilfred. Kalimat tersebut mengawali ketertarikan mereka ke PasirPutih untuk melakukan riset tentang bagaimana seni dipandang dari kaca mata psikology. Iwona Jozwiak sebagai Psikoanalisa berusaha memandang pola berkesenian Magdalena Starska. Iwona mencoba menjelaskan tentang bagaimana seorang dapat terpicu hasrtanya untuk ikut serta melakukan sesuatu dari aktivitas seni yang dilakukan oleh Magdalena dalam projek Performance Art  “Perhelatan Sampah” yang ia lakukan di Bangsal.

ini merupakan kali pertama mereka melakukan kolaborasi seni-psikologi, Karena mereka meyakini bahwa pengalaman adalah pengetahuan yang dapat mempengaruhi emosional dan intelektual. Dalam proses residensi diPasirPutih mereka selalu berdiskusi untuk menemukan kesamaan pandang antara seni dan psikologi sehingga tercetuslah gagasan performance tersebut.

Iwona Jozwiak

 

Pada kesempatan lain. Iwona memberikan workshop kepada kami tentang bagaimana metode pengembangan karakter remaja melalui kerja psikonalisa. Pada tanggal 25 Juli 2017. Mentari mulai merangkak dan membelalak menghangatkan bumi. Kesepakatan hari kemaren bahwa hari ini Iwona akan memberikan worksop tentang pengembangan karakter di Ekowisata Kerujuk Desa Persiapan Menggala Kec. Pemenang. Ia telah menunggu sejak pukul 07:00 Wita menanti kami untuk bergegas berangkat kelokasi workshop. Namun, antrian panjang kamar mandi membuat kami sedikit lambat dan menyita waktu.

Pada pukul 10:49 setelah sarapan pagi bersama di PasirPutih kami pun berangkat bersama menuju Ekowisata kerujuk untuk melangsungkan workshop yang telah disepakati. Iwona Jozwiak, Muhammad Hamdani, Ayu Novita Sari Saya  Muhammad Rusli, Dan Laela Etika telah duduk membentuk pola bundar di Berugak (tempat duduk) di Ekowisata Kerujuk untuk memulai workshop tersebut.

Iwona menjelaskan tentang pentahapan perkembangan karakter remaja

Iwona menjelaskan bahwa pertumbuhan manusia dominan lebih cepat dibanding perkembangannya. Ia menjelaskan tentang siklus perubahan psiikologi perkembangan remaja mulai dari karakter remaja dan segala sesuatu yang mempengaruhinya. Mulai dari pengetahuan yang ia dapatkan dari sekolah dan pengetahuan yang ia dapatkan dari interaksi keseharian. Iwona mencoba membandingkan antara realitas remaja yang ada di Polandia dengan realitas remaja yang ada di Indonesia. ia menegaskan bahwa pengaruh interaksi orang tua dengan anak dan pergaulan keseharian cendrung lebih dapat membentuk karakter dibandingkan dengan pengaruh pembelajaran yang didapatkan dibangku sekolah. Fenomena remaja tentang narkoba dan pergaulan bebas sangat pesat pula perkembangannya.

Pada proses workshop ini, kami diberikan beberapa materi tentang bagimana membuat team work yang baik dengan orang lain. metode yang di share oleh Iwona lebih kepada bagaimana mengembangkan interaksi dalam sebuah team work agar dapat bekerja sesuai dengan ekspektasi yang ingin dicapai. Pada proses tersebut Iwona menyebutkan 2  hal yang dapat mempengaruhi kulitas kinerja team work yaitu diantaranya :

  1. Dalam sebuah team work jangan sampai ada romansa. maksudnya, dalam sekumpulan orang-orang yang bekerja dalam misi yang sama dianjurkan agar tidak memiliki hubungan percintaan yang dapat mempengaruhi kualitas kinerja personal,
  2. Setiap person harus saling mempercayai. Dalam sebuah team kerja saling percaya satu sama lain mutlak adanya. Terutama percaya kepada pemimpin team work tersebut. karena kepercayaan sangat mempengaruhi kulitas kerja kelompok tersebut.

“Dua hal tersebut bukan tidak dibolehkan” ucap Iwona, kan tetapi dalam team work akan lebih bagus jika menjauhkan 2 hal tersebut agar dapat mencapai ekspektasi yang diharapkan.

Iwona Menjelaskan tahap demi tahap metode alternatif untuk membuat sebuah Team Work yang keren.

Selain itu, Iwona juga berbagi tentang bagimana membuat sebuah grup yang dapat berintraksi secara elegant atau bagaimana membuat susana menjadi lebih interaktif. Pada proses tersebut kami melakukan hal-hal yang diinstruksikan oleh Iwona sembari mencontohkan bagaimana metode tersebut diterapkan kepada orang lain.

Mula-mula kami diinstruksikan untuk menuliskan auto biografi masing-masing pada sebuah kertas. kemudian kertas tersebut ditukar secara berpasangan dan kemudian saling memperkenalkan masing-masing pasangan. Iwona menjelaskan bahwa untuk membuat interaksi aktif dalam sebuah kelompok maka mereka harus saling mengenal satu sama lain. sehingga ketika melakukan proses selanjutnya akan menjadi lebih mudah.

Setelah menuliskan auto biograpy. Kami pun diinstruksikan untuk menggambarkn sesuatu yang mampu mewakili pribadi seperti semacam simbol diri yang digambarkan dalam sebuah kertas. Iwona menjelaskan bahwa apapun yang digambarkan dalam kertas tersebut merupakan kondisi psikologis. Jiwa yang positif akan menggambarkan sesuatu yang positif pula dan sebaliknya.

Kami pun mulai menggambar, seketika suasana senyap karena setiap dari kami mulai berfikir tentang citra apa yang akan muncul dari gambar yang kami goretkan. sesekali Iwona mengingatkan kami bahwa ini bukanlah kompetisi menggambar tapi hanya sebuah metode untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. Tak lama masing-masing dari kami mulai menyelesaikan gambar.

Mendiskusikan gambar yang telah dibuat oleh masing-masing peserta workshop.

Ketika setiap orang ditanya mengapa menggambarkan hal tersebut, kami pun menjawab dengan apa adanya. Oka menggambar sendal karena ia duduk didekat tumpukan sendal-sendal. Ayu menggambarkan kaca mata karena melihat kaca mata yang saya gunakan, Hamdani menggambarkan tas karena pada saat itu hanya dia yang membawa tas, Etika yang menggambarkan ceret karena ia tertarik pada sebuah kendi yang ada dikampusnya dan  saya menggambarkan daun bersayap karena saya membayangkan dari daun-daun yang berserakan tersebut tiba-tiba berterbanganan dengan sayap mereka masing-masing. Dari setiap gambar tersebut sedikitnya dapat menggambarkan kondisi psikologi setiap dari kami.

Tahap berikutnya Iwona menjelaskan bahwa gerak dapat juga menjadi pemicu interaksi untuk menciptakan hubungan yang lebih elegant. Mula-mula kami berdiri pada pelataran yang agak lapang dan membentuk pola melingkar, setiap peserta harus mengingat siapa yang ada disamping kiri dan kanannya dan mulai menutup mata. Iwona memisahkan kami dari pola melingkar tersebut dengan menarik satu per-satu menuju tempat yang berbeda-beda dengan keadaan mata yang tertutup. Setelah itu, setiap peserta diharapkan untuk aktif berkomunikasi sebagai penanda arah kawan yang berada disamping kiri dan kanan. Iwona menjelaskan bahwa dalam proses ini, kita dapat melihat upaya personal mampu bekerja sama atau tidak dan ketangkasannya untuk mencari solusi jika menemukan masalah. Kemudian kami pun berbahagia ria sambil mengambil beberapa photo bersama sebagai tanda akhir dari workshop tersebut. Sembari terhelat waktu, kami pun menikmati rilexnya merendam kaki di sungai kerujuk sambil berbagi cerita bersama.

Bebahagia Bersama

Menurut saya, metode yang dishare oleh Iwona tersebut sangatlah penting diterapkan dalam sebuah team work karena merupakan salah satu metode alternatif untuk menciptakan hubungan baik dengan setiap personal. Karena pada setiap pentahapan prosesnya mengutamakan interaksi aktif yang memicu keterbukaan untuk menerima dan memberikan informasi kepada sesama untuk dapat saling mempercayai.

By |2017-07-26T05:01:32+00:00July 26th, 2017|Journals|0 Comments

About the Author:

mm

Leave A Comment