Dari Berbuka Bersama Hingga Bijak Bermedia: Di Klub Baca Perempuan

//Dari Berbuka Bersama Hingga Bijak Bermedia: Di Klub Baca Perempuan

Sore itu, kami memenuhi undangan buka bersama di markas Klub Baca Perempuan yang berlokasi di Dusun Prawira Desa Sokong Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara, saya, Muhammad Ghozali, Muhamad Sibawaihi dan Marta Weglinska, sahabat kami dari Polandia yang  beberapa hari ini menginap dikantor Pasirputih. Acara buka bersama tersebut dihadiri oleh kelompok baca yang berasal dari beberapa sekolah menengah Di Lombok Utara, Grup Dance, Klub Basket, beberapa komunitas, dan warga sekitar Lokasi klub baca Perempuan di Desa sokong Tanjung.

Hidangan sudah diatas meja yang tergelar dipekarangan perpustakaan Klub Baca Perempuan dengan berbagai macam jajanan lokal dan makanan yang disiapkan untuk berbuka oleh Nursyida Syam (pengagas Klub Baca Perempuan). Sembari menanti waktu berbuka, Bincang ringan tentang kegiatan pasirputih dan beberapa hal terkait isu kekinian dengan beberapa kawan, hal itu cukup menarik bagi saya, karena interaksi tersebut memberikan beberapa pengetahuan baru tentang perkembangan isu sekitar tempat kawan-kawan bermukim.

Berbuka Bersama : Prasmanan, hidangan yang nikmat

Adzan Magrib pun berkumandang, dengan segera kami menikmati hidangan yang telah disiapkan. Se gelas  Es cendol cukup melegakan dahaga setelah seharian menjalani puasa. Kawan-kawan yang hadir pun demikian. Menikmati suguhan mengakhiri puasa hari itu.

Setelah berbuka dan mendirikan Sholat Magrib, kami pun berkumpul diaula perpustakaan untuk ber-santun dan berucap terimakasih. Nursida syam membuka bahasan tentang pentingnya pengetahuan sebagai filter, sehingga perkumpulan itu menjadi semacam forum berbagi pengetahuan. “saya kira pertemuan ini akan terasa hambar jika kita hanya menikamti hidangan tanpa membawa sesuatu” ujar Nursyida Syam ditengah forum tersebut sembari memperkenalkan seorang wanita, sahabatnya yang berasal dari Singapura.

Nursyida Syam: Prakata pengantar diskusi

Ia menjelaskan tentang bagiaman pengaruh media sosial terhadap realitas sosial. Media memiliki dua mata pisau yang runcing, sisi yang satu dapat digunakan sebagai alat distribusi pengetahuan, mencari sahabat, mempererat silaturahmi dan sebagainaya. Sementara, di sisi lain media menjadi alat provokasi, propaganda buruk yang dapat mengalihkan, mempengaruhi dan mejustifikasi sebuah objek/isu kepada masyarakat yang pada konteksnya belum tentu benar.

Ujaran yang disampaikan Nursyida Syam menitik beratkan pada penggunaan media secara bijak dan terkontrol, terutama kepada para siswa yang kebetulan hadir pada forum tersebut. selain itu sahabat yang berasal dari singapura itu memberikan himbauan kepada kami tentang bagiamana para elit media secara terus-menerus memberikan suntikan provokasi terhadap warga indonesia. “Indonesia menjadi salah satu negara yang digaris merah untuk melakukan provrokasi media oleh pihak luar, maka mulailah untuk mawas diri terhadap media, terutama media sosial” ucap sahabat dari Singapura tersebut.Nursyida mengatakan bahwa sahabat dari singapur ini merupakan kawan yang ia kenal lewat media sosial. Sembari mencontohkan manfaat media sebagai ruang silaturahmi dan mencari sahabat.

Nursyida Syam dan Sahabat dari Singapura

Pada forum tersebut, hadir Bpk. Fatur salah seorang Master Ilmu Matimatika , sekaligus guru yang mengajar disalah-satu sekolah menengah di Lombok Utara, memberikan tanggapan tentang bagaimana sebenarnya media dapat dijadikan sebagai salah satu potensi untuk mengembangkan bakat siswa. Seperti yang diterapkan disekolah tempatnya mengajar. Ia menggagas kelas virtual kepada siswanya. Kelas virtual ialah bagiaman menggunakan internet untuk mencari materi pelajaran sebanyak-banyaknya, kemudian menyerap dan memahami materi tersebut dan dituang kedalam resume materi tersebut. guru matematika ini bahkan menganjurkan siswa untuk menggunakan media (smartphone) untuk digunakan sebagai alat eksplorasi pengetahuan. Dengan tetap menyadari adanya kemungkinan atas dua runcing media. Ia menekankan bahwa “teknologi tidak mungkin bisa kita larang atau kita hentikan, tapi bisa dikendalikan”

Pak Fatur : Pakar Matematika Lombok Utara.

Para siswa dengan khidmat memperhatikan

Pada kesempatan itu pun Muhammad Ghozali (Direktur Yayasan Pasirputih) memeberikan tanggapan tentang bagiamana seharusnya media menjadi daya yang berdampak positif terhadap warga. Seperti pemaknaan “siq-siq O bungkuk” sebagai tema Bangsal Menggawe 2017. Siq-siq O bungkuk mengandung arti persatuan dan kasih sayang menghadapkan pada misi elit media untuk memecah persatuan indonesia. “sebenarnya potensi Lombok Utara, khususnya Kec. Pemenang dengan keberagaman ummat Islam, Hindu Dan Budha yang harmonis dapat menjadi gaung untuk menyuarakan kasih sayang untuk Indonesia” lantang ghozali menanggapi isu tersebut. bahkan Lombok Utara mampu dijadikan sebagai pesan kasing sayang untuk dunia, Sambungnya.

Ghozali pun mengakui dua runcing sisi media yang dapat menjadi nutrisi atau racun yang dapat memecah kesatuan. Ia pun menekankan pada bagaimana kita sebagai pengguna media mampu mengupayakan dan memberdaakan media sebagai alat transformasi pengetahuan. Selain itu, Persatuan Mahasiswa Lombok Utara Juga hadir pada forum tersebut dan memberikan informasi tentang perhelatan media sebagai alat komunkasi instan, salah satu mahasiswa menjelaskan tentang NTB sebagai salah satu daerah pengguna Media sosial terbesar diindonesia semestinya bijak dalam menggunakan media dan tidak merespon isu-isu yang dapat memecah belah persatuan Indonesia.

Para Mahasiswa Lombok Utara yang hadir diforum tersebut

Sebenarnya penggunaan media secara bijak tidak lah se-sulit yang dibayangkan, kita hanya perlu menyadari ruang, menyadari dampak dan pengaruh. Menimbang seberapa penting informasi yang kita sampaikan lewat media sosial, terutama facebook. Bijak bermedia dengan tidak menanggapi isu-isu provokasi yang belum tentu kebenarnya, bijak bermedia dengan menggunakan media secara baik, mengeksplorasi dan mendistribusikan pengetahuan yang dirasa penting untuk diketahui oleh warga. Seperti yang dikatakan oleh nursyida syam “Lebih dianggap bodoh karena diam dari pada melakukan sesuatu karena kebodohan”

Perbincangan selepas berbagi diforum: Siba, Marta, Ghozali Dan kawan komunitas

Photo bersama Amaq Dahrun (Muhammad Ghozali) dengan para fans. ..Ternyata ibu-ibu semua .. hehe

Selepas pembahasan tentang media, kami pun berbincang kembali dengan beberapa kawan mengulas tentang kinerja media lokal dan Muhammad Ghozali sebagai salah satu artis Lombok Utara yng cukup terkenal (pemeran Aamaq Dahrun dalam film Mendung Di Wajah Kampung yang di sutradarai Oleh Imam Safwan)di hampiri oleh beberapa fansnya untuk diminta photo bersama.

Menurut saya pertemuan ini menjadi berarti dan sangat penting. karena tidak hanya berbuka puasa dengan hidangan cukup mewah (jika dibanding dengan kebiasaan kami dipasirputih) dan mendapat pengetahuan tentang bagaimana memberdayakan media dengan bijak agar warga lombok utara tidak terpengaruh oleh isu-isu yang dapat melunturkan nilai keberagaman yang tumbuh subur ditengah warga dan rumah besar (Indonesia) yang syarat akan keberagaman dan corak perbedaan ini tetap menjadi rumah yang disatukan oleh dasar regaman garuda “bhineka tunggal Ika”. Dengan tanpa memandang “siapa”.

 

By | 2017-06-09T20:52:31+00:00 June 8th, 2017|Journals|0 Comments

About the Author:

mm
Ahmad Ijtihad lahir 5 Desember 1992, di Dusun Kebun Indah, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Ia merupakan mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, di UIN Mataram. Selama ini ia aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan di desanya. Ia menggagas Komunitas Anak Rumput. Sejak satu tahun terakhir aktif di Pasirputih. Kini ia dipercaya sebagai director program BerajahAksara.

Leave A Comment