Safari Komunitas : BerajahAksara Berkunjung Ke Gucialit

//Safari Komunitas : BerajahAksara Berkunjung Ke Gucialit

Pada tanggal 23 Mei 2017, saya dan Ijtihad mendapat satu tugas untuk meluncur ke Surabaya menghadiri kagiatan yang dilaksanakan di C2O Library Colabtive, Surabaya. Undangan ini bersal dari CIPG (Centre of Innovation Policy and Governance) bersama dengan British Council sedang mengadakan pemetaan terhadap rung kreatif baru atau Creative Hub di Indonesia. Pemetaan ini diadakan untuk mengetahui ruang-ruang baru untuk mendukung komunitas kreatif di Indonesia.
Menurut pasirputih, ini menarik untuk dihadiri dan mendapatkan pengetahuan yang penting dari banyak orang yang menghadiri kegiatan tersebut. Tentang kehadiran kami pada ini telah ditulis oleh Ahmad Ijtihad pada tulisan yang diterbitkan beberapa hari lalu di website berajahaksara.org.

Photo bersama acara CIPG Bersama British Council di C2O Library & Collabtive

Pada catatan saya ini akan menceritakan keseruan saat bertemu dengan salah satu komunitas pecinta alam di Kabupaten Lumajang. Beberapa hari sebelum kami bertolak ke Surabaya, kami seudah terhubung dengan salah satu kurator terkenal di Indonesia. Adalah Ayos Purwoaji. Ia sudah merencanakan beberapa teman yang harus dikunjungi selama dalam perjalanan tugas yang di mulai dari tanggal 23-26 Mei 2017.

Ayos Purwoaji

Saya dan Ayos sempat bertemu sekali pada tahun 2015 di pasirputih saat berkantor di rumah Muhammad Gozali (Direktur pasirputih). Saat itu ia datang ke Lombok bersama temannya dalam agenda tugas untuk penelitian tembakau, salah satu lokasi penelitiannya adalah Kabupaten Lombok Timur, salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tanggal 24 Mei 2017. Seusai menghadiri undangan CIPG di markas C2O Library, kami langsung checkout dari Artotel Surabaya dan langsung menuju Terminal Purabaya yang terkenal dengan sebutan Terminal Bungurasih. Tepatnya di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Dari terminal inilah kami (Ahmad Ijtihad, saya dan Ayos Purwoaji) menaiki bus menuju Lumajang.
Kabupaten Lumajang merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Purbolinggo di utara dan berbatasan dengan Kabupaten Malang di barat. Kedatangan kami di Lumajang ialah untuk bertemu dengan salah satu komunitas pemuda yang ada di Kecamatan Gucialit.
Sebelum saya menceritakan kedatangan kami di Gucialit, saya punya sedikit cerita mengenai perjalanan sebelum sampai di Gucialit. Bertolak dari Terminal Purabaya menggunakan bus, di perjalanan menuju Lumajang, saya melihat banyak kendaraan besar yang sepertinya membawa barang-barang. Truk-truk besar dan bus juga memenuhi jalanan dan sesekali terjadi macet di beberapa titik. Truk-truk yang sarat muatan ini lalu lalang dengan kecepatan penuh beriringan dari arah Lumajang dan begitu juga sebaliknya.
Selain deretan truk dan bus, obrolan dua penumpang di belakang tempat duduk saya membuat saya hampir melupakan rasa ngantuk dan lelah. Mereka terdengar begitu akrab walaupun baru saja berkenalan, mulai dari cerita dan tanggapannya mengenai media dan isu-isu agama yang terjadi di Indonesia, urusan agama dan ketauhidan tidak luput dari pembicaraan. Sesekali mereka bercakap menggunakan bahasa Jawa dan membuat saya kurang mengerti, tapi saya sangat senang mendengar obrolannya.

Kedai Desa Dingin di Gucialit Lumajang

Sekitar 3 atau 4 jam dalam perjalanan, sampailah kami di Lumajang. Di sana sudah siap menunggu Irawan, Kiki dan 2 teman lainnya. Mereka berkenan menjemput kami di Lumajang menuju markas mereka di Desa Dingin, Kecamatan Gucialit tepatnya di bawah kaki Gunung Semeru. Saya dibonceng oleh Agus, ia juga salah satu anggota dari g’owa. 45 menit perjalanan dari Lumajang menuju Gucialit, kami langsung diajak nongkrong di markas yang mereka namai Kedai Desa Dingin sekitar jam 21.15 WIB.
Kedai ini merupakan tempat nongkrongnya para pendaki dan para wisatan yang melalui kedai apabila hendak menuju beberapa titik wisata alam yang terdapat di Gucialit, seperti Pabrik Teh Kertowono, Kebun Teh Kertowono dan Air Terjun juga terdapat di sana. tempat yang menarik untuk melepas lelah.

Kebun Teh Kertowono

Pabrik Teh Kertowono

Penunjuk Jalan Menuju Air Terjun Kebun Kertowono

Asyik duduk istirahat di kedai, beberapa saat kami disuguhkan teh hasil panen dari Kebun Teh Kertowono yang tidak jauh dari Kedai Desa Dingin. Teh dan perkenalan, ngongkrong sambil minum kopi dengan beberapa anggota g’owa. Selain mereka, ada juga beberapa langganan yang sedang asyik bermain remi dan sesekali membuka Telpon Pintarnya.

Ketika Sampai Di Kedai Desa Dingin. sambutan hangat kawan-kawan g’OWA (Gucialit Organisasi Wisata Alam)

Tempat yang menarik. Saya teringat dengan salah satu tempat di Lombok yang hawanya hampir sama, yaitu Sembalun, Lombok Timur, daerah yang merupakan bagian dari kaki Gunung Rinjani. Hawa dingin dan sejuknya hampir sama.
Beberapa saat, Irawan yang merupakan pentolan g’owa memanggil kami untuk makan malam, waaah kebetulan kami lapar sekali, mengingat perjalanan yang cukup jauh. Usai makan, kami langsung berdiskusi mengenai pergerakan komunitas di tengah warga.

Berbagi pengalaman dan pengetahuan bersama kawan-kawan g’OWA

Gucialit Organisasi Wisata Alam (g’owa) merupakan komunitas yang bergerak di tengah-tengah warga, mengajak warga peduli untuk merawat dan memelihara lingkungan. Keberadaannya berawal dari kegelisahan dari beberapa pemuda yang ada di seputaran destinasi wisata alam yang terdapat di Kecamatan Gucialit, melihat lingkungannya yang kurang diperhatikan, mulai dari pembalakan liar dan tumpukan sampah di mana-mana. Pada akhirnya mereka sepakat membentuk satu komunitas.
Ada yang menarik saat Irawan menceritakan tentang g’owa yang menggunakan huruf kecil pada huruf pertama “g”. “Kami sengaja menaruh huruf (g kecil) karena melihat dari makna kata gucialit yang berarti Guci Kecil, dari makna inilah landasan kami,” jelas Irawan.
Obrolan yang menarik, mala mini banyak sekali yang kami dapat dari penjelasan Kiki, Ihwan dan Irawan mengenai aktifitas mereka di komunitas, mulai dari membuka kedai sebagai salah satu usaha mereka untuk menghidupkan g’owa. Menurut Kiki, usaha ini penting, melihat kami yang tidak punya sumber dana yang pasti dan terus menerus, “Kami selain membuat kaos yang kami desain sendiri menggunakan nama Gucialit Merch. Nama ini kami gunakan adalah bentuk rasa bangga kami tinggal dan besar di Gucialit, yang kemudian kami pajang setiap saat di Kedai Desa Dingin, yaaa itu selain teh dan kopi,” ujar Kiki.
Selain teh yang merupakan komoditi di Kecamatan Gucialit, ternyata ada kopi yang berjenis Robusta. Kopi ini ditemukan di tengah kebun-kebun dan tumbuh secara tidak di sengaja.
Komunitas yang berdiri sejak 2010 ini mengakui bahwa destinasi wisata alam di Gucialit perlu dipelihara oleh semua orang yang berada di sekitarnya.
Ialah Gucialit Organisasi Wisata Alam (g’owa). Komunitas ini bermarkas di Gucialit, Kecamatan Lumajang, Jawa Timur. Banyak cerita yang kami dapat dariteman-teman di sana, mengenai wisata alam yang mereka juga sedang kelola bersama warga.
Dalam perjalanannya di usia g’owa yang akan genap 17 tahun, mengalami sedikit kesulitan untuk mengajak warga peduli pada kebersihan dan perawatan lingkungan. Menurut Irawan dan Kiki pada suatu obrola, kesulitannya terletak pada pendekatannya ke warga, “Kesulitan kami adalah dibagian pendekatan awal dengan warga, kami sedang mencari strategi yang tepat untuk mendekatkan diri sehingga memudahkan semua kegiatan dengan melibatkan banyak orang di Gucialit ini”, ungkap Kiki.

Kiki, salah satu anggota g’OWA

Kami bertukar masukan dalam hal strategi pendekatan kepada warga. Pasirputih selama ini berusaha mendekatkan diri pada warga dengan cara-cara sederhana seperti sekedar ngopi, main bareng, mendengarkan curhatan yang kemudian ditulis, dengan pendekatan video dan lain-lain. Pasirputih berusaha mengajak semua pihak terlibat pada semua aktifitas, kegiatan dan program. Kami juga dalam pertemuan ini belajar banyak mengenai alam dari teman-teman g’owa.
Pertemuan pasirputih dengan g’owa merupakan pertemuan pertama untuk selamanya, pada malam yang dingin, kami asyik berdiskusi, beberapa saat terasa guncangan gempa, mungkin sekitar 5 atau 6 skala rickter. Sempat tanya ke taman-teman “apakah gempa ini sering terjadi atau memang ini tumben untuk beberapa tahun ini?”, mereka menjawab “Tidak terlalu sering, gempa kali ini mungkin tumben sejak setahun ini” jawab Ihwan. Pertanyaan itu timbul mengingat posisi kami berada pada kaki Gunung Semeru, gunung berapi tertinggi di Jawa.

Berbgai Souvenir Komunitas antara PasirPutih & g’OWA

Photo bersama sebelum berpamitan.

Pertemuan kami ini merupakan hajatan penting bagi pasirputih untuk memperluas jaringan. Pertemuan ini juga merupakan pertemuan pertama pasirputih dengan g’owa, kami berharap jaringan-jaringan ini mampu memberikan angina segar terhadap gerak berkomunitas dan kemudian saling mendukung untuk semua aktifitas. Terima kasih semua pihak yang terlibat pada tour pasirputih kali ini.

By |2017-05-29T17:52:05+00:00May 29th, 2017|Journals|2 Comments

About the Author:

mm
Ahmad Rosidi lahir di Makkah, 16 Maret 1989. Dhoom nama panggilannya. Ia menyelesaikan kuliash S1 di IAIN Mataram jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Selama berkuliah ia aktif di salah satu unit kegiatan mahasiswa bidang teater. Setelah itu, ia mendirikan Berugaq Pictures, sebuah inisiatif mahasiswa untuk mendalami media. Kemudian ia bergabung dengan Pasirputih sejak 2014. Keseriusannya membuatnya dipercaya menjadi sekretaris Pasirputih. Ia juga mengelola website BerajahAksara.

2 Comments

  1. Irawan August 17, 2017 at 3:10 pm - Reply

    Doakan awal tahun kami bisa bermain ksna

    • mm
      admin September 7, 2017 at 5:05 pm - Reply

      amieenn.. ditunggu kawan-kawan gOWA. Pintu PasirPutih terbuka bagi siapapun…

Leave A Comment