BerajahAksara: Safari Komunitas Di Kota Pahlawan

//BerajahAksara: Safari Komunitas Di Kota Pahlawan

23 Mei pukul 12:00 Wita. Keberangkatan Pesawat Citilink G556 Lombok-Surabaya. mengantarkan saya dengan Ahmad Rosidi berpijak ditanah Pahlawan (Kota Surabaya) untuk mengunjungi komunitas-komunitas kreatif sekaligus mengahdiri sebuah acara FGD (Forum Guest Discussion) yang digagas oleh  Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) bersama dengan British Council untuk memetakan potensi ruang Creative Hubs atau ruang kreatif baru di Indonesia dihajatkan dapat menemukan berbagai karakteristik wadah kreatif yang berbeda-beda, mulai dari visi pembentukan, aktivitas yang dilakukan, dan target pengguna.

focus group discussion ini bertujuan untuk mendalami tiga poin utama yaitu  1.Pandangan penggiat seni/kebudayaan mengenai definisi creative hub 2. Aktivitas utama yang dijalankan dan dikelola creative hub 3. Tantangan dan peluang pengelolaan Creative Hub di Indonesia. acara ini dilaksanakan di markas  C2O Library & Collabtive ialah sebuah  perpustakaan Dan Ruang Kerja Bersama (Coworking Space) yang ada di Kota Surabaya. Sekitar satu jam diatas awan, pesawat pun landing tepat pada pukul 12.05 Wib. Di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Mual dan agak sedikit kemeng (suara terdengar sangat kecil) kerana tekanan udara diatas 1800 mill dari daratan, sehingga kami pun beristirahat sejenak di Masjid At-Taqwa Bandara Juanda sembari mendirikan Sholat Dzuhur dan meregangkan otot karena tas yang kami bawa cukup berat. Kota Surabaya dari lansiran seorang kawan yang saya kenal diwarung nasi campur mengatakan bahwa :

Kota Surabaya kental dengan nilai kepahlawanan. Sejak awal berdirinya, kota ini memiliki sejarah panjang yang terkait dengan nilai-nilai heroisme. Istilah Surabaya terdiri dari kata sura (berani) dan baya (bahaya), yang kemudian secara harfiah diartikan sebagai berani menghadapi bahaya yang datang. Nilai kepahlawanan tersebut salah satunya mewujud dalam peristiwa pertempuran antara Raden Wijaya dan Pasukan Mongol pimpinan Kubilai Khan di tahun 1293. Begitu bersejarahnya pertempuran tersebut hingga tanggalnya diabadikan menjadi tanggal berdirinya Kota Surabaya hingga saat ini, yaitu 31 Mei. Heroisme masyarakat Surabaya paling tergambar dalam pertempuran 10 Nopember 1945. Arek-arek Suroboyo, sebutan untuk orang Surabaya, dengan berbekal bambu runcing berani melawan pasukan sekutu yang memiliki persenjataan canggih. Puluhan ribu warga meninggal membela tanah air

Peristiwa ini kemudian diabadikan sebagai peringatan Hari Pahlawan. Sehingga membuat Surabaya dilabeli sebagai Kota Pahlawan. Sejarah Surabaya juga berkaitan dengan aktivitas perdagangan. Secara geografis Surabaya memang diciptakan sebagai kota dagang dan pelabuhan. Surabaya merupakan pelabuhan gerbang utama Kerajaan Majapahit. Letaknya yang dipesisir utara Pulau Jawa membuatnya berkembang menjadi sebuah pelabuhan penting di zaman Majapahit pada abad ke – 14. Berlanjut pada masa kolonial, letak geografisnya yang sangat strategis membuat pemerintah Kolonial Belanda pada abad ke – 19, memposisikannya sebagai pelabuhan utama yang berperan sebagai collecting centers dari rangkaian terakhir kegiatan pengumpulan hasil produksi perkebunan di ujung Timur Pulau Jawa, yang ada di daerah pedalaman untuk diekspor ke Eropa.

photo bersama Beni di Artotel Hotel Surabaya

Dari penuturan Beni salah satu penggiat kesenian di Surabaya sekaligus sebagai salah satu Kurator Jakarta Biennale 2015. Ketika Mallaby memimpin pasukannya memasuki Surabaya pada 25 Oktober 1945 untuk melucuti tentara Jepang sesuai dengan isi Perjanjian Yalta. Tujuan ini mendapat perlawanan dari pasukan Indonesia karena Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) merupakan  pasukan Sekutu yang dikirim ke Indonesia setelah selesainya PD II untuk melucuti persenjataan balatentara Jepang dan membebaskan tawanan perang Dai Nippon. Serta, mengembalikan Indonesia kembali menjadi Hindia Belanda kekuasaan Belanda di bawah administrasi NICA (Netherlands Indies Civil Administration). menuntut mereka menyerahkan senjata-senjata yang telah dirampas pihak Indonesia terlebih dahulu dari Jepang.

Kemudian Timbullah beberapa konflik bersenjata antara kedua pasukan, yang salah satunya terjadi pada 30 Oktober 1945 di dekat Jembatan Merah, Surabaya. Mobil Buick yang ditumpangi Mallaby dicegat oleh pasukan dari pihak Indonesia sewaktu hendak melintasi jembatan. Dan terjadilah baku tembak yang berakhir dengan tewasnya Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tidak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil Mallaby akibat ledakan sebuah granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945.

Dhoom sedang melakukan dokumentasi

Surabaya sebagai Kota Pahlawan dan central perdagangan klasik meninggalkan begitu banyak bangunan-bangun tua, bahkan anyos (salah satu seniman/arsitek surabaya) dan beni  mengajak kami berkeunjung kebeberapa titik yang dianggap bersejarah. Semacam “Wisata Sejarah Malam” . pertama kami diajak untuk melihat Museum House Of Sampoerna Surabaya. Ialah  sebuah museum yang terletak di Surabaya lama. Bangunan yang bergaya kolonial Belanda dengan 4 pilar besar yang bertengger di depan gedung utama. Bangunan megah bergaya kolonial Belanda yang dibangun sekitar tahun 1862. Saat ini merupakan situs bersejarah yang dilestarikan. Awalnya bangunan ini merupakan panti asuhan putra yang dikelola oleh pemerintah Belanda. Lalu, bangunan ini dibeli oleh Liem Seeng Tee pendiri Sampoerna pada tahun 1932 dan dijadikan tempat pertama produksi rokok Sampoerna.

Beni, Ayos dan Dhoom sedang diskusi di Museum House Of Sampoerna

Setelah mengambil beberapa gambar dimuseum, kami berpindah pada sebuah pameran yang ada disamping bangun kuno tersebut, kami disuguhkan dengan sebuah pameran kolaboratif antara pengeloala musium house of soempoerna dengan beberapa mahasiswa disebuah perguruan tinggi disurabaya. Kemudian kami mengunjungi Pameran Tunggal Seni Rupa oleh Toyib Syamsar di Galeri Prabangkara (salah satu gedung di UPT. Taman Buadaya Jawa Timur) dengan tema “non pigora” yang menampilkan beberapa experiment berbahan dasar karung goni, batik modern, styrofoam dan yang lainnya.

Pameran Tunggal Seni Rupa oleh Toyib Syamsar di Galeri Prabangkar

Dalam setiap perjalanan saya disuguhkan dengan berbagai macam hiruk-Pikuk Kota Surabaya. mulai dari potensi perputaran ekonomi yang sangat tinggi karena disetiap sudut jalan terdapat pedagang-pedagang, mulai dari makanan sampai dengan dangan kecil lainnya yang menggunakan sepeda ontel. Namun tidak dielakan bahwa bangunan tua (retro) yang menurut saya sangat eksotik dan memanjakan mata. tidak lupa sebagai kota dengan kuantitas imigran pekerja domestik, saya merasakan bahwa  kota surabaya cukup sering terjadi macet jika dibanding dengan kota mataram.

Photo Bareng. di Ruang Kreatif Serikat Mural Surabaya

Serikat Mural Surabaya /sekretariat “Bunuh Diri Room”

Karya X GO

Pada kesempatan ini pun kami mengunjungi sebuah komunitas mural yang bernama Serikat Mural Surabaya yang diketuai oleh X GO W (NAMA oRANG) ialah seorang muralis urabay yang eksis hingga sekarang dengan komunitasnya sejak 2003. X GO merupakan salah satu seniman mural yang keren dan sangat sederhana. Dari penuturannya. Karya Karakter mural yang ia buat lebih pada karater anak-anak dengan kompilasi pemaknaan tertentu, X Go dalam terapannya menggunakan warga sebagai obyek utama. Ia menganggap bahwa warga adalah unsur yang penting untuk dapat memberikan gagasan, inovasi dan bentuk-bentuk baru dalam karyanya. Maksudnya, pola pengkaryaan yang dilakukan oleh kawan-kawan serikat mural surabaya ini ialah merespon relitas yang terjadi disekitarnya dengan menyelipkan pesan tertentu dan terkadang menambahkan caption pada beberapa karyanya. Pertemuan kami dengan X GO cukup berarti bagi saya, karena selain berbagi pengalaman, kami juga berbagi karya, seperti buku, flayer dan beberapa setiker komunitas.

Pedagang Rawon Surabaya

Ketika kami menuju arah kembali ke Artotel hotel surabaya, kami pun menikmati se-porsi rawon dan pecel telur dadar dipinggiran jalan Kota Surabaya yang dibubuhi alunan musik para pengamen yang silih berganti datang untuk mempersembahkan khas musik mereka masing-masing kepada para pembeli yang cukup ramai mengitari pedagang rawon tersebut. sehingga kami pun kembali ke hotel untuk bersitirahat.

dari kiri (Beni, Ijtihad, Jimpe, Ayos dan dhoom: photographer) ngobrol santai

Diperjalanan tadi, anyos telah dihubungi ole hsalah satu peserta FGD yang sudah berada dihotel. Ia adalah jimbe, seorang seniman dari makasar, ia juga sala satu kurator jakarta biennale 2015 kawan akrabnya beni dan anyos. Dicafe hotel, kami berbincang seputar perkembangan seni dan gagasan-gagasan kesenian yang ada didaerah masing-masing sembari menceritakan pengalaman-pengalaman yang lain.

 

By |2017-05-29T15:20:02+00:00May 24th, 2017|Journals|0 Comments

About the Author:

mm
Ahmad Ijtihad lahir 5 Desember 1992, di Dusun Kebun Indah, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Ia merupakan mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, di UIN Mataram. Selama ini ia aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan di desanya. Ia menggagas Komunitas Anak Rumput. Sejak satu tahun terakhir aktif di Pasirputih. Kini ia dipercaya sebagai director program BerajahAksara.

Leave A Comment