Fragmen Sejarah Makam Sesela

//Fragmen Sejarah Makam Sesela

Sosok Dewi Sungkarwati yang lebih dikenal dengan sebutan Dende Siti Fhatimah adalah seorang putri dari Kerajaan Hindu yang konon menghilang dan meninggalkan jejak kaki diatas sebuah batu dikawasan Desa Sesela, tepatnya di kawasan tanah yang saat ini menjadi tempat pemakaman umum ummat muslim Sesela. Tidak banyak orang yang tahu siapa sebenarnya sosok si Dewi Sungkarwati ini, dikarenakan informasinya masih melalui cerita rakyat (dari mulut ke mulut) hal ini dikarenakan tidak adanya hal-hal yang berkaitan tentang siapa yang pertama menerima dan mengetahui informasi mengenai keberadaan makam ini, menurut para sesepuh dan para tokoh sesela,  sebagian dari mereka sering mencari informasi melalui spritual yang konon sebagian mereka akan didatangi melalui mimpi dan  bertemu dengan sosok  yang diyakini sebagai wujud Dewi Sungkarwati atau Dende Siti Fathimah. seperti Drs. Tgh. Munajib Khalid  (ulama’ Sesela) yang mendapatkan informasi tentang nama asli Dende Siti Fathimah serta  latar belakang hilangnya sang putri tepat dibatu yang diyakini oleh beliau sebagai Batu Sela, informasi ini beliau dapatkan dari seseorang yang mengenakan baju dan sorban serba putih pada saat beliau munajat di makam para wali (sahabat Rasul yang gugur diperang badar). Dari sekian wacana yang muncul mengenai dende siti fathimah maka pada intinya akan menjadi catatan sejarah yang harus menjadi pengetahuan bukan hanya untuk masyarakat sesela, tapi juga untuk semua orang yang ingin mengetahui sosok dewi sungkarwati.

Makam Dende Siti Fatimah

Namun Kini sudah beberapa abad berlalu pasca peristiwa  menghilangnya dewi sungkarwati , ternyata  masyarakat  masih mengenang peristiwa tersebut. Namun  bangunan makam seolah tidak terurus dengan baik, dikarenakan secara pisik bangunan terebut terlihat sudah sangat rapuh.  Sangat disayangkan bangunan yang dibuat sebagai teras oleh pemerintah desa sangat modern secara kualitas bangunan memang sangat jauh lebih kuat dan kokoh dibandingkan bangunan awal makam, tapi terlihat sekali sangat jauh dari kesan seni dan unsur clasik seperti yang ada pada infrastruktur bangunan Gapura  yang menjadi gerbang utama untuk masuk kedalam makam. tidak heran memang jika ada ungkapan pepatah yang mengatakan “ Gajah di Pelupuk Mata Tidak Terlihat Dan Semut Diseberang Lautan Sangat Jelas” , makam sebagai  aset sejarah namun seolah tak ada. Padahal jika makam ini diperbaiki dan dibuat dengan bangunan clasik seperti bangunan awal,  serta dibuatkan seperti papan informasi tentang sejarah makam agar semua orang tidak hanya kemakam hanya untuk bertawassul tapi mampu mengedukasi masyarakat. Hal ini juga sebagai daya tarik wisatawan  untuk menggali informasi ke makam sang dewi, supaya wisatawan tidak hanya fokus kepasar seni sesela. Ini penting agar semua potensi sesela dapat dimunculkan kemuka publik, serta meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya pedagang kecil sesela dan umumnya para pengusaha yang lebih memilih ke gili terawangan, senggigi dan bali. Karena menganggap perputaran ekonomi disesela monoton, hal ini disadari oleh semua pihak baik para ulama’, umara’, agniya’, pemuda dan para kaum sarungan yang ada disesela, namun tidak adanya sebuah gerakan reprentif untuk menangani masalah ini. Yang akhirnya bedampak pada pertumbuhan ekonomi yang semakin tidak Stabil ditengah-tengah masyarakat baik dilingkungan Desa Sesela dan umumnya di Kecamatan Gunungsari.

Papuq Mahyon, Penjaga Makam Sesela

Setelah menelusuri sejarah sosok dewi sungkarwati dan makamnya, ada hal yang menarik yang coba Crew Lokakarya BerajahAksara gali  informasinya mengenai penjaga makam sang dewi sungkarwati. Menurut penuturan penjaga makam sekarang, ada sekitar empat generasi yang mengabdikan dirinya untuk menjaga makam dewi sungkarwati ini (sang penjaga makam), diantaranya Periode Pertama, penjaga makam sang Dewi adalah Amaq Kamar beliau  menjaga makam  sekitar tahun 1900-1925 M, pada Periode Kedua, kemudian digantikan oleh H. Kamar (keturunan dari Amaq  Kamar) sekitar tahun 1925-1935 M, Periode Ketiga, sepeninggal h.kamar lalu beliau digantikan oleh anaknya H. Ahmad sekitar tahun 1935-1967 M, Periode Keempat, dilanjutkan oleh saudaranya yaitu amaq iyon (papuk mahyon) beliau menjaga makam sekitar tahun 1967 M  hingga sekarang. Menariknya tidak banyak orang tahu alasan mereka mengabdikan diri untuk menjaga makam tersebut selama bertahun-tahun, namun menurut  Amaq  Yon (Papuk Mahyon) sebagai sang pejaga makam terakhir yang  masih eksis dan  bertahan , ia mengatakan  “ alasan para penjaga makam mengabdikan diri sebagai penjaga makam selama bertahun-tahun bukan karena perintah dari siapapun, melainkan kami diminta langsung oleh dewi sungkarwati untuk menjaga makamnya melalui mimpi “.  Mereka inilah sosok yang selalu merawat seluruh lingkungan makam baik kebersihan serta  memfasilitasi seluruh kebutuhan para jama’ah yang mengantarkan keluarga mereka kemakam sang dewi sebelum berangkat ke tanah suci.

Hal ini sangat wajar, karena umunya masyarakat Lombok khususnya masyarakat Desa Sesela masih memiliki keyakinan bahwa ada kekuatan Supranatural dari makam-makam  kuno yang ada di Pulau Lombok termasuk makam Dewi Sungkarwati yang ada di Sesela. Mungkin tidak banyak yang tahu , bahwa bukan hanya makam dende siti fathimah yang menjadi icon kebesaran peradaban  islam dan budaya di sesela tapi juga beberapa benda bersejarah  lain yang ditemukan crew lokakarya berajahaksara diantaranya : sisa bangunan dasar masjid nurussalam (seperti. 3 tiang dan kubah yang terbuat dari kayu), piagam sesela (yang terbuat dari kuningan yang masih menggunakan bahasa sangsekerta), akta wakaf  masjid nurussalam  (berbentuk lontar menggunakan bahasa sangsekerta), keris pusaka makam, sketsa wajah dewi sungkarwati dan masih banyak lagi yang mungkin belum ditemukan. dan sangat disayangkan semua benda-benda bersejarah ini sebagian dimiliki oleh individu dan kelompok tertentu baik yang ada disesela ataupun diluar sesela. Seolah masih sangat kuat di ingatan kita apa yang pernah disampaikan Presiden Pertama RI Ir.Soekarno tentang “ bagaimana seorang bangsa yang besar adalah diukur dari sejauh mana ia menghargai sejarah “ ,  termasuk benda-benda yang menjadi saksi sejarah peradaban masa lalu. Sejarah memang sangat ampuh untuk membentuk masa depan yang lebih baik, karena dengan sejarah kita akan mengetahui kekurangan dan kelebihan masa depan. Mengingat sejarah erat kaitannya dengan pemenfaatan waktu, orang yang belajar sejarah seringkali lebih menghargai waktu dibandingkan orang yang skeptis (ragu-ragu) terhadap sejarah.disamping itu juga sejarah adalah sebagai akses pembelajaran bagi kaum-kaum intelektual yang ingin mengetahui detail dari sebuah keberadaan manusia, mengingat sejarah akan mendatangkan banyak Inspirasi (ilham) dan semangat untuk menjadi lebih baik lagi. Secara tidak langsung dengan Mengingat sejarah akan memberikan ketegasan identitas sebuah daerah, karena dengan adanya sejarah maka lahirlah sebuah karakter dan kpribadian secara turun-temurun. Dan yang terakhir sejarah sebagai wadah hiburan untuk masyarakat karena banyak hal menarik yang membuat orang akan penasaran untuk mengetahui kemajuan ummat manusia dari masa ke masa.

Artikel ini bukan untuk menyindir siapapun, melainkan sebagai bahan evaluasi terutama bagi generasi penerus yang ada di desa sesela, agar lebih memperhatikan jejak-jejak dan bebrapa situs sejarah sebagai bahan pembelajaran bermasyarakat demi terciptanya suasana Madani seperti pada saat Rasulullah SAW menguasai Madinah dan Makkah. Dan ini adalah  langkah awal crew lokakarya berajah aksara untuk membangun musium khusus desa sesela, yang akan menampung semua situs sejarah yang hari ini masih berada dibeberapa tempat. Hal ini selain menjadi PR juga menjadi tantangan bagi generasi hari dan selanjutnya untuk melanjutkan cita-cita para leluhur yang ada di Sesela.

Tulisan ini juga sangat jauh dari kata sempurna jika ada susunan kata yang kurang tepat, mohon agar dimaklumi. Tunas ampure agung-agung Karena penulis masih dalam tahap mubtadiin. Salam ampure.

By | 2017-05-08T17:28:57+00:00 May 8th, 2017|Journals|1 Comment

About the Author:

mm
Sabri Subky lahir di Dusun Kebun Indah 12 Oktober 1992 . Ia adalah seorang Mahasiswa UIN Mataram jurusan Hukum Islam. pernah menjadi Ketua Rayon Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), selain itu ia juga sebagai inisiator Berdirinya SNIPER sebagai Kelompok Paguyuban Pemuda, G21 dan Sanggar Kebun Indah, selain itu Ia juga pernah Menjabat sebagai ketua Remaja Masjid Al-Halimy Dusun Kebun Indah. Sabri adalah penggerak Pemuda Dusun Kebun Indah, Desa Sesela Kec. Gunung Sari.

One Comment

  1. Andy May 9, 2017 at 11:34 am - Reply

    mari bangkit masyarakat sesela….
    Belajar dari sejarah biar menjadi desa yg amanah….

Leave A Comment