“Dia” Perempuan Sesela

//“Dia” Perempuan Sesela

Warga Desa Sesele begitu akrab dengan nama Dende Siti Fatimah. Menurt kisah yang beredar di tengah warga, Ia adalah seorang putri dari Raja Selaparang, Lombok Timur. Beredar juga cerita warga, bahwa nama sesungguhnya dari Dende Siti Fatimah adalah Dewi Sungkarwati. Konon, Dewi Sungkarwati datang ke Sesele bersama rombongan kerajaan Selaparang lalu menghilang, dan tidak ditemukan hingga sekarang. Karena rasa ingin tahu ini, menjadi alasan kenapa saya membuat tulisan mengenai kisah singkat Dende Siti Fatimah.

Hari ini, tepatnya Jumat, 5 Mei 2017, pukul 10:03 dengan cuaca yang sedikit mendung, saya berjalan menuju rumah salah seorang yang pernah menjaga Makam Sesela, yaitu Papuq Isah, yang kebetulan juga adalah papuq ku (nenekku) dari keluarga Almarhum kakekku. Sesampai di sana, saya tidak langsung bertemu dengan Papuq Isah, melainkan dengan cucu beliau yaitu Tuaq Mugni. Saya pun mengucap salam, dan beliau menjawab sambil menatap lam. Dalam hati saya berfikir mungkin beliau tidak mengenali saya, dan ternyata benar.

Tuaq Mugni : “Ee… Ulan! Ndeq ku tandaq pok komu. Paranku mbak-mbak tukang tageh Bank no beruq. Epe araq ne Ozi?” (Oh… Ulan! Saya tidak mengenalimu. Saya pikir mbak yang sering datang tagih uang dari bank. Ada perlu apa ini, Ozi’?). Oh… Ya, nama Ozi’ itu adalah panggilanku dulu waktu kecil.

Sambil tersenyum malu, saya menjawab, “Aoq yeq. Mbe Papuq Isah?” (Iyah… Apakah Nenek Isah ada?)

Sambil menjelaskan maksud kedatangan saya, akhirnya beliau pun mengajak saya bertemu dengan Papuq Isah. Setelah bertemu, ternyata Papuq isah tidak mengingat tentang Sang Dende. Maklum saja, usia beliau sudah amat tua, sekitar 90 tahun ke atas. Alhasil, saya tidak mendapatkan apa-apa dari beliau.

Kemudian saya beranjak pulang dan menuju ke kediaman Papuq Leleh. Beruntungnya, beliau sedang duduk santai waktu itu. Beliau bertanya tentang maksud kedatangan saya, dan saya pun menjelaskannya. Akhirnya beliau bercerita panjang tentang Dende Siti Fatimah.

Makam Dende Siti Fatimah (Menurut Warga: Tempat moksa-nya Sang Putri)

Dende Siti Fatimah adalah seorang Putri Raja Selaparang, Lombok Timur. Hal itu beliau ketahui saat pergi ke Makam Selaparang untuk berzikir. Saat itu Sang  Juru Kunci makam, berkata bahwa makam nunggal yang di Selaparang itu adalah makam Sang Raja Selaparang yang merupakan abah sang Dende Siti Fatimah. Tetapi, Pemangku Makam tidak memberitahukan nama raja tersebut.  Pemangku makam hanya memberitahukan, bahwa Sang Raja dahulu adalah seorang Pengamar (orang yang menyebarkan Agama Islam), dan pernah pergi ke Makasar untuk menyebarkan agama islam. Tidak jauh dari makam Sang Raja, terdapat 3 makam yang merupakan makam para patih Raja Selaparang.

Kembali ke Dende Siti Fatimah. Sang Pemangku makam mengatakan bahwa Dende Siti Fatimah menghilang (moksa) di Desa Sesele, bukan meninggal dunia. Ini artinya bahwa sewaktu-waktu Dende Siti Fatimah bisa muncul kembali, bahkan sampai sekarang. Dende Siti Fatimah memiliki rambut yang sangat panjang sampai dia tidak bisa memegangnya. Sehingga selalu digelantungkan di gegele (galah). Pada saat Raja Agung yang beragama Hindu dari Bali datang ke Sesele, Raja tersebut ingin menikah dengan Dende Siti Fatimah.

Dende Siti Fatimah pun mau menikah, dengan syarat raja tersebut memenuhi permintaan Dende siti Fatimah. Persyaratannya ialah Sang Raja harus masuk Islam, dan menghibahkan tanahnya kepada masyarakat, diantaranya tanahnya yang sekarang disebut Gunung Pedewa-Kecamatan Batu Layar- dan tanah yang di sekitar Masjid Jamiq Nurussalam Desa Sesela. Dan di gunung tersebut banyak tumbuh pohon kelapa. Pohon kelapa tersebut diperuntukkan bagi warga masyarakat yang datang salat Jumat ke Masjid Jamiq Nurussalam Sesela. Sebelum masuk waktu salat Jumat, biasanya warga membuat acara mengkele (makan bersama) dari hasil pohon kelapa tadi. Dan Setelah adanya perjanjian hitam diatas putih, akhirnya mereka pun menikah. Belum sempat ada hubungan dengan Raja, Dende Siti Fatimah pun menghilang.

Dahulu, di jalan yang sekarang dinamakan dengan jalan Dende Siti Fatimah-jalan yang menghubungkan Dusun Bile Tepeng dan Dusun Kebon, adalah jalan yang sering dilewati oleh Dende Siti Fatimah. Sering sekali warga mendengar atau menemukan dokar/delman bertirai. Disinyalirlah dokar/delman itu dikendarai oleh Dende Siti Fatimah. Itulah alasan, kenapa jalan tersebut dinamakannya dengan Jalan Dende Siti Fatimah.

Tembok pembatas Pemakaman Sesela

Di tahun-tahun sebelumnya, sebelum dibatasinya lahan pemakaman dengan tembok, juga sering kusir-kusi cidomo yang berhenti di makam. Menurut cerita, mereka sedang mengantar seorang perempuan, dan disuruh menunggu untuk diberikan upah oleh perempuan tersebut. Orang-orang yang melintasi jalan dan melihat kusir dokar tersebut bertanya kenapa kusir, mengapa berhenti disana? Kusir itu menjawab “Saya mengantar seorang perempuan. Tadi turun disini. Sekarang dia menyuruh saya untuk menunggu”.Orang yang bertanya pun memberitahu bahwa itu adalah penunggu makam, kemudian menyuruh kusir untuk pulang.

Setelah pulang, banyak cerita mengatakan bahwa kusir yang pernah mengantar Dende Siti Fatimah itu, menjadi orang yang memiliki perekonomian bagus.  Dan itulah kepercayaan masyarakat Desa Sesele, bahwa jika bertemu dengan Dende Siti Fatimah maka perekonomian orang itu akan maju.

Belum cukup sampai disini. Saya pun mendapat informasi bahwa ada seseorang yang pernah bertemu dan berbincang, bahkan sering didatangi oleh Dende Siti Fatimah. Akhirnya saya pun mencari orang tersebut. Dia adalah Inaq (Ibu) Siti. Usianya sekitar 42 tahun. Beliau dari Dusun Kebun Indah dan menikah dengan Amaq (Bapak) Kamil dari Dusun Kebon. Saat itu, saya mendatangi Inaq Siti sekitar pukul 11:09 WITA.  Tetapi saya tidak bertemu, dikarenakan Inaq Siti sedang berjualan di Pasar Lendang Bajur, Kecamatan Gunungsari. Biasanya Inaq Siti pulang sekitar jam 12 siang. Lalu saya pun beranjak pulang.

Kemudian saya kembali lagi mendatangi Inaq Siti sekitar pukul 16:35 WITA. Kali ini saya ditemani teman saya Siti Suhartinah. Alhamdulillah, saya bertemu dengan Inaq Siti. Saya menjelaskan maksud serta tujuan kedatangan saya, sampai akhirnya beliau bercerita masa-masa pertemuannya dengan Dende Siti Fatimah.  Dalam dialog antara saya dengan Inaq Siti, beliau menceritakan secara detail wajah, tubuh serta pakaian yang dikenakan oleh Dende Siti Fatimah. Tetapi tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa wujud dan pakaian Dende Siti Fatimah berbeda-beda.  Dalam cerita Inaq Siti waktu itu, beliau masih duduk dikelas 2 SD. Dende Siti Fatimah berwajah cantik, putih langsat warna kulitnya dengan pakaian kebaya berwarna kuning, sarung batik bermotif tulang nangka  serta rambutnya yang panjang. “Tetu inges wah!(Benar-benar cantik), ucap Inaq Siti.

Dan memang, Dende Siti Fatimah selalu indentik dengan rambutnya yang sangat panjang. Apalagi saat-saat langerang (berkeramas dengan menggunakan santan/minyak kelapa), kata Inaq Siti, pernah dilihat oleh Alm. Papuq Kamar, yang merupakan penjaga Makam Sesele waktu itu. Maka Alm. Papuq Kamar terlihat rambut Dende Siti Fatimah yang sangat-sangat panjang. Dende Siti Fatimah selalu menggantungkan rambutnya di gala dan duduk dibawah pohon Jamplung/Nyamplung. Tapi sayang, sekarang pohon tesebut sudah tidak ada.

Menurut saya, kisah Dende Siti Fatimah yang saya dengar dari beberapa orang tersebut, merefleksikan perempuan Sesela yang seharusnya seperti beliau, dengan filosofi keanggunan dan kecantikannya. Perempuan Sesela seharusnya memiliki keanggunan perilaku seperti anggunanya Dende Siti Fatimah. Warna kulit yang putih menandakan kesucian dan warna kebaya yang kuning menandakan kehangatan, keakraban dalam bergaul. Sosok Dende Siti Fatimah setidaknya mampu memberikan pesan, bahwa perepmuan Sesela harus cantik, baik lahir maupun batin. Sehingga dapat menaggambarkan bahwa Sesela merupakan desanya para putri raja.

Aula Pemakaman Sesela

Bangunan makam Dende Siti fatimah (namak depan)

Makam Dende Siti Fatimah dan beberapa Ceret yang digunakan untuk memanjatkan doa (bertawassul) oleh para peziarah.

By |2017-05-07T07:37:39+00:00May 6th, 2017|Journals|1 Comment

About the Author:

Ulan Hadiyati. lahir 11 Juli 1996. Merupakan mahasiswa aktif di Universitas Mataram (UNRAM). Saat ini menjadi pendidik di PKBM Ceria Desa Sesela, selain itu ia juga remaja yang aktif dibidang sosial pendidikan di dusunnya.

One Comment

  1. Ahmad iskandar February 4, 2018 at 8:44 pm - Reply

    Saya mau tau banyak ttg sejarah sang dewi? Apa masih ada ulasan yg lebih dalam lagi?

Leave A Comment