Sekelumit Kisah Si Ahli Bahasa

//Sekelumit Kisah Si Ahli Bahasa

“Pas no beruqku lulus SD. Kan oku bekedek aning Bandara Rembige, terus gitaqku dengan lokal ne. Dengan lokal ini ye ngeraos kence turis. lengan no ku penasaran. Behese epe keq kodune sik dengan ini  ne? Ye lanteh jamaq ngeraos kence turis”
Suatu ketika saya pergi ke Bandara selaparang (Bandara lama) rembiga, saya melihat orang lokal sedang berbincang dengan seorang turis, kemudian saya bertanya-tanya, bahasa apa yang mereka gunakan untuk berkomunikasi.” (Kisah awal Mr. Sapi’in mengenal Bahasa Inggris)

***

Setelah berkumndangnya Adzan Magrib di Masjid Jami’ Nurussalam Sesela, kami pun  bersitirahat sejenak, setelah berkeliling menyelesaikan pengambilan gambar di beberapa titik lokasi di sekitar Desa Sesela, sesuai dengan kesepakatan kami tadi malam. Tak lama kemudian, Siba mengajakku ke kediaman seorang master Bahasa Inggris, tempat di mana ia pernah mengikuti kursus dulu, sekitar tahun 2005. Sang Master bernama Tuaq Sapi’in atau lebih akrab disapa Mr. Pi’in. Beliau adalah  seorang warga Dusun Bile Tepeng, Desa Sesela, Kecamatan  Gunungsari, Lombok Barat.

Kisah awalnya jatuh cinta dengan Bahasa adalah, manakala suatu ketika, saat itu Sapi’in baru saja lulus dari sekoah dasar, sebelum ia kemudian melanjutkan kejenjang pendidikan berikutnya yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP), sekitar tahun 1983. Saat itulah ia menyadari bahwa bahasa yang digunakan untuk berbincang dengan turis, adalah Bahasa Iggris. Saat mulai masuk SMP, karena Bahasa Inggris merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, Mr. Pi’in sangat tekun mempelajari Bahasa inggris. Bahkan pada saat menduduki kelas pertama di SMP,  ia telah mampu berbincang dengan turis menggunakan Bahasa Inggris.

Mr. Sapi’in, sang ahli Bahasa dari Desa Sesela.

Mr. Pi’in telah mendirikan sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris di Dusun Bile Tepeng sejak tahun 2004.  Beliau menamakannya dengan MAYA ENGLISH AND SURFING COURSE. Lembaga tersebut merupakan sebuah lembaga non-formal yang ia buat untuk memberikan pendidikan Bahasa Inggris kepada para pemuda Dusun Bile Tepung. Hal ini didasar karena keprihatinan beliau melihat keadaan pemuda dengan lapangan kerja, yang menuntut pelamarnya mampu berbahasa Inggris.

Menurut Mr. Pi’in, bahwa pelajaran Bahasa Inggris dibangku sekolah, tidak sepenuhnya mampu membuat siswa mengerti dan memahami Bahasa Inggris, apalagi sampai mampu berbicara dengan Bahasa Inggris dengan lancar. Karena menurutnya, banyak siswa yang diadajarkan berbahasa dengan metode yang keliru. “Dalam mempelajari Bahasa Inggris, yang pertama kali ditanamkan oleh guru adalah pemahaman tentang grammer. Bukan menghafal seperti yang diterapkan di sekolah-sekolah. ”,  tegas Mr. Pi’in sembari memberikan gambaran tentang strategi yang ia gunakan dalam proses belajar mengajar di tempatnya.

Ia berpendapat bahwa penekanan dalam mempelajari Bahasa Inggris, terletak pada pemahaman dan pengalaman berbahasa. Sehingga dalam proses pengajarannya Mr. Pi’in seringkali mengajak siswanya melakukan study tour ke beberapa lokasi wisata, seperti Gili Terawangan, Senggigi dan Kuta Lombok. Hal ini merupakan refleksi dari pribadi Mr. Pi’in yang mempelajari Bahasa Inggris secara autodidak, hingga ia mampu berbahasa dengan baik.

Lembaga kursus yang dididirikan Mr. Pi’in, berlokasi dirumahnya sendiri, dengan ruang tamu menjadi aula utama bagi para siswa yang mengikuti kursusnya. Pada tahap awal membuka kursus, Mr. Pi’in menarik bayaran kepada setiap siswanya sejumlah Rp. 15.000,-/bln. Namun setelah berjalan 13 tahun, kini ia memberikan tarif sebesar Rp. 250.000,-/bln, dengan alasan tingginya biaya hidup. Itupun akan berbeda jika yang datang dari kalangan keluarga sederhana. Ia sering membebaskan bayaran bagi warga yang kurang mampu.

Membicarakan prestasi, sebagai seorang guru yang berbagi tentang  pemahaman, pengetahuan dan pengalaman, Mr. Pi’in bisa dikatakan sangat sukses membimbing para siswanya. Terutama para pemuda yang berdomisili di Dusun Bile Tepung. Dari penuturannya, hampir 95% dari  pemuda yang kurusus ditempatnya, telah bekerja disektor pariwisata. Karena  90% materi ajar Bahasa Inggris yang diajarkan oleh Mr. Pi’in, adalah Bahasa Inggris yang biasa dimanfaatkan di sektor pariwisata dan 10% merupakan Bahasa Inggris pendidikan yang digunakan untuk disekolah.

Sejumlah siswa yang kursus di Maya English Course tidak hanya berasal dari Dusun Bile Tepeng atau dari Desa Sesela saja, melainkan banyak pula yang berasal dari sekitaran Kota Mataram dan Kecamatan Gunungsari. Proses pengajaran yang dilakukan Mr. pi’in bersama siswanya, berlangsung selama 3 – 5 bulan. Strategi pengajaran yang dilakukan oleh Mr. pi’in adalah dengan memberikan pemahaman berbahasa Inggris (grammar) di bulan pertama, kemudian di bulan dijarkan bagaimana berbicara (speaking) dengan Bahasa Inggris.

Saya merasa bahwa pendidikan Bahasa Ingris sangat penting untuk dipelajari, karena Bahasa Igrris adalah kebutuhan warga Lombok untuk mengimbangi perkembangan pariwisata. selain itu, Lombok diklaim dan mendapat predikat baru dalam dunia wisata, yakni Wisata halal dan Wisata Syariah yang tidak menutup kemungkinan, bahwa wisatawan mancanegara mulai tertarik untuk mengunjungi Lombok, sebagai salah satu destinasi wisata dunia. Karena Mr. Pi’in juga merupakan penggiat wisata yang seringkali mendapat pekerjaan di Tiga Gili (Gili Trawangan, Gili Meno Dan Gili Air), sehingga ia juga menganjurkan kepada semua pemuda, khususnya pemuda Desa Sesela untuk lebih tekun mempelajari Bahasa Inggris. Sebab tidak menutup kemungkinan, setiap kita, akan berhubungan dengan orang dari luar negri, entah untuk sekedar menanyakan alamat.

Selain membuka kursus, Mr. Pi’in juga berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di beberapa sekolah formal. Sesekali waktu ia juga memberikan pengajaran kepada sekumpulan pemuda, yang secara khusus ia bimbing. Mr. Pi’in menceritakan bahwa ia pernah mengajarkan 40 orang pemuda dari Dusun Kebon Bawak, Desa Sesela. Dalam waktu sekian bulan, para pemuda tersebut mampu berbahasa Inggris dengan baik. Sampai akhirnya 40 pemuda tersebut mendapatkan pekerjaan dengan kemampuan berbahasa tersebut.

Saya mengakui pula bahwa Mr. Pi’in merupakan seorang tokoh Bahasa Inggris yang dimiliki oleh Desa Sesela. Tokoh bahasa yang memberikan pengajaran kepada pemuda, tidak hanya di Dusun Bile Tepeng saja, tapi hampir semua pemuda di Sesela, bahkan dari luar Seseal. Untuk ukuran saat ini, hampir 95% pemuda di Dusun Bile Tepeng mampu berbahasa Inggris dengan baik. Serta kebanyakan dari mereka telah bekerja di sektor pariwisata.

Muhammad Sibawaihi dan Mr. Pi’in

Pertemuan saya, Muhammad Sibawaihi dengan Mr. Pi’in memberikan banyak hal kepada saya. Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk mengalah dan menyerah. Mr. Pi’in sebagai contoh insfiratif mampu memberikan pengetahuan berbahasa Inggris kepada pemuda di sekitarnya walau dengan kondisi yang kurang seperti yang lain. Namun Mr. Pi’in tidak menjadikan itu sebagai alasan untuk diam dan menghardik diri, akan tetapi tekad beliau untuk dapat melihat pemuda Dusun Bile Tepeng memilki mata pencarian yang layak.

Untuk diketahui, Mr. Pi’in tidak hanya mampu berbicara Bahasa Inggris dengan baik saja, namun beliau juga menguasai tiga dialek Bahasa Ingrris yakni British, American dan Australian English. Selain itu, beliau juga bisa dengan fasih berbicara dalam Bahasa Jepang, Belanda, Spanyol, Italia, Jerman dan Francis.

By | 2017-05-07T08:32:45+00:00 May 5th, 2017|Journals|0 Comments

About the Author:

mm
Ahmad Ijtihad lahir 5 Desember 1992, di Dusun Kebun Indah, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Ia merupakan mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, di UIN Mataram. Selama ini ia aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan di desanya. Ia menggagas Komunitas Anak Rumput. Sejak satu tahun terakhir aktif di Pasirputih. Kini ia dipercaya sebagai director program BerajahAksara.

Leave A Comment